Benarkah Belajar Coding Saat Ini Lebih Mudah Dibanding Dulu?

Benarkah Belajar Coding Saat Ini Lebih Mudah Dibanding Dulu?

Minat orang-orang untuk belajar pemrograman atau yang sekarang lebih ngetren disebut dengan belajar coding meningkat pesat belakangan ini. Selain karena kebutuhan industri dan sumber daya manusia untuk bidang tersebut memang meningkat, banyak di antara anak-anak muda yang menjadikan pemrograman sebagai hobi. Bisa menciptakan suatu program untuk memecahkan masalah yang dialami sendiri atau orang lain tentu menjadi tantangan sendiri bagi mereka.

Banyak orang yang bilang anak-anak sekarang hidupnya lebih enak apalagi kalau mau belajar sesuatu hal yang baru terutama belajar yang agak-agak berbau teknologi informasi atau IT. Sudah ada Google dan Wikipedia yang bisa menjelaskan semua hal yang ingin diketahui. Tinggal ketik kata kuncinya, ribuan halaman web tersedia dari institusi resmi maupun blog personal.

Lalu benarkah belajar coding sekarang lebih gampang bila dibandingkan dengan dulu? Belum tentu! Banyak juga hal-hal yang ada sekarang justru membuat kita semakin susah untuk belajar pemrograman. OK, mari kita bandingkan kondisi yang mempermudah dan yang mempersulit belajar coding saat ini.

 

Kondisi Yang Mempermudah Belajar Coding

 

Hadirnya Internet

Sebenarnya alasan ini sudah dibahas di awal artikel. Yup! Dengan kehadiran internet, kita dengan mudah bertanya apa saja ke mesin pencari seperti Google. Bahkan jika kita aktif di forum seperti Stack Overflow seringkali kita disuguhkan dengan kode yang sudah jadi. Cukup tekan “ctrl+C” dan “ctrl+V” saja untuk menyalin kode tersebut ke text editor yang kita gunakan seperti Sublime, Atom, atau Visual Studio.

Adanya internet juga mempermudah kita untuk mendapatkan tools dan dependencies yang dibutuhkan. Cuma butuh kesabaran dalam mengunduh file-file yang dibutuhkan dengan koneksi di negara kita yang alakadarnya ini.

 

Lahirnya Bermacam-macam Framework

Adalah sebuah kodrat jika manusia suka dengan hal yang cepat dan instan, seperti mie kardus yang laris dimana-mana. Begitu juga dengan bahasa pemrograman. Jangan mengaku gaul di dunia coding kalau belum pernah mencoba framework yang dibuat di atas bahasa pemrograman tertentu seperti Laravel, Vue.js, Spring, .NET, dan lain sebagainya.

Framework memang dibuat untuk memudahkan para developer untuk menuliskan kode pemrogramannya. Dengan framework, beberapa baris kode bisa disingkat menjadi satu baris kode saja. Selain memudahkan para developer, framework ini juga dianggap sebagai dewa penyelamat bagi orang yang sedang belajar coding tapi juga ingin langsung praktek membuat suatu project sendiri.

 

Coding Bootcamp yang Kian Menjamur

Bagi yang belum mengetahui istilah yang digunakan pada sub judul di atas, coding bootcamp adalah program pelatihan intensif belajar pemrograman. Biasanya yang sering kali diajarkan dalam coding bootcamp ini adalah pemrograman web dan mobile. Mungkin karena memang dua hal tersebut lebih sederhana daripada membuat aplikasi desktop.

Ada bermacam-macam metode coding bootcamp. Ada metode online yang tidak mewajibkan peserta datang ke tempat pelatihan dan ada metode offline yang mewajibkan pesertanya hadir ke ruang kelas. Seringnya penyedia layananan coding bootcamp ini tidak mematok syarat yang tinggi untuk menjadi pesertanya. Minimal paham caranya menggunakan komputer dan internet, walaupun ada beberapa bootcamp yang menyeleksi ketat pesertanya karena keterbatasan tempat.

