Di banyak organisasi, proyek IT masih dinilai berhasil ketika selesai tepat waktu dan sesuai anggaran. Namun di balik indikator tersebut, muncul pertanyaan yang semakin sering diajukan oleh pimpinan: apakah proyek ini benar-benar menciptakan nilai bagi bisnis?

Data industri menunjukkan bahwa keraguan ini beralasan. Project Management Institute (PMI) melaporkan bahwa hanya sekitar 55% proyek yang benar-benar mencapai tujuan bisnis awalnya, sementara organisasi kehilangan rata-rata 11–12% nilai investasi proyek akibat pendekatan manajemen proyek yang tidak efektif. Masalahnya bukan pada teknologi, melainkan pada cara proyek dikelola.

Ketika Kompleksitas Mengalahkan Pendekatan Tradisional

Proyek IT modern jarang bersifat linear. Kebutuhan berubah cepat, teknologi berkembang di tengah proyek, dan ekspektasi stakeholder meningkat seiring waktu. Dalam konteks ini, pendekatan manajemen proyek yang terlalu kaku justru memperbesar risiko.

Inilah latar belakang mengapa Agile IT Project Management berkembang luas. Agile tidak dirancang untuk memastikan rencana awal dijalankan dengan disiplin tinggi, tetapi untuk memastikan organisasi mampu belajar dan beradaptasi lebih cepat daripada perubahan itu sendiri.

PMI mencatat bahwa organisasi yang mengadopsi Agile memiliki tingkat keberhasilan proyek hingga 28% lebih tinggi dibandingkan organisasi yang tidak. Agile membantu proyek mendeteksi kesalahan lebih awal, mengurangi biaya koreksi di tahap akhir, dan memastikan solusi yang dikembangkan tetap relevan dengan kebutuhan bisnis.

DMBOK hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan menyediakan best practice pengelolaan data yang terstruktur, terukur, dan selaras dengan tujuan bisnis. Organisasi dengan data governance yang matang terbukti memiliki peluang lebih tinggi untuk menskalakan AI ke level enterprise, bukan berhenti pada tahap pilot project.

PMBOK® Guide Edisi ke-7: Sinyal Perubahan dari PMI

Transformasi ini juga tercermin jelas dalam PMBOK® Guide Edisi ke-7. Berbeda dari edisi sebelumnya yang dikenal sangat proses-sentris, PMBOK 7 mengambil pendekatan yang lebih fundamental: mengapa proyek dijalankan, bukan hanya bagaimana proyek dijalankan.

PMBOK 7 menempatkan prinsip, kepemimpinan, dan value delivery sebagai inti manajemen proyek. Pendekatan ini mengakui satu realitas penting: proyek yang patuh pada proses belum tentu menghasilkan manfaat bisnis. Keberhasilan proyek kini diukur dari outcome dan dampaknya, bukan sekadar kelengkapan deliverable.

Bagi organisasi IT, perubahan ini membuka ruang untuk menerapkan Agile dan pendekatan hybrid tanpa harus meninggalkan tata kelola proyek.

Agile dan PMBOK 7: Dua Jawaban untuk Masalah yang Sama

Agile dan PMBOK 7 sering dipersepsikan sebagai dua dunia yang berbeda. Namun jika dilihat lebih dekat, keduanya justru menjawab persoalan yang sama dari sudut pandang berbeda.

Agile beroperasi di level eksekusi, bagaimana tim bekerja, berkolaborasi, dan merespons perubahan. PMBOK 7 beroperasi di level prinsip, bagaimana keputusan diambil, bagaimana nilai didefinisikan, dan bagaimana proyek tetap selaras dengan strategi organisasi.

Kombinasi keduanya memungkinkan organisasi menjaga kontrol tanpa mengorbankan kecepatan. Ini menjadi semakin penting pada proyek transformasi digital, pengembangan sistem inti, dan inisiatif IT strategis lainnya.

Dari Delivery ke Value Realization

Salah satu pergeseran paling penting dalam PMBOK 7 adalah fokus pada value realization. Pendekatan ini sejalan dengan Agile, yang menekankan delivery bertahap dan validasi berkelanjutan.

Studi McKinsey & Company menunjukkan bahwa organisasi yang menerapkan pendekatan Agile dalam transformasi digital mampu mempercepat time-to-market hingga 30–50%, sekaligus meningkatkan tingkat adopsi solusi oleh pengguna. Artinya, nilai bisnis direalisasikan lebih cepat, dan risiko investasi dapat dikendalikan sejak dini.

Dalam konteks ini, manajemen proyek bukan lagi fungsi administratif, melainkan mekanisme strategis untuk melindungi dan memaksimalkan nilai investasi IT.

Implikasi bagi Pimpinan dan Organisasi

Perubahan pendekatan ini membawa implikasi besar bagi pimpinan, PMO, dan organisasi IT. Tantangan utama bukan lagi memilih framework, melainkan membangun kapabilitas untuk mengambil keputusan berbasis nilai di tengah ketidakpastian.

Organisasi yang berhasil bukan yang paling patuh pada metodologi, tetapi yang mampu:

  • Menjaga alignment antara IT dan strategi bisnis

  • Mengelola risiko secara adaptif

  • Memastikan proyek memberikan manfaat yang dapat dirasakan pengguna

Agile IT Project Management dan PMBOK® Guide Edisi ke-7 memberikan kerangka yang relevan untuk menjawab tantangan tersebut.

Data industri menunjukkan arah yang semakin jelas: pendekatan lama dalam mengelola proyek IT tidak lagi memadai. Kompleksitas, kecepatan perubahan, dan tekanan nilai menuntut pendekatan yang lebih adaptif dan berbasis prinsip.

Agile IT Project Management dan PMBOK® Guide Edisi ke-7 bukan sekadar tren metodologi, melainkan refleksi dari cara baru organisasi menciptakan nilai melalui proyek IT. Bagi organisasi yang ingin memastikan investasi digital benar-benar berdampak, perubahan ini bukan lagi pilihan melainkan kebutuhan strategis.