Pertumbuhan transformasi digital mendorong peningkatan kebutuhan infrastruktur pusat data secara signifikan. Cloud computing, artificial intelligence (AI), big data analytics, dan layanan digital publik mempercepat ekspansi data center di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.
Menurut laporan International Energy Agency (IEA) tahun 2023, data center secara global mengonsumsi sekitar 240–340 TWh listrik per tahun atau sekitar 1–1,5% dari total konsumsi listrik dunia. IEA juga mencatat bahwa pertumbuhan beban kerja berbasis AI berpotensi meningkatkan konsumsi energi pusat data secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan apabila tidak diimbangi dengan peningkatan efisiensi.
Di sisi lain, laporan Uptime Institute Global Data Center Survey menunjukkan bahwa biaya energi menjadi salah satu komponen operasional terbesar dalam pengelolaan data center modern. Kombinasi antara kenaikan tarif energi dan peningkatan densitas server membuat efisiensi energi bukan lagi isu teknis semata, melainkan isu strategis bisnis.
Dalam konteks ini, konsep Green Data Center menjadi semakin relevan. Bukan sekadar tren keberlanjutan, tetapi strategi efisiensi operasional, pengendalian biaya jangka panjang, serta dukungan terhadap agenda ESG (Environmental, Social, and Governance).
Lalu, bagaimana kaitan Green Data Center dan SNI 8799 sebagai standar pusat data Indonesia?
Apa Itu Green Data Center?
Green Data Center adalah pendekatan desain dan pengelolaan pusat data yang berfokus pada:
- Efisiensi energi data center
- Optimasi sistem pendinginan
- Pengurangan jejak karbon
- Monitoring dan capacity planning berbasis data
- Manajemen pusat data yang berkelanjutan
Salah satu indikator utama dalam mengukur efisiensi energi data center adalah PUE (Power Usage Effectiveness), metrik yang diperkenalkan oleh The Green Grid.
Menurut laporan Uptime Institute tahun 2023, rata-rata global PUE data center berada di kisaran 1,55–1,60. Sementara itu, fasilitas hyperscale dengan desain efisiensi tinggi dapat mencapai PUE mendekati 1,2. Semakin rendah nilai PUE, semakin efisien penggunaan energi karena porsi daya yang digunakan untuk sistem pendukung (pendinginan, distribusi daya, pencahayaan) semakin kecil dibandingkan dengan daya untuk beban IT.
Tanpa desain infrastruktur yang terstandar dan manajemen yang disiplin, pencapaian Green Data Center akan sulit diwujudkan secara konsisten.
SNI 8799 sebagai Standar Pusat Data Indonesia
SNI 8799 merupakan standar nasional yang mengatur perencanaan dan pengelolaan pusat data di Indonesia. Standar ini menjadi referensi penting dalam pembangunan dan manajemen pusat data yang andal, aman, dan terstruktur sesuai konteks regulasi nasional.
SNI 8799 mencakup aspek krusial seperti:
- Tata letak dan zonasi ruang
- Sistem kelistrikan dan distribusi daya
- Klasifikasi tingkat keandalan
- Sistem pendinginan
- Pengendalian suhu dan kelembapan
- Dokumentasi dan tata kelola operasional
Sebagai standar pusat data Indonesia, SNI 8799 menyediakan fondasi teknis yang memungkinkan organisasi mengimplementasikan praktik Green Data Center secara sistematis dan terukur.
Kaitan Green Data Center dan SNI 8799
1. Perencanaan Kapasitas untuk Efisiensi Energi Data Center
Over Provisioning atau penyediaan kapasitas daya dan pendinginan yang melebihi kebutuhan aktual merupakan salah satu penyebab utama pemborosan energi di pusat data tradisional.
Studi dari Lawrence Berkeley National Laboratory (LBNL) menunjukkan bahwa banyak fasilitas data center beroperasi jauh di bawah kapasitas desain awalnya, sehingga efisiensi sistem kelistrikan dan pendinginan menurun.
