Tutorial Membuat Mobile App Menggunakan React Native (Part 1 – Environment Setup)

Tutorial Membuat Mobile App Menggunakan React Native (Part 1 – Environment Setup)

Perangkat mobile atau smartphone pada saat sekarang ini sudah menjadi benda wajib yang selalu ada di saku atau tas masing-masing. Jumlah orang yang memiliki smartphone tentunya jauh lebih besar dibandingkan orang yang memiliki laptop atau desktop. Hal inilah yang menyebabkan aplikasi mobile laris dan terpasang pada perangkat masing-masing bagaikan pisang goreng di saat hujan di sore hari. Sebagai hukum sebab akibat yang sudah dirumuskan pepatah zaman dulu yaitu ‘ada gula ada semut’, yang bila diartikan menjadi ada ‘konsumen pisang goreng berarti ada yang jualan pisang goreng’, atau agar lebih pas bila disesuaikan dengan bahasan kita berarti ‘ada mobile user tentunya ada mobile developer’. Kondisi inilah yang menyebabkan semua kalangan mulai dari perusahaan, software house, media, dan bahkan anak magang beramai-ramai menciptakan dan mengembangkan mobile app.

Kekhawatiran muncul dari penjual es krim yang sekali lagi jika disesuaikan dengan bahasan kita berarti ‘web developer’ yang rata-rata secara natural hanya menguasai bahasa markup yaitu HTML & CSS, bahasa pemrograman seperti Javascript & PHP, dan bahasa query yaitu SQL. Padahal, pengembangan mobile apps saat ini dikuasai oleh dua bahasa pemrograman yaitu Java (untuk Android) dan Swift (untuk iOS). Masalah ini ditambah dengan keinginan agar apps dapat hadir dan berjalan di dua platform tersebut. Tentu saja ini semakin membuat kompleksitas pengembangan mobile app semakin meningkat.

Solusi untuk permasalahan ini sebenarnya sudah ada pada tahun 2011 sejak hadirnya Cordova (berganti nama menjadi PhoneGap setelah diakuisisi oleh Adobe) sebagai framework pengembangan hybrid app di mana dengan menggunakan HTML, CSS, dan Javascript kita dapat meng-compile mobile app di dua platform Android dan iOS. Sampai sekarang Cordova/PhoneGap masih dijadikan solusi tercepat untuk membangun aplikasi mobile bagi para developer web.

Tapi jangan senang dulu, Alejandro! Aplikasi hybrid yang dibuat dengan Cordova/PhoneGap ini memiliki performa yang jauh lebih rendah bila dibandingkan mobile app yang dikembangkan secara native. Hal ini membuat para developer menjadi malas-malasan untuk menggunakan Cordova/Phonegap karena resikonya besar yaitu mereka harus mengorbankan user experience. Walaupun begitu dengan berkembangnya teknologi, hadir React Native sebagai solusi dalam pengembangan aplikasi mobile.

Mirip dengan dengan Cordova/PhoneGap, React Native membuat developer dapat mengembangkan aplikasi mobile dengan menggunakan Javascript yang tentu saja telah dikuasai oleh mayoritas web developer dan bila dibandingkan secara performa, React Native jauh mengungguli Cordova/Phonegap walaupun masih berada sedikit di bawah aplikasi native dari masing-masing platform.

Kita cukupkan saja cerita panjang tentang latar belakang native mobile app, hybrid app, dan pisang goreng ini. Pada kesempatan kali ini, kami akan membagikan langkah-langkah dalam membuat native mobile app dengan menggunakan React Native. Tutorial ini akan di bagi menjadi beberapa part. Pada part 1 ini kita akan mempersiapkan environment-nya terlebih dahulu.

 

Tools of Trade

Dalam tutorial kali ini beberapa tools yang akan kita gunakan adalah:

  1. NodeJs (download di sini)
  2. Android Studio
  3. SDK Manager
  4. JDK
  5. Python2

Setting Up Tools

Setelah semua tools kita dapatkan, langkah selanjutnya adalah men-setup semua peralatan tadi ke dalam perangkat yang kita gunakan. Dalam tutorial ini kita akan menggunakan Windows 10 sebagai sistem operasi dalam environment pengembangan kita.

 

1. Extract nodejs yang telah didownload,
semisal di D:\node-v10.15.0-win-x64 Anda harus mengingat lokasi tersebut, karena nanti akan kita tambahkan lokasi tersebut ke dalam path variable.

