Selama bertahun-tahun, peran IT di banyak organisasi masih diposisikan sebagai pendukung operasional. Fokusnya menjaga sistem tetap berjalan, meminimalkan gangguan, dan mengendalikan biaya. Pendekatan ini mungkin relevan di masa lalu, namun di era digital saat ini, IT tidak lagi berada di belakang bisnis namun IT berada di pusat strategi bisnis.

Perubahan lanskap bisnis, akselerasi digital, dan meningkatnya ketergantungan pada data membuat peran Chief Information Officer (CIO) mengalami transformasi besar. CIO tidak lagi cukup menjadi pengelola teknologi, tetapi dituntut menjadi penggerak utama nilai bisnis.

Pergeseran Ekspektasi terhadap Peran CIO

Menurut Gartner, lebih dari 60% CIO saat ini bertanggung jawab langsung terhadap pencapaian outcome bisnis, bukan sekadar keberhasilan implementasi teknologi. Gartner bahkan menegaskan bahwa CIO modern harus berperan sebagai business leader first, technology leader second.

Ekspektasi ini sejalan dengan temuan PwC Global CEO Survey, yang menunjukkan bahwa 97% CEO telah mengubah cara organisasi mereka menciptakan nilai, dengan teknologi sebagai enabler utama transformasi.

Data ini menegaskan satu hal penting: strategi IT dan strategi bisnis kini tidak bisa dipisahkan.

IT Bukan Lagi Cost Center, tetapi Sumber Pertumbuhan

Transformasi digital terbukti berdampak langsung pada kinerja bisnis. IDC memproyeksikan bahwa pada tahun 2027, lebih dari 40% pendapatan organisasi di Asia Pasifik akan berasal dari produk dan layanan digital.

Artinya, IT telah berevolusi dari pusat biaya menjadi mesin pertumbuhan bisnis. CIO visioner memahami bahwa setiap keputusan teknologi harus dikaitkan dengan kontribusinya terhadap pendapatan, efisiensi strategis, dan daya saing perusahaan.

Dari IT Operator ke Strategic Business Partner

Perubahan peran CIO juga tercermin dari cara mereka terlibat dalam organisasi. Laporan State of the CIO dari CIO.com menunjukkan bahwa:

  • Lebih dari 80% CIO terlibat langsung dalam inisiatif transformasi bisnis
  • Hampir 50% CIO kini menghabiskan lebih banyak waktu pada aktivitas strategis dibandingkan operasional

CIO visioner tidak menunggu permintaan dari unit bisnis. Mereka proaktif menerjemahkan tujuan bisnis ke dalam roadmap teknologi, sekaligus menjadi mitra strategis CEO dan jajaran direksi dalam pengambilan keputusan jangka panjang.

Mengapa Banyak Transformasi Digital Gagal

Meski investasi teknologi terus meningkat, hasilnya sering tidak sesuai harapan. McKinsey mencatat bahwa sekitar 70% inisiatif transformasi digital gagal mencapai target bisnisnya, terutama karena lemahnya kepemimpinan dan kurangnya alignment antara IT dan bisnis.

Kegagalan ini menunjukkan bahwa transformasi digital bukan masalah teknologi, melainkan masalah kepemimpinan strategis. CIO visioner membedakan diri dengan fokus pada outcome bisnis, bukan sekadar implementasi tools.

Data, AI, dan Tanggung Jawab Strategis CIO

Adopsi AI menjadi prioritas banyak organisasi, namun hasilnya tidak selalu optimal. Gartner menegaskan bahwa kualitas data dan data governance adalah faktor kunci keberhasilan AI, bukan kecanggihan algoritma.

Di sinilah peran CIO menjadi krusial yaitu memastikan data dikelola sebagai aset bisnis yang aman, berkualitas, dan siap digunakan untuk pengambilan keputusan strategis.

CIO sebagai Pemimpin Perubahan

Transformasi digital selalu berdampak pada budaya dan cara kerja. Menurut McKinsey, organisasi dengan kepemimpinan digital yang kuat memiliki peluang 1,5 kali lebih besar untuk berhasil dalam transformasi.

CIO visioner tidak hanya memimpin teknologi, tetapi juga:

  • Mendorong kolaborasi lintas fungsi
  • Meningkatkan literasi digital organisasi
  • Menghilangkan sekat antara IT dan bisnis

Implikasi bagi CIO dan IT Leader di Indonesia

Bagi CIO dan IT leader di Indonesia, tantangannya jelas: menaikkan peran IT dari fungsi operasional menjadi fungsi strategis. Hal ini membutuhkan kombinasi pemahaman bisnis, kerangka kerja global, serta kemampuan leadership dan governance yang matang.

Transformasi peran CIO tidak terjadi secara instan, ia membutuhkan pengembangan kompetensi yang terstruktur dan berkelanjutan.

Di era digital, keunggulan bisnis tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, tetapi oleh seberapa visioner kepemimpinan CIO dalam mengelola dan memanfaatkannya.

Pertanyaannya kini:

Apakah peran IT di organisasi Anda masih sebatas pendukung operasional, atau sudah menjadi penggerak utama bisnis?

Menjadi CIO Visioner: Mengubah Peran IT dari Pendukung Operasional Menjadi Penggerak Utama Bisnis 1