SNI 8799 menekankan perencanaan kapasitas berbasis kebutuhan bisnis dan klasifikasi tingkat keandalan. Dengan pendekatan ini:
- Konsumsi energi lebih terkendali
- Investasi infrastruktur pusat data lebih optimal
- Risiko pemborosan daya dapat diminimalkan
Implementasi SNI 8799 yang tepat mendukung terciptanya Green Data Center yang efisien sejak tahap desain.
2. Optimasi Sistem Pendinginan dan PUE Data Center
Menurut berbagai laporan industri, termasuk dari Schneider Electric dan ASHRAE, sistem pendinginan dapat menyumbang sekitar 30–40% dari total konsumsi energi data center.
SNI 8799 mengatur tata letak rak dan zonasi panas-dingin (hot aisle–cold aisle), manajemen airflow, serta standar pengendalian suhu dan kelembaban.
ASHRAE Technical Committee 9.9 juga menegaskan bahwa pengaturan suhu operasional yang tepat dan kontrol kelembaban yang sesuai dapat mengurangi beban pendinginan tanpa mengorbankan keandalan perangkat.
Pengaturan yang tepat dapat:
- Menurunkan konsumsi energi pendinginan
- Mengoptimalkan PUE data center
- Meningkatkan efisiensi energi secara keseluruhan
Dengan demikian, penerapan SNI 8799 berkontribusi langsung terhadap pencapaian Green Data Center melalui desain pendinginan yang terstruktur.
3. Reliability sebagai Pilar Keberlanjutan
Reliability tidak hanya berkaitan dengan uptime, tetapi juga berdampak pada efisiensi energi dan keberlanjutan operasional.
Uptime Institute melaporkan bahwa gangguan pusat data (data center outages) dapat menimbulkan kerugian finansial signifikan serta memicu penggunaan sistem cadangan darurat yang meningkatkan konsumsi energi.
Sistem yang tidak stabil dapat menyebabkan:
- Restart berulang
- Aktivasi sistem cadangan yang tidak efisien
- Penggunaan genset darurat
- Kerusakan perangkat akibat overheat
SNI 8799 mengatur klasifikasi tingkat keandalan dan sistem backup secara terstruktur. Infrastruktur yang dirancang sesuai standar akan lebih stabil, efisien, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
4. Monitoring dan Manajemen Pusat Data Berbasis Data
IEA dan berbagai lembaga riset energi menekankan pentingnya monitoring konsumsi energi secara real-time untuk meningkatkan efisiensi operasional pusat data.
SNI 8799 mendorong dokumentasi, evaluasi berkala, dan pengelolaan operasional yang sistematis. Pendekatan ini menjadi dasar bagi:
- Energy monitoring system
- Capacity planning berbasis beban aktual
- Pengukuran efisiensi energi data center
- Dukungan terhadap pelaporan ESG
Dengan manajemen pusat data yang terstruktur dan berbasis data, efisiensi dapat diukur, dianalisis, dan ditingkatkan secara berkelanjutan.
Dari Kepatuhan Menuju Keunggulan Strategis
Banyak organisasi memandang implementasi SNI 8799 sebatas kewajiban kepatuhan. Namun dalam konteks global yang semakin menekankan efisiensi energi dan pelaporan keberlanjutan, standar ini dapat menjadi instrumen strategis.
Penerapan SNI 8799 yang terintegrasi dengan prinsip Green Data Center dapat membantu organisasi:
- Mengendalikan biaya energi jangka panjang
- Meningkatkan efisiensi operasional
- Mendukung agenda ESG dan keberlanjutan
- Memperkuat daya saing di era ekonomi digital
Efisiensi energi data center bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan bagian dari strategi bisnis dan tata kelola perusahaan.
Kesimpulan
Kaitan Green Data Center dan SNI 8799 terletak pada keselarasan antara prinsip efisiensi energi global dan standar teknis nasional.
Sebagai standar pusat data Indonesia, SNI 8799 membantu organisasi membangun infrastruktur yang:
- Efisien secara energi
- Andal secara operasional
- Terstruktur dalam tata kelola
- Siap mendukung keberlanjutan jangka panjang
Dengan memadukan praktik Green Data Center dan implementasi SNI 8799, organisasi tidak hanya memenuhi standar nasional, tetapi juga membangun fondasi transformasi digital yang efisien dan berkelanjutan.


