Google Search Luncurkan Fitur Experimental AI yang Mengubah Cara Pencarian Informasi

Google kembali mendobrak batas inovasi dengan menghadirkan fitur experimental yang mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam mesin pencari andalannya. Berbeda dari AI Overviews yang sebelumnya hanya menampilkan ringkasan dari hasil pencarian, fitur baru ini memungkinkan interaksi yang lebih mendalam dengan pengguna melalui AI Mode, yang dapat memberikan jawaban lebih kontekstual serta mendukung pertanyaan lanjutan secara lebih dinamis. Fitur ini, yang kini tengah diuji coba di Google Labs, menawarkan pengalaman pencarian yang lebih interaktif dan personal, sekaligus menantang paradigma tradisional “10 blue links” yang selama ini menjadi ciri khas Google Search.

Transformasi Pencarian dengan AI

Dalam upaya menghadapi persaingan dari layanan berbasis AI seperti ChatGPT dan Perplexity, yang semakin populer sebagai sumber pencarian berbasis percakapan, Google telah mengembangkan AI Mode—sebuah fitur yang menggabungkan teknologi generative AI untuk menyajikan ringkasan informasi secara langsung. Dengan AI Mode, Google berusaha mempertahankan relevansinya dengan menawarkan pengalaman pencarian yang lebih interaktif dan intuitif, mirip dengan pendekatan yang digunakan oleh pesaingnya. Dengan menggunakan model kustom Gemini 2.0, AI Mode mampu:

  • Memberikan Ringkasan Cerdas: Menyajikan jawaban langsung berupa ringkasan yang dikurasi dari berbagai sumber, sehingga pengguna tidak perlu lagi membuka banyak halaman untuk menemukan informasi yang relevan.
  • Memfasilitasi Pertanyaan Lanjutan: Pengguna dapat mengajukan pertanyaan follow-up secara langsung melalui antarmuka chatbot, memungkinkan eksplorasi topik secara mendalam.
  • Mengintegrasikan Data Real-Time: Fitur ini memanfaatkan data dari Google Knowledge Graph dan berbagai sumber web untuk memastikan informasi yang diberikan tetap up-to-date dan akurat.

“Kami mendengar dari para power user bahwa mereka menginginkan jawaban yang lebih komprehensif dan mudah diakses. Dengan AI Mode, kami berharap dapat memberikan solusi pencarian yang tidak hanya cepat, tetapi juga kaya informasi,” ujar Robby Stein, VP Produk Google Search.

 

Manfaat dan Tantangan bagi Pengguna dan Dunia SEO

Keunggulan Pengalaman Pengguna

Bagi para pengguna, fitur ini memberikan keuntungan dengan:

  • Efisiensi Waktu: Informasi yang kompleks bisa diakses dengan cepat tanpa harus menjelajahi banyak halaman.
  • Kemudahan Interaksi: Antarmuka yang menyerupai chatbot memungkinkan dialog interaktif yang memudahkan pengguna untuk memahami topik yang rumit.
  • Personalisasi: Kemampuan AI dalam mengingat konteks pertanyaan memungkinkan pengalaman pencarian yang lebih personal dan relevan.

Dampak Terhadap Dunia SEO

Meski inovasi ini menawarkan pengalaman pencarian yang lebih modern, para ahli SEO mengkhawatirkan dampaknya terhadap lalu lintas organik dan keterlihatan konten. Menurut laporan dari Search Engine Journal, beberapa pakar menyatakan bahwa fitur AI ini dapat mengurangi jumlah klik ke situs web karena pengguna mendapatkan jawaban langsung tanpa perlu mengunjungi sumber asli.

  • Penurunan Trafik Organik: Dengan munculnya ringkasan AI yang langsung memberikan jawaban, potensi klik ke website asli mungkin menurun.
  • Tantangan Kualitas Konten: Para penerbit perlu beradaptasi agar kontennya tetap relevan dan mendalam, sehingga tetap bisa menarik perhatian algoritma Google meski ringkasan AI sudah tersedia.

Google sendiri menekankan bahwa sistem peringkat dan mekanisme proteksi keamanannya tetap dipertahankan. AI Overviews yang kini menjadi dasar dari AI Mode dirancang untuk hanya menampilkan informasi yang didukung oleh hasil pencarian berkualitas tinggi. Dengan demikian, meskipun fitur ini mengubah cara pengguna mengakses informasi, Google berupaya memastikan bahwa sumber asli tetap mendapatkan eksposur melalui tautan yang disematkan dalam ringkasan AI.

Inovasi Berkelanjutan di Google Labs

Fitur AI Mode ini merupakan bagian dari rangkaian eksperimen di Google Labs yang terus berkembang. Saat ini, AI Mode hanya tersedia sebagai opsi opt-in terutama bagi pengguna yang telah menjadi bagian dari Google One AI Premium (Google Blog). Dengan masukan dari pengguna dan pengujian internal yang intensif, Google berkomitmen untuk terus memperbaiki teknologi ini guna mengurangi potensi kesalahan atau “hallucinations” yang pernah terjadi pada versi awal AI Overviews.

Selain itu, Google juga telah mengembangkan fitur-fitur lain yang memanfaatkan teknologi AI, seperti kemampuan untuk menjawab pertanyaan melalui suara dan pencarian berbasis gambar. Semua inovasi ini menunjukkan betapa seriusnya Google dalam mengintegrasikan AI ke dalam ekosistem produk-produknya, sekaligus membangun masa depan pencarian yang lebih intuitif dan responsif.

Kesimpulan

Dengan hadirnya fitur experimental AI Mode di Google Search, pengguna kini dapat menikmati pengalaman pencarian yang lebih mendalam dan interaktif. Walaupun masih dalam tahap pengujian, inovasi ini menunjukkan komitmen Google untuk terus berinovasi demi memenuhi kebutuhan pengguna di era digital. Bagi para praktisi SEO dan penerbit konten, perubahan ini menuntut adaptasi agar tetap relevan dalam menghadapi lanskap pencarian yang semakin terintegrasi dengan kecerdasan buatan.

Google terus berupaya menyeimbangkan antara inovasi teknologi dan keberlangsungan ekosistem web, memastikan bahwa setiap peningkatan fitur tidak mengorbankan kualitas serta kredibilitas informasi yang disajikan. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan menampilkan tautan sumber dalam ringkasan AI untuk memastikan pengguna tetap dapat mengakses informasi asli. Selain itu, Google juga menerapkan kebijakan pemantauan ketat terhadap hasil AI dengan terus mengembangkan sistem evaluasi dan mekanisme pelaporan kesalahan, sehingga informasi yang diberikan tetap akurat dan dapat dipercaya. Dengan evolusi AI dalam Google Search, masa depan pencarian informasi tampak semakin dinamis dan personal.

[mecdivi_MECShortcodes shortcode_id=”32703″ admin_label=”MEC Shortcodes” _builder_version=”4.27.2″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}”][/mecdivi_MECShortcodes]

Cara Mudah Membuat Progressive Web Application

Cara Mudah Membuat Progressive Web Application

Beberapa tahun yang lalu kita mengenal istilah responsive website yang menjadi sebuah standar yang harus dicapai oleh para web developer di kala itu. Waktu berlalu dan istilah responsive website sudah tidak menjadi hal kekinian lagi. Website kini telah pelan-pelan bertransformasi menjadi sebuah web app dengan fitur segudang. Di dunia web app sendiri telah dikenal standar baru yang disebut Progressive Web Application (PWA) yang diperkenalkan oleh Google. Progressive Web Application merupakan sebuah web application yang memberikan pengalaman seperti membuka native application kepada para penggunanya di smartphone masing-masing.

PWA menggunakan service worker yang dapat menyimpan cache suatu web app di dalam perangkat sehingga walaupun koneksi internet perangkat tersebut terputus, web application yang telah disimpan dapat dibuka. PWA juga dapat mengakses push notification yang ada di dalam perangkat. Hal ini tentunya dapat dimanfaatkan oleh para developer untuk menyampaikan informasi jika ada update terbaru kepada para penggunanya secara real time.

Jika kalian para web developer berpikir bahwa mengembangkan PWA akan sesulit mengembangkan aplikasi native di Android atau IOS, kalian wajib ikut workshop “Cara Mudah Membuat Progressive Web Application” yang akan diadakan di EduparX Inixindo Jogja. Dan jangan khawatir workshop ini gratis untuk siapapun.

This form does not exist

Biaya

Free (tempat terbatas)

DATE AND TIME

Kamis, 29 November 2018
14.00 WIB – Selesai

LOCATION

Eduparx – Inixindo Jogja
Jalan Kenari No 69 Yogyakarta
View Maps

Fuchsia OS : Sistem Operasi yang Mungkin akan Menggantikan Android dan Chrome OS

Hampir setahun sudah Google merilis Fuchsia OS. Fuchsia OS merupakan sistem operasi open source besutan Google yang menggunakan micro kernel ‘Zircon’. Hal ini berbeda dengan OS yang dilahirkan Google sebelumnya yaitu Android dan Chrome OS yang  menggunakan kernel Linux.

Jika dilihat dari user interface-nya yang berupa card atau widget, Fuchsia OS merupakan universal device OS. Ini berarti Fuchsia dapat dipasang di smartphones, tablet, ataupun komputer. Dan jika dilihat secara arsitektural, Fuchsia akan mendukung sepenuhnya bahasa-bahasa pemrograman dari ekosistem Google seperti Go, Dart, Rust, Kotlin, dan menggunakan Flutter sebagai framework-nya. Tetapi Google juga tidak menutup diri terhadap bahasa pemrograman di ekosistem Apple yaitu Swift.

Keputusan Google mengembangkan OS baru ini bukan didasari pada keisengan mereka saja. Banyak developer yang sudah memprediksi bahwa cepat atau lambat, Google akan menciptakan OS baru karena beberapa faktor berikut.

 

Fuchsia OS : Sistem Operasi yang Mungkin akan Menggantikan Android dan Chrome OS 1

 

Satu OS untuk Semua

Baru-baru ini Google mengizinkan aplikasi Android untuk diinstall di Chrome OS. Walaupun begitu, fitur ini masih belum berjalan sempurna. Masih banyak aplikasi yang belum mendukung untuk dipasang di Chrome OS. Permasalahan ini dapat terpecahkan jika seandainya mempunyai satu OS yang dapat dijalankan diberbagai platform perangkat. Bahkan kabarnya, para developer Fuchsia ingin OS ini dapat menjalankan Home Speaker keluaran Google dalam 3 tahun mendatang.

 

Selamat Tinggal Java

Sebagian kode pada Android mengandung kode Java di dalamnya. Bahkan pada saat awal pengembangan awal Android, Google menggunakan memasang JVM (Java Virtual Machine) di dalam Android. Maka tidak heran jika dulu aplikasi Android dapat dipasang di ponsel berbasis Java atau sebaliknya. Selain itu, Android Studio juga menggunakan Java sebagai bahasa resmi yang digunakan. Hal ini memicu kekhawatiran Google karena mereka tidak bisa benar-benar berkuasa atas sistem operasinya sendiri.

 

Kernel Yang Lebih Sering Diperbarui

Android dan Chrome OS menggunakan Linux sebagai kernelnya yang berarti sangat bergantung pada usaha OEM untuk membuat dan mengupdate patch. Padahal, kita tahu sendiri OEM sangat malas mengupdate patch apalagi menyentuh bagian yang terlalu dalam seperti kernel sehingga rentan terhadap eksploitasi pihak yang tak bertanggung jawab. Dengan kernel kustom yang dinamai Zircon, aplikasi dalam Fuchsia terisolasi dalam mengakses kernel secara langsung. Beberapa layer keamanan yang didesain untuk rutin diperbarui membuat Fuchsia jauh lebih aman.

 

Ramah Terhadap AI

Secara mendasar, Fuchsia didesain untuk mengakomodasi Google Assistant. Apapun yang nampak di layar atau apapun yang dilakukan pengguna pada perangkatnya bisa dilihat dan dimengerti oleh Assistant. Fitur ini sebenarnya sudah ada di Android Oreo di mana saat kita menekan dan menahan tombol home maka AI akan membaca informasi pada recent apps. Dengan Fuchsia, Assistant diberikan akses yang lebih dalam lagi. AI ini dapat mengakses segala entitas data seperti orang di kontak, history di browser yang kita pakai, event di kalender, atau konsep lain yang akan berusaha dipelajari oleh Assistant.

***

Itulah beberapa faktor yang menyebabkan para pengamat teknologi informasi berpendapat bahwa Fuchsia akan menggantikan Android dan Chrome OS. Walaupun begitu Google  sempat membantah pernyataan CNET bahwa Fuchsia OS akan menggantikan Android dan Chrome OS dalam jangka waktu lima tahun. Google hanya menyatakan bahwa Fuchsia merupakan salah satu dari sekian banyak project eksperimen yang dilakukan Google.

Update 2 Juli 2019 :

Google akhirnya merilis website untuk development Fuchsia OS yang berisi dokumentasi. 

Mana yang Lebih Loyal, Pengguna iOS Atau Android?

Mana yang Lebih Loyal, Pengguna iOS Atau Android?

Sebagai dua sistem operasi ponsel terbesar dunia, iOS dan Android selalu menawarkan fitur-fitur terbaik di dalamnya. Mana yang membuat pelanggannya lebih setia?

Pemilik smartphone dan tablet Android ternyata lebih loyal terhadap merek mereka daripada pengguna perangkat iOS Apple, menurut sebuah laporan baru. Studi dari Consumer Intelligence Research Partners (CIRP) menunjukkan bahwa 91% pemilik Android tetap setia terhadap OS mobile tersebut, dibandingkan dengan 86% pengguna IOS.

Data tersebut dikumpulkan sebagai bagian dari survei kuartalan terhadap 500 pengguna yang telah dilakukan oleh CIRP mulai Maret 2013 sampai Desember 2017. Untuk hasil terakhir, CIRP mengukur persentase pelanggan yang bertahan dengan setiap sistem operasi saat mengaktifkan telepon baru selama dua belas bulan, yang berakhir pada bulan Desember 2017. Penelitian tersebut menemukan bahwa selama periode terakhir loyalitas Android berjalan dari 89% menjadi 91%, sementara loyalitas IOS berkisar antara 85% dan 88%.

Persentase ini didasarkan pada perilaku konsumen di Amerika Serikat pada 2017 yang tetap setia dengan satu sistem operasi setelah mereka memutuskan mengganti ponselnya. CIRP menggaris bawahi jika tingkat penggantian perangkat berbeda dengan total orang yang mengganti ponselnya.Mike Levin, partner dan co-founder CIRP, mengatakan loyalitas merek untuk Apple IOS dan Android telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa.

“iOS dan Android bersaing lebih agresif seiring jumlah pembeli smartphone pertama kali menyusut,” ujar Mike Levin, co-founder dari CIRP.

“Dengan lebih sedikit pengguna sistem operasi smartphone lawas, pemilik telepon dasar, dan pembeli ponsel pertama kali, Android dan iOS sekarang sebagian besar mendapatkan dan kehilangan pengguna ke sistem operasi lain. Mengingat saat ini hanya ada dua sistem operasi yang menguasai pasar, para konsumen pun terlihat untuk memilih salah satu, mempelajarinya, membeli perangkatnya, lalu setia pada pilihannya tersebut,” lanjutnya.

Mana yang Lebih Loyal, Pengguna iOS Atau Android? 2

Ia menambahkan, Apple dan Google harus memikirkan cara untuk dapat terus menjual produk dan layanan keduanya kepada para pelanggan setia mereka. Hal ini pun terlihat dari sikap keduanya yang memang mencoba terus meningkatkan pendapatannya dengan bersumber pada konsumen setianya.

Bagi Apple, pertumbuhan yang ditunjukkan oleh layanan seperti Apple Music, Apple Pay, iCloud, Apple Care, dan App Store mampu membuat mereka menorehkan rekor pendapatan di sektor jasa pada November lalu.

Sedangkan untuk Android, banyaknya ponsel yang mengadaptasi sistem operasi ciptaan Andy Rubin ini membuat para pelanggan setia memiliki keleluasaan dalam mencoba berbagai varian smartphone tanpa menjadi ‘pembelot’ untuk mencoba pengalaman baru.

Menariknya, jika melihat waktu yang lebih lampau, 2013 misalnya, sejatinya pengguna iOS tampak lebih setia dibanding pemakai Android. Fenomena tersebut pun mulai berubah pada pertengahan 2014, dan sejak saat itu Android mampu mempertahankan, bahkan meningkatkan, loyalitas konsumennya di atas iOS.

Sementara itu, narasumber lainnya Josh Lowitz, mitra dan pendiri CIRP, mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Loyalitas pengguna Android sekarang sedikit melebihi pengguna IOS.”

“Seiring waktu, loyalitas Android meningkat secara bertahap, karena mencapai kesamaan dalam ketersediaan aplikasi, musik dan video, dan saat pengalaman pengguna di kedua platform menjadi lebih serupa,” ujarnya.

Pengguna Android juga mendapatkan keuntungan dari berbagai jenis ponsel yang berbeda dari produsen yang berbeda, yang memungkinkan mereka mengubah perangkat keras tanpa melakukan swtiching ke sistem operasi baru, Lowitz menambahkan.

Penasaran Dengan Penjaga Data Center Milik Google?

Siapa sih yang tak tahu perusahaan search engine raksasa seperti Google? Kita pastinya membayangkan sebuah bangunan raksasa yang dipenuhi dengan rak server canggih mirip dengan yang ditampilkan di film-film sci-fi.

Yup! Anda memang tidak salah. Google memang memiliki jaringan yang terdiri dari beberapa data center yang tersebar di berbagai belahan dunia. Salah satu dari beberapa data center tersebut terletak di Negara Bagian North Carolina, Amerika Serikat.

Jika Anda mengira bahwa data center merupakan tempat yang tertutup dengan pengamanan yang berlapis-lapis, tidak halnya dengan data center milik Google di kota Lenoir ini. Google memperbolehkan media atau orang umum untuk datang berkunjung dan sekedar melihat-lihat apa yang ada di dalam fasiltas raksasa ini.

Tidak hanya itu saja, bagi Anda yang tidak mau bersusah payah untuk naik pesawat selama 12 jam hanya untuk ingin tahu apa saja yang ada di dalam data center tersebut, Anda bisa melihat bagian dalam data center milik Google melalui Streetview. Coba saja klik link ini, Anda akan diarahkan langsung ke halaman website data center milik Google dan dapat langsung mengulik dalaman dari data center itu.

Walaupun Google membuka isi dari data center miliknya, hal ini tidak membuat data center milik Google lepas dari pengawasan. Selalu ada pendukung teknis atau yang bahasa kerennya disebut sebagai technical support.

Di dalam tampilan Streetview ini kita juga bisa berjumpa dengan salah satu penjaga data center.

Penasaran Dengan Penjaga Data Center Milik Google? 3

Tapi tunggu! Sepertinya yang ada di tampilan Streetview tersebut adalah Stormtrooper. Benar-benar candaan khas Google. Mereka sengaja melindungi privasi dan keamanan pegawainya dengan cara yang unik.

Orang-orang yang menjaga server milik Google 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu ini bertugas memastikan semua berjalan lancar, mulai dari suhu, sirkulasi udara, kelistrikan, ataupun kondisi hardware. Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki tugas berat ini harus memiliki sertifikasi khusus di bidang data center seperti CDCP (Certified Data Center Professionals).

Jika Anda berminat untuk menjadi profesional di bidang data center layaknya Storm Trooper di Google Data Center, Anda bisa mendapatkan training untuk sertifikat CDCP di Inixindo Jogja. Anda bisa melihat silabus pelatihan CDCP di sini.