Saat ini, web developer dimanjakan dengan teknologi yang dapat meng-compile web app mereka menjadi native app seperti React Native atau Ionic. Ada juga teknologi yang dapat membuat web app tampak seperti native secara instan melalui PWA. Belum puas dengan PWA, kini Google kembali memanjakan web developer dengan Chrome versi 72 dan setelahnya dengan fitur yang disebut trusted web activities. Trusted Web Activities (TWA) memungkinkan para web developer untuk mendistribusikan PWA mereka melalui Google Play Store.

Bukan Teknologi yang Benar-benar Baru

Sebelum membahas TWA lebih jauh lagi, mari kita flashback sejenak bagaimana Android developer menampilkan konten web kepada pengguna aplikasi mereka. Ada dua protokol yang bisa digunakan untuk menampilkan konten web melalui android app:

  1. Webview
    Cara ini adalah cara yang paling sering digunakan oleh Android developer karena lebih fleksibel. Webview membuat developer dapat menyematkan konten web dalam tampilan native, menginjeksi cookies, dan ‘mengikat’ (binding) kode Javascript ke dalam kode Android (Java, Kotlin, dsb). Kekurangan dari metode ini adalah webview cukup menyita hardware resources seperti proses dan memory. Metode webview ini tidak saling berbagi ‘state’ (cookies dan cache) dengan browser.

     

  2. Chrome Custom Tab (CCT)
    Chrome Custom Tab merupakan fitur yang disediakan oleh Chrome mulai dari versi 45. Metode ini akan membuka tab chrome khusus ketika pengguna membuka link halaman web. Kelebihan dari metode ini adalah performa tinggi tapi dengan konsekuensi harus berbagi cookies dan cache dengan Google Chrome. Saat pengguna menggunakan CCT, aplikasi tidak bisa mengakses cookies, storage, dan cache dari halaman web tersebut yang sangat berguna untuk keperluan riset UX. Selain itu, bagaimanapun juga CCT merupakan bagian dari Google Chrome sehingga kita masih melihat bar atas khas milik Google Chrome yang menampilkan alamat URL.

 

Apa Bedanya Trusted Web Activities dengan 2 Metode di Atas?

Tentu saja TWA merupakan teknologi yang lebih baru bila dibandingkan dengan 2 metode tersebut. TWA hampir mirip dengan CCT tapi sama sekali tidak menampilkan UI dari browser dalam hal ini Google Chrome. Bar paling atas di mana kita bisa melihat alamat URL tidak lagi tampak. Hal ini berguna bagi native app untuk menampilkan atau mengupdate kebijakan privasi dan konten statis lainnya sehingga pengguna merasa bahwa mereka masih di app yang sama.

Fungsi yang paling penting dari TWA seperti yang telah disebutkan dalam judul artikel ini yaitu membuat PWA yang telah kita bangun bisa didistribusikan via Google Play Store. Pengguna tidak lagi harus mengetik URL dalam Chrome dan menekan menu ‘Add to Homescreen’ untuk menginstall PWA. Cara menginstall PWA yang sudah mendukung TWA sama persis dengan menginstal aplikasi native lainnya.  File APK yang akan diunduh oleh pengguna hanya sebesar beberapa ratus KB saja. ServiceWorker dalam PWA dapat berjalan mulus seperti yang diharapkan sehingga sama seperti PWA ‘standar’ yang dapat dibuka secara offline.

Walaupun lebih canggih daripada CCT, TWA masih mewariskan kekurangan CCT yang lain yaitu native app tidak bisa mengakses web state karena pada dasarnya aplikasi ini masih berjalan di atas Chrome. Oleh karena itu, sangat disarankan kepada para developer untuk meletakkan metode login di dalam web app dengan OAuth bukan di dalam package APK.

 

Apa yang Harus Dipenuhi Agar PWA Kita Dapat Didistribusikan Melalui Google Play Store?

Dalam pengerjaan proyek TWA ini, seorang web developer membutuhkan tools tambahan di luar proyek PWA biasa. Jadi tidak hanya mengandalkan code editor dan server saja. Tools yang dibutuhkan antara lain:

  • Android Studio
  • TWA Support Library
  • Google Play Developer Account (Premium)

Dalam PWA, selama ServiceWorker dan web app kita berjalan tanpa masalah, pengunjung langsung dapat ‘menginstal’  web app kita. Jika ingin mendistribusikannya melalui Google Play Store tentu saja akan sedikit lebih ribet. TWA tidak serta merta membuat Google mau mendistribusikan di Play Store miliknya. Berikut ini syarat yang harus dimiliki PWA agar dapat didistribusikan di Play Store:

  • Tidak melanggar kebijakan Google Play
  • Dapat diinstall
  • Skor performa Lighthouse (tools untuk debugging PWA) harus di atas 80
  • Direkomendasikan untuk memiliki kebijakan privasi

 

***

Akhir kata, dengan hadirnya TWA ini pasar web development akan semakin ramai. Jika Anda seorang web developer yang menguasai banyak teknologi termasuk PWA di dalamnya, pilihan Anda untuk menginvestasikan waktu dan pikiran dalam menguasai skill ini sudah tepat. Jika Anda masih ingin meningkatkan kemampuan web development dengan menguasai teknologi PWA, Anda dapat mengikuti kelas pelatihan Progressive Web App dari Inixindo Jogja.

WhatsApp chat Chat via Whatsapp