Adanya coding bootcamp ini membuat orang-orang tidak harus kuliah di jurusan IT untuk bisa membuat aplikasi web atau mobile. Dan mengingat bahwa banyak tech start up yang tidak mensyaratkan ijazah dari Teknik Informatika dalam menerima karyawan baru, semakin menambah semangat kita yang ingin atau sedang belajar coding.

(Jika Anda tertarik dengan coding bootcamp dari Inixindo Jogja silakan menuju laman full-stack web programming bootcamp.)

 

Orang Yang Mengerti IT Jauh Lebih Banyak

Setidaknya di zaman sekarang, pemahaman IT masyarakat Indonesia sudah cukup lumayan. Hampir setiap orang yang kita jumpai paling tidak memiliki komputer kecil berwujud smartphone di sakunya. Hampir setiap universitas pun punya jurusan IT. Kenapa hal ini membantu? Ya paling tidak semakin besar jumlah orang yang paham IT semakin besar pula kemungkinan orang yang kita kenal bisa kita jadikan Google berjalan yang siap ditanya-tanya saat mengobrol di warung kopi atau di warteg.

Selain untuk ditanya-tanya, kehadiran teman yang memiliki minat dan keahlian di bidang yang sama tentu saja akan memberikan dukungan psikologis. Itulah kenapa komunitas sering berkumpul untuk sekedar sharing.

 

Kondisi Yang Mempersulit Belajar Coding

 

Teknologi Yang Berkembang Terlalu Cepat

Semakin canggih teknologi tentu saja juga mendatangkan masalah baru yaitu perubahan yang sangat cepat. Masalah ini sering dialami oleh mahasiswa IT yang baru saja lulus dari perguruan tinggi. Materi-materi kuliah yang diajarkan pada awal semester terkadang sama sekali berbeda dengan kondisi saat mereka lulus. Satu per satu framework lahir menggantikan framework populer yang dipakai sebelumnya.

Repotnya lagi, industri saat ini menuntut para calon karyawannya untuk menguasai framework baru. Tidak sedikit dari mahasiswa yang belum sempat istirahat sambil kipas-kipas setelah wisuda harus belajar lagi agar bisa diterima di perusahaan tempat incarannya untuk bekerja. Kondisi inilah yang kadang-kadang membuat bingung orang yang akan belajar coding. Mereka takut pembelajarannya akan sia-sia setelah setahun atau dua tahun lagi.

 

Distraksi

Sebenarnya ini adalah hambatan yang muncul dari faktor internal diri kita sendiri. Pernakah Anda mencari-cari tutorial di internet dan tanpa Anda sadari Anda tiba-tiba menonton video musik yang sedang populer saat ini? Jika pernah, Anda tidak sendirian.

Jika dulu hanya ada komputer, buku teknis tentang pemrograman, dan cemilan saat kita belajar. Sekarang kita diberikan pilihan konten yang dapat mendistraksi fokus kita dalam belajar coding. Tentunya hal ini akan mengurangi efisiensi waktu yang dibutuhkan untuk mendalami dan mempraktikkan setiap baris kode yang kita dalami.

 

Project Dengan Skala Besar

Hadirnya platform kolaborasi dalam pemrograman seperti Git membuat suatu project berkembang dari skala kecil hingga ke skala besar dengan sangat cepat. Lalu? Jika Anda baru belajar coding dan belum punya pengalaman mengerjakan project dengan skala besar, bersiaplah untuk ternganga melihat ribuan baris kode yang dibuat oleh puluhan orang. Tentu saja dengan alur logika mereka masing-masing.

