Susahnya Mengatur Sirkulasi Udara di Data Center

Feb 22, 2018 | Article, Halaman Depan, Knowledge Center |

Coba tanya ke bagian IT di korporat-korporat besar biaya yang paling besar untuk sebuah data center, pasti mereka dengan kompak menjawab “server!” Memang benar bagi sebagian bisnis biaya hardware memiliki porsi yang paling besar dibandingkan dengan yang lain. Tapi ada yang lepas dari perhatian kita, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menjaga temperatur server.

Jika data center di perusahaan Anda tidak berjalan efisien, biaya yang dikeluarkan justru akan membengkak, lebih besar dari biaya membeli hardware baru. Solusi yang paling sederhana untuk menjaga temperatur server tetap rendah adalah dengan menghembuskan udara dingin. Tapi solusi yang paling sederhana bukan berarti solusi tersebut yang paling efisien.

IDC Data Center Survey menemukan fakta bahwa 24% biaya yang dikeluarkan dalam mengelola data center habis digunakan untuk sistem pendingin. Jika korporasi besar di Amerika Serikat bisa menghabiskan dana 1,2 juta dollar untuk sebuah data center, 300 ribu dollar-nya lari ke biaya pendingin.

Memang seiring dengan berkembangnya teknologi VM(Virtual Machine), efisiensi  dari sebuah mesin server semakin hari semakin tinggi. Semakin kecil tenaga yang dikeluarkan semakin kecil pula panas yang dihasilkan. Tapi meskipun begitu, seiring bertambahnya rak server yang sejalan dengan berkembangnya bisnis suatu perusahaan mengakibatkan jarak setiap rak server semakin rapat. Hai inilah yang kemudian membuat sirkulasi udara di dalam data center menjadi terhambat.

Data dari IDC juga menyimpulkan bahwa sebagian besar server bahkan tidak dapat melampaui batas efisiensi  wajar yang diukur dalam satuan PUE (Power Usage Efficiency). Satuan tersebut memuat perbandingan antara total tenaga yang dibutuhkan dengan tenaga yang benar-benar terpakai untuk kepentingan IT.

Sebagai perbandingan, nilai 1.0 PUE memiliki arti bahwa data center tersebut sangatlah efisien. Sedangkan angka 2.0 sampai 3.0 dapat dikategorikan sebagai sangat tidak efisien. Google dan Facebook sudah memenuhi nilai efisiensi ini dengan skor masing-masing sebesar 1.12 dan 1.04.

Lalu apa yang dapat kita lakukan agar suhu data center dapat terjaga tanpa membuat bengkak tagihan listrik? Pada tahun 2010 Bob Sulivan dari IBM memperkenalkan konsep “lorong panas/dingin.”  Konsep ini mewajibkan sebuah data center menaruh rak server saling berhadapan . Akan ada dua jenis lorong, lorong panas dan lorong dingin.

Konsep hot/cold aisle yang dikemukakan oleh Bob Sulivan.

Lorong panas adalah lorong di mana server saling berhadapan. Lorong ini tempat server menghembuskan udara panas. Di atas lorong ini pula exhaust system diletakkan sehingga dapat langsung menyedot udara panas keluar.

Sedangkan untuk lorong dingin, di sinilah tempat di mana server saling membelakangi. Udara dingin dihembuskan dari bawah lorong ini. Di atas rak server biasanya diletakan sekat agar udara dingin dan panas tidak tercampur.

OK.Kalau cara ini efektif dan efisien untuk menjaga suhu data center, pasti semua data center memakai konsep ini bukan? Jawabannya tidak! Kenapa? Faktor manusia sangat berpengaruh dalam menentukan desain sebuah data center.

Dalam konsep yang dirancang oleh Bob Sulivan ini akan membuat suhu udara di dalam setiap lorong  (aisle) menjadi tidak nyaman untuk bahkan sekedar dilewati oleh manusia. Suhu lorong ‘panas’ di mana rak server saling berhadapan akan membuat petugas data center yang biasa melakukan maintenance merasa gerah.  Sementara udara di lorong ‘dingin’ tetap harus bebas dari semua hal yang dapat mengganggu sirkulasi udara seperti badan manusia.

Selain itu konsep ini, juga memerlukan perhitungan yang akurat tentang lebar lorong, tekanan udara, dan suhu udara di luar ruangan. Jika Anda merasa tertantang dengan permasalahan teknis data center, Anda dapat mengikuti pelatihan/training CDCP di INIXINDO Jogja.

Chat via Whatsapp