Di era di mana data disebut sebagai “the new oil,” infrastruktur penyimpanannya yaitu Pusat Data menjadi jantung bagi ekonomi digital Indonesia. Namun, membangun pusat data tidak hanya soal menyediakan server dan pendingin yang canggih.
Bagi banyak pelaku industri, kode SNI 8799 mungkin terdengar seperti deretan angka birokrasi yang rumit. Namun, di balik teknis penyusunannya, SNI 8799 adalah jawaban atas satu pertanyaan krusial: “Seberapa tangguh bisnis Anda saat gangguan sistem atau serangan siber melanda?”
1. Menghitung Harga Sebuah “Downtime”
Mari kita bicara angka. Berdasarkan laporan dari Uptime Institute, biaya akibat downtime pusat data terus meningkat secara signifikan. Lebih dari 25% insiden mati total pada pusat data menyebabkan kerugian finansial di atas Rp1,5 Miliar ($100.000) per kejadian.
SNI 8799 hadir untuk memitigasi risiko ini. Standar ini mengatur redundansi infrastruktur seperti sistem kelistrikan Dengan mengikuti protokol ini, pusat data Anda memiliki jaring pengaman yang teruji. Hasilnya, Anda terhindar dari kerugian finansial masif dan hancurnya reputasi dalam semalam
2. Perisai Hukum di Era UU Pelindungan Data Pribadi (UU PDP)
Sejak disahkannya UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP), keamanan data bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban hukum. Kegagalan dalam melindungi data pribadi dapat berujung pada sanksi administratif berupa denda hingga 2% dari pendapatan tahunan perusahaan. Sertifikasi SNI 8799 berperan sebagai garis pertahanan pertama secara legal. Dengan mengadopsi standar ini, organisasi menunjukkan kepatuhan (compliance) yang solid. Ini adalah bukti konkret bahwa perusahaan telah melakukan upaya maksimal (due diligence) dalam menjaga infrastruktur data sesuai standar nasional yang berlaku.
3. Efisiensi Energi: Mengubah Biaya Menjadi Laba
Banyak anggapan bahwa standarisasi itu mahal. Padahal, SNI 8799 justru membantu memangkas biaya operasional (OPEX) melalui efisiensi energi data center.
Pusat data yang tidak terstandarisasi seringkali memiliki nilai PUE (Power Usage Effectiveness) yang buruk, artinya banyak listrik terbuang sia-sia untuk pendinginan, bukan untuk komputasi.
- Fakta: Implementasi tata letak rak dan aliran udara (hot/cold aisle) sesuai SNI dapat menurunkan konsumsi energi pendinginan sebesar 15% hingga 30%.
- Dampaknya: Tagihan listrik bulanan berkurang, dan usia perangkat keras (hardware) menjadi lebih panjang karena bekerja dalam suhu yang optimal.
4. Memenangkan Kepercayaan di Pasar Global
Indonesia kini menjadi magnet investasi pusat data di Asia Tenggara. Namun, investor dan klien besar tidak akan menaruh data sensitif mereka di fasilitas yang “meragukan.” Sertifikasi SNI 8799 memberikan sinyal profesionalisme:
- Auditable: Tata kelola transparan dan mudah diaudit secara internasional.
- Resilient: Tangguh menghadapi gangguan fisik maupun bencana alam.
- Scalable: Siap dikembangkan tanpa harus merombak ulang seluruh sistem.
Perbandingan Strategis: Memilih Standar untuk Keberlanjutan
Jika kita meninjau perbedaan mendasar antara pusat data standar SNI 8799 dengan fasilitas non-standar, perbedaannya sangat kontras. Dari sisi keandalan layanan, fasilitas non-standar memiliki risiko tinggi terhadap kegagalan sistem mendadak, sementara SNI 8799 memberikan jaminan ketersediaan (uptime) yang tinggi.
Dalam hal efisiensi listrik, pusat data tanpa standarisasi cenderung boros energi dengan nilai PUE diatas 2.0, sedangkan penerapan SNI 8799 mendorong operasional yang efisien dan ramah lingkungan dengan target PUE di bawah 1.5. Dari sudut pandang mitigasi hukum, kepatuhan pada regulasi nasional melalui SNI ini memberikan perlindungan yang jauh lebih kuat dibandingkan fasilitas non-standar yang rentan terhadap tuntutan UU PDP. Pada akhirnya, semua ini bermuara pada kepercayaan klien; di mana fasilitas standar secara otomatis diakui sebagai standar nasional yang profesional, memudahkan Anda memenangkan kepercayaan dari investor besar.
Kesimpulan: Investasi untuk Masa Depan Digital
Pada akhirnya, SNI 8799 bukan sekadar tentang memenuhi keinginan regulator, melainkan tentang membangun ketahanan bisnis (Business Resilience). Di tengah persaingan ekonomi digital yang ketat, pusat data yang memiliki standar kuat akan menjadi pemenang karena menawarkan satu hal yang paling dicari pelanggan: Rasa Aman.