Satu hal yang lebih susah daripada coding itu sendiri adalah memahami kode yang dibuat oleh developer lain. Hal ini akan terasa mudah saat dulu procedural programming masih berjaya dan belum diserang oleh “negara api” (object-oriented programming, Red.).  Memang secara garis besar OOP (object-oriented programming) memang dibuat untuk memudahkan developer dalam mengembangkan aplikasi dengan skala besar, tapi beda ceritanya jika kita masuk saat project berjalan ditengah-tengah dan kita harus melakukan reverse engineering terhadap aplikasi yang dibuat oleh banyak orang.

 

Telah sampailah kita pada penghujung artikel yang tidak memberikan kesimpulan dan agak berbau click bait ini. Lalu bagaimana tips dan trik agar belajar coding atau pemrograman bisa berjalan efektif dan menyenangkan? Baca artikel dari kami tentang 7 jurus (tips & trik) belajar coding secara otodidak!

Microsoft Membuat OS Berbasis Linux untuk IoT

Microsoft Membuat OS Berbasis Linux untuk IoT

Pada tahun 2001, Steve Ballmer CEO perusahaan software raksasa Microsoft saat itu pernah mengeluarkan pernyataan yang dianggap sebagai penabuh genderang perang antara Microsoft dan Linux. Dia mengatakan bahwa Linux itu bagaikan kanker yang menggerogoti sistem hak kekayaan intelektual di setiap hal yang berhubungan dengan kernel tersebut. Kalimat inilah yang kemudian menimbulkan sentimen negatif pada pengguna masing-masing OS.

Hampir dua dekade berlalu dan kita dikejutkan dengan peluncuran Microsoft Azzure Sphere pada hari Senin kemarin. Microsoft Azure Sphere adalah sebuah chip Micro Controller Unit (MCU) yang didesain sendiri oleh Microsoft untuk peralatan-peralatan Internet of Things (IoT). Microsoft Azure Sphere sendiri akan menggunakan Azure Sphere OS yang menggunakan kernel Linux yang telah dikustomisasi.

“Memang kita adalah perusahaan yang membuat Windows, tapi kita menyadari bahwa solusi terbaik untuk komputer seukuran mainan anak-anak bukanlah versi penuh dari Windows,” kata Brad Smith, presiden dan sekaligus Chief Legal Officer (CLO) Microsoft saat diwawancarai CNBC di acara tersebut.

Jika kita mengikuti berita teknologi, keputusan Microsoft untuk menggunakan kernel Linux sebenarnya tidak seberapa mengagetkan lagi. Tahun 2016 lalu Microsoft resmi terdaftar dalam Linux Foundation, sebuah organisasi pendanaan untuk proyek open source Linux. Selain itu, Microsoft juga mengubah nama layanan cloud yang semula dinamai Windows Azure menjadi Microsoft Azure dan mengeluarkan versi Linux untuk software database SQL Server mereka.

Selain itu, bulan lalu telah terjadi reorganisasi besar-besaran di tubuh Microsoft yang menyebabkan beberapa petinggi dari divisi Microsoft’s Windows kehilangan kursi di tim senior leadership. Hal ini bisa dijadikan pertanda bahwa visi Microsoft ke depannya lebih terfokus pada layanan cloud.

Microsoft Membuat OS Berbasis Linux untuk IoT 1

Microsoft sendiri ‘menggratiskan’ lisensi desain arsitektur dari chip Azure Sphere ini. Microsoft juga menggandeng MediaTek untuk menjadi produsen pionir chip Azure Sphere ini. Fokus Microsoft Azure Sphere beserta OS-nya ini adalah keamanan karena Microsoft Azure Sphere akan memungkinkan setiap peralatan elektronik terhubung dengan jaringan internet.

Kehadiran Azure Sphere ini melengkapi portfolio Microsoft di platform infrastruktur layanan cloud yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Microsoft juga membebaskan penyedia layanan cloud yang lain seperti Google, IBM, dan Amazon untuk memanfaatkan teknologi ini.

Dalam waktu dekat memang belum ada produk yang bisa dinikmati oleh end-user tapi banyak perwakilan dari produsen elektronik yang menyatakan tertarik untuk menerapkan konsep IoT ke peralatan yang dibuatnya.

Mendalami Sertifikasi IT : Jaringan

Mendalami Sertifikasi IT : Jaringan

Di dunia profesional, seringkali HRD perusahaan bersusah payah dalam menentukan apakah calon pelamar memiliki kompetensi dalam suatu keahlian atau tidak. Hal ini juga sering dijumpai di perusahaan-perusahaan IT. Terlebih lagi banyaknya kosentrasi bidang di dunia IT lumayan banyak dan setiap konsentrasi belum tentu dipahami oleh orang yang berkecimpung di konsentrasi yang berbeda. Mungkin akan berbeda ceritanya jika perusahaan mencari software developer. Perusahaan tersebut dapat mengambil keputusan berdasarkan portfolio yang dimiliki. Walaupun tentu saja menilai orang dari portfolio yang dimiliki tidak semudah yang kita bayangkan.

Karena hal tersebut, lahirlah sertifikasi di bidang IT. Tidak jarang perusahaan yang membutuhkan tenaga di jaringan komputer kemudian mensyaratkan sertifikasi sebagai syarat untuk melamar pekerjaan di perusahaannya. Tentunya banyak sekali sertifikasi di konsentrasi dan spesialisasi masing-masing. Di artikel kali ini kita akan fokus di masalah jaringan komputer. Kenapa jaringan? Ya karena memang jaringan komputer adalah bidang yang paling membutuhkan sertifikasi. Perusahaan umum tidak mungkin menyelenggarakan tes praktek langsung untuk calon karyawan IT dengan spesialisasi jaringan karena menyiapkan alat-alatnya saja sudah cukup merepotkan.


 

Jenis-Jenis Sertifikasi Jaringan Komputer

Secara umum, sertifikasi jaringan dibagi menjadi dua yaitu vendor specific certification dan vendor neutral certification. Vendor specific certification adalah sertifikasi yang dikeluarkan oleh vendor. Dalam hal ini tentu saja siapa lagi kalau bukan Cisco, Mikrotik, Juniper, dsb. Sedangkan untuk vendor neutral certification, penyelenggara sertifikasi untuk jaringan bisa dibilang sangat jarang. Yang cukup dikenal oleh kalangan profesional adalah CompTIA. Sebenarnya ada satu lagi yaitu EC Council tapi EC Council lebih dikenal sebagai lembaga yang mengeluarkan sertifikasi di bidang keamanan informasi. Dan memang yang sering banyak digunakan oleh perusahaan adalah sertifikasi vendor specific. Untuk itu, yuk kita bahas secara mendalam tentang macam-macam vendor specific certification!

Sertifikasi Cisco

Siapa yang tak kenal dengan Cisco? Orang bukan dengan latar belakang IT pun banyak yang mengetahui Cisco. Bagi yang belum mengetahui Cisco dan untuk menghindari kebingungan antara Cisco dan Disco jenis musik, kami akan menjelaskan sedikit tentang brand vendor ini.

Cisco didirikan tahun 1984 oleh mahasiswa Stanford. Karena menggunakan fasilitas Universitas untuk proyek ini, Cisco pernah dituntut oleh Stanford atas pencurian hak kekayaan intelektual walaupun pada tahun 1987 akhirnya Stanford University memberikan lisensi router beserta software-nya kepada Cisco.Pada saat demam dot-com di tahun 2000-an, Cisco pernah menduduki the most valuable company. Cisco memang manaruh effort yang tinggi untuk pelatihan dan sertifikasi teknisinya secara global.