2. Install Android Studio beserta SDK Manager-nya.
Step ini membutuhkan koneksi internet dan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Jangan lupa catat dimana lokasi Android Studio dan SDK Managernya. Kita akan menggunakanya di step selanjutnya karena Android Studio ketika diinstal otomatis akan menginstal versi SDK terakhir maka proses instalasi SDK otomatis telah dilakukan. Yang perlu dilakukan adalah mencatat lokasi SDK manager.

Tutorial Membuat Mobile App Menggunakan React Native (Part 1 - Environment Setup) 1

3. Menginstall JDK 
Jangan lupa catat lokasi JDK terinstall biasanya default lokasi JDK bisa ditemukan di C:\Program Files\Java\jdk1.8.0_162\

 

4. Menginstall Python
Setelah menginstal jangan lupa catat lokasi nya karena nanti kita harus menambahkanya ke dalam system path variable.

 

5. Menambahkan JAVA_HOME Environment Variable
Java home adalah lokasi di mana JDK diinstall. Secara default JDK terinstal di C:\Program Files\Java\jdk1.8.0_162\

Tutorial Membuat Mobile App Menggunakan React Native (Part 1 - Environment Setup) 2

6. Menambahkan ANDROID_HOME Environment Variable

Tutorial Membuat Mobile App Menggunakan React Native (Part 1 - Environment Setup) 3

7. Menambahkan beberapa lokasi di bawah ini kedalam System Path variable
Yang perlu ditambahkan adalah lokasi folder berikut:

    1. Nodejs
    2. Java/bin
    3. Gradle/bin
    4. SDK/platform-tools
    5. SDK/tools
    6. Python
Tutorial Membuat Mobile App Menggunakan React Native (Part 1 - Environment Setup) 4

 

React Native Installation

Setelah ke enam langkah di atas dilakukan dengan benar maka seharusnya saat ini anda telah siap untuk memasang React Native ke komputer Anda. Langkah-langkah untuk memasang React Native dapat dilakukan melalui step-step dibawah ini :

1. Buka command prompt
(bisa dilakukan dengan menekan kombinasi keyboard windows + ‘r’ dan ketikkan cmd lalu klik ‘OK’)

Tutorial Membuat Mobile App Menggunakan React Native (Part 1 - Environment Setup) 5

2. Ketikkan perintah pada command line:

npm install -g react-native-cli

Tunggu sampai selesai! Proses ini membutuhkan koneksi internet

Tutorial Membuat Mobile App Menggunakan React Native (Part 1 - Environment Setup) 6

3. Membuat project baru
Sebelum membuat project baru ada baiknya kita membuat folder khusus untuk project kita. Saya sarankan untuk membuat folder dengan nama yang singkat dan tidak terdapat spasi untuk menghindari error. Di bawah ini urutan perintah untuk memulai project baru:

D:
mkdir labReactNative
react-native init AwesomeProject

Tunggu hingga proses selesai!

Tutorial Membuat Mobile App Menggunakan React Native (Part 1 - Environment Setup) 7

 

4. Membuat android virtual device (AVD)

 

5. Jalankan project yang telah kita buat
Untuk menjankan project yang telah kita buat dapat menggunakan perintah dibawah ini:

cd AwesomeProject
react-native run-android

Tutorial Membuat Mobile App Menggunakan React Native (Part 1 - Environment Setup) 8

 


 

Itu tadi langkah-langkah dalam menginstal dan men-setup environment dalam membuat mobile app dengan menggunakan React Native. Ikuti terus update terbaru dari Inixindo Jogja agar tidak ketinggalan Tutorial React Native part selanjutnya!

 

 

 

Step by step tutorial from:

Arindra Saktiawan
Instructor of Inixindo Jogja

Workshop SMS Portable Gateway Dengan Android

Workshop SMS Portable Gateway Dengan Android

9 Agustus 2018

Pendaftaran Telah Ditutup

 

About this Event

Banyak yang mengira bahwa SMS blasting sudah tidak berguna lagi di era di mana semua orang menggunakan aplikasi chat. Tapi perlu diketahui bahwa teknologi SMS dapat menjangkau setiap orang yang memiliki ponsel tidak peduli merek, sistem operasi, kuota internet, apalagi harga ponselnya. Jika dilihat dari perspektif pemrograman, membuat SMS gateway jauh lebih mudah daripada menggunakan akun aplikasi chat untuk menerima dan mengirim pesan otomatis. Hanya ada satu kendala yang biasanya menghambat perusahaan atau instansi yang ingin mengembangkan SMS gateway yaitu perangkat khusus yang digunakan.

Sekarang, era digital membuat teknologi SMS gateway lebih mudah lagi. Kita bisa menggunakan ponsel Android sebagai SMS gateway. Dengan bahasa pemrograman PHP, kita dapat mengembangkan SMS gateway yang praktis dan portabel sehingga bisa dibawa ke mana saja.

Dalam workshop ini, peserta akan mempelajari tentang :

  • Memrogram aplikasi web yang akan digunakan sebagai interface SMS Gateway
  • Mensinkronkan API dari third-party server dengan program web yang telah dibuat
  • Menset smartphone Android sehingga dapat berfungsi sebagai SMS Gateway

DATE AND TIME

9 Agustus 2018
14.00 WIB – Selesai

LOCATION

Eduparx – Inixindo Jogja
Jalan Kenari No 69 Yogyakarta
View Maps

EduparX - Inixindo Jogja

EduparX – Inixindo Jogja

Fuchsia OS : Sistem Operasi yang Mungkin akan Menggantikan Android dan Chrome OS

Fuchsia OS : Sistem Operasi yang Mungkin akan Menggantikan Android dan Chrome OS

Hampir setahun sudah Google merilis Fuchsia OS. Fuchsia OS merupakan sistem operasi open source besutan Google yang menggunakan micro kernel ‘Zircon’. Hal ini berbeda dengan OS yang dilahirkan Google sebelumnya yaitu Android dan Chrome OS yang  menggunakan kernel Linux.

Jika dilihat dari user interface-nya yang berupa card atau widget, Fuchsia OS merupakan universal device OS. Ini berarti Fuchsia dapat dipasang di smartphones, tablet, ataupun komputer. Dan jika dilihat secara arsitektural, Fuchsia akan mendukung sepenuhnya bahasa-bahasa pemrograman dari ekosistem Google seperti Go, Dart, Rust, Kotlin, dan menggunakan Flutter sebagai framework-nya. Tetapi Google juga tidak menutup diri terhadap bahasa pemrograman di ekosistem Apple yaitu Swift.

Keputusan Google mengembangkan OS baru ini bukan didasari pada keisengan mereka saja. Banyak developer yang sudah memprediksi bahwa cepat atau lambat, Google akan menciptakan OS baru karena beberapa faktor berikut.

 

Fuchsia OS : Sistem Operasi yang Mungkin akan Menggantikan Android dan Chrome OS 9

 

Satu OS untuk Semua

Baru-baru ini Google mengizinkan aplikasi Android untuk diinstall di Chrome OS. Walaupun begitu, fitur ini masih belum berjalan sempurna. Masih banyak aplikasi yang belum mendukung untuk dipasang di Chrome OS. Permasalahan ini dapat terpecahkan jika seandainya mempunyai satu OS yang dapat dijalankan diberbagai platform perangkat. Bahkan kabarnya, para developer Fuchsia ingin OS ini dapat menjalankan Home Speaker keluaran Google dalam 3 tahun mendatang.

 

Selamat Tinggal Java

Sebagian kode pada Android mengandung kode Java di dalamnya. Bahkan pada saat awal pengembangan awal Android, Google menggunakan memasang JVM (Java Virtual Machine) di dalam Android. Maka tidak heran jika dulu aplikasi Android dapat dipasang di ponsel berbasis Java atau sebaliknya. Selain itu, Android Studio juga menggunakan Java sebagai bahasa resmi yang digunakan. Hal ini memicu kekhawatiran Google karena mereka tidak bisa benar-benar berkuasa atas sistem operasinya sendiri.

 

Kernel Yang Lebih Sering Diperbarui

Android dan Chrome OS menggunakan Linux sebagai kernelnya yang berarti sangat bergantung pada usaha OEM untuk membuat dan mengupdate patch. Padahal, kita tahu sendiri OEM sangat malas mengupdate patch apalagi menyentuh bagian yang terlalu dalam seperti kernel sehingga rentan terhadap eksploitasi pihak yang tak bertanggung jawab. Dengan kernel kustom yang dinamai Zircon, aplikasi dalam Fuchsia terisolasi dalam mengakses kernel secara langsung. Beberapa layer keamanan yang didesain untuk rutin diperbarui membuat Fuchsia jauh lebih aman.

 

Ramah Terhadap AI

Secara mendasar, Fuchsia didesain untuk mengakomodasi Google Assistant. Apapun yang nampak di layar atau apapun yang dilakukan pengguna pada perangkatnya bisa dilihat dan dimengerti oleh Assistant. Fitur ini sebenarnya sudah ada di Android Oreo di mana saat kita menekan dan menahan tombol home maka AI akan membaca informasi pada recent apps. Dengan Fuchsia, Assistant diberikan akses yang lebih dalam lagi. AI ini dapat mengakses segala entitas data seperti orang di kontak, history di browser yang kita pakai, event di kalender, atau konsep lain yang akan berusaha dipelajari oleh Assistant.

 

Itulah beberapa faktor yang menyebabkan para pengamat teknologi informasi berpendapat bahwa Fuchsia akan menggantikan Android dan Chrome OS. Walaupun begitu Google  sempat membantah pernyataan CNET bahwa Fuchsia OS akan menggantikan Android dan Chrome OS dalam jangka waktu lima tahun. Google hanya menyatakan bahwa Fuchsia merupakan salah satu dari sekian banyak project eksperimen yang dilakukan Google.

Machine Learning With Microsoft Azure

Machine Learning With Microsoft Azure

19 JULI 2018

FREE

About this Event

Machine Learning With Microsoft Azure

Teknologi Internet of Things (IoT) sudah mulai dijumpai dalam aktivitas sehari-hari di negara-negara maju. Smart city merupakan konsep yang paling getol dalam menerapkan teknologi IoT. Selain smart city, salah satu bidang usaha yang juga getol menerapkan IoT adalah perusahaan retail. Dengan IoT, kita bisa menganalisa perilaku pelanggan langsung dari point of sales (POS) seperti mesin penjual otomatis yang kita kenal dengan sebutan vending machine.

Membuat mesin penjual otomatis pintar (intelligent vending machine) bukanlah sesuatu yang tidak mungkin lagi di era digital ini. Hadirnya teknologi cloud yang mendukung IoT seperti Microsoft Azure memungkinkan kita menambahkan fitur-fitur canggih  di dalam vending machine.

Acara Community Day dengan materi “Machine Learning With Microsoft Azure. Studi Kasus : Intelligent Vending Machine’’ memberikan gambaran tentang :

  • penerapan IoT sebagai solusi untuk membuat intelligent vending machine,
  • pemanfaatan fitur pengenalan wajah & Azure Machine Learning untuk mengendalikan harga permintaan (on demand pricing),
  • mengaktifkan real time analytics dan cloud-to-device messaging flows.

Acara ini akan memberikan pemahaman kepada Anda dalam mengembangkan aplikasi berbasis cloud dengan melakukan in-memory & columnar indexing pada SQL database.

DATE AND TIME

19 Juli 2018
14.00 WIB – End

LOCATION

Eduparx – Inixindo Jogja
Jalan Kenari No 69 Yogyakarta
View Maps

EduparX - Inixindo Jogja

EduparX – Inixindo Jogja

Workshop Kotlin Dalam Pengembangan Aplikasi Android

Workshop Kotlin Dalam Pengembangan Aplikasi Android

12 JULI 2018

FREE

About this Event

Topic: Kotlin Dalam Pengembangan Aplikasi Android

Seperti yang kita ketahui, bahasa ibu bagi developer Android di seluruh jagat raya adalah Java. Mobile OS yang paling populer ini memakai Java untuk pengembangan aplikasi yang diterjemahkan ke dalam DEX bytecode dan kemudian dieksekusi oleh ART atau DVM (versi di bawah 5.0). Pada tahun 2016 penantang baru Java yaitu Kotlin resmi dirilis dan pada konferensi Google I/O 2017, Google mengumumkan bahwa Android Studio 3.0 mendukung penuh Kotlin. Bahasa pemrograman open source yang dipelopori oleh JetBrains ini dinilai lebih singkat dan padat bila dibandingkan dengan Java. Walaupun begitu, Kotlin dapat dikombinasikan dengan Java dalam penggunaannya. Para developer bisa menggunakan Java Framework dalam Kotlin atau bahkan memasukkan perintah Java dalam kode Kotlin.

Inilah beberapa alasan yang membuat Kotlin digandrungi oleh banyak developer :

  • Memiliki ‘smart extension’ yang akan membantu kita membuat API yang bersih
  • Kotlin memiliki ‘null’ dalam type system-nya yang akan memecahkan masalah ‘nullability’ yang sering dijumpai developer Android yang menggunakan Java.
  • Developer dapat terbantu dengan hadirnya library seperti Anko dan 2000 Kotlin project di GitHub.

Jika Anda mulai bosan dengan Java atau mencari pilihan lain untuk pengambangan aplikasi Android, Anda dapat mengikuti workshop ‘Kotlin Dalam Pemrograman Android’ yang diadakan Inixindo Jogja

DATE AND TIME

12 Juli 2018
14.00 WIB – End

LOCATION

Eduparx – Inixindo Jogja
Jalan Kenari No 69 Yogyakarta
View Maps

EduparX - Inixindo Jogja

EduparX – Inixindo Jogja

WhatsApp chat Chat via Whatsapp