Secara umum ada empat tingkatan dalam sertifikasi Cisco yaitu

  1. CCENT (Cisco Certified Entry Network Technician)
  2. CCNA (Cisco Certified Network Associate)
  3. CCNP (Cisco Certified Network Professional)
  4. CCIE (Cisco Certified Network Expert)

Masing-masing tingkatan setelah CCENT mempunyai spesialisasi masing-masing yaitu :

  • Industrial/IoT Network Engineer
  • Network Designer
  • Wireless Network Engineer
  • Network Security Engineer
  • Network Engineer (routing & switching)
  • Collaboration Architect/Engineer
  • Data Center Engineer
  • Cloud Network Engineer
  • Service Provider Network Engineer

Mendalami Sertifikasi IT : Jaringan 2

Tingkatan di masing-masing spesialisasi tersebut merupakan pre requirement yang artinya jika seseorang mempunyai sertifikasi CCNA wireless network, orang tersebut tidak bisa langsung mengambil CCNP untuk spesialisasi cloud network. Untuk spesialisasi industrial/IoT hanya satu tingkatan saja yaitu CCNA. Khusus untuk spesialisasi Network Designer kata network pada tingkatan sertifikasi diganti dengan network. Contoh : CCNA (Cisco Certified Network Associate) diganti dengan CCDA (Cisco Certified Designer Associate).

Sertifikasi MikroTik

Di awal berdirinya, Mikrotik merupakan perusahaan penyedia router dan ISP system. Perusahaan ini menyediakan hardware maupun software untuk konektivitas internet dalam skala global.  Di Indonesia sendiri, penggunaan software maupun hardware Mikrotik sudah cukup populer. Alasannya? Apalagi selain harganya yang terjangkau bila dibandingkan dengan saingannya yaitu Cisco.

Perbedaan sertifikasi MikroTik dengan sertifikasi Cisco terletak pada jalur yang lebih singkat bila dibandingkan dengan sertifikasi milik Cisco. Kemiripannya adalah sertifikasi MikroTik juga dimulai dari satu titik yaitu MTCNA (MikroTik Certified Network Associate). Setelah memiliki sertifikasi MTCNA, seorang teknisi jaringan baru bisa memilih spesialisasinya seperti :

 

Mendalami Sertifikasi IT : Jaringan 3

  • MTCRE (MikroTik Certified Routing Engineer)
  • MTCWE (MikroTik Certified Wireless Engineer)
  • MTCTCE (MikroTik Certified Traffic Control Engineer)
  • MTCUME (MikroTik Certified User Management Engineer)
  • MTCIE (MikroTik Certified IPv6 Engineer)

Khusus untuk MTCRE masih ada sertifikasi lanjutan yaitu MTCINE (MikroTik Certified Inter-Networking Engineer).

Juniper

Produsen perangkat networking ini sebenarnya lebih dikenal di dunia dibandingkan dengan MikroTik terlebih lagi di level service provider. Level yang disediakan oleh Juniper juga hampir mirip dengan kepunyaan Cisco. Perbedaannya adalah jalur sertifikasi Juniper ini lebih spesifik dan tidak dimulai di titik yang sama. Untuk routing dan switching misalnya, Juniper membagi 2 jalur yaitu enterprise dan service provider. Untuk jelasnya dapat dilihat gambar di bawah ini :

 

Mendalami Sertifikasi IT : Jaringan 4

 


 

Bagaimana? Sudah siap untuk mengambil sertifikasi? Sebelum terburu-buru mendaftar ada baiknya jika kita mempersiapkan diri terlebih dahulu. Biaya untuk setiap sertifikasi tidak semurah membeli jajanan di kantin kampus atau warung penyetan di dekat kos karena sertifikasi IT untuk spesialisasi jaringan biasanya bersifat internasional. Artinya, sertifikasi ini berlaku di mana pun di seluruh dunia. Untuk sertifikasi CISCO misalnya, calon peserta tes sertifikasi harus membayar uang hingga jutaan rupiah. Jika dalam tes tersebut Anda gagal, Anda tidak bisa meminta kembali uang yang sudah Anda bayar. Jika Anda ingin mengulangi ujian Anda harus membayar lagi.

Banyak pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga yang berpartner dengan vendor sertifikasi seperti Inixindo Jogja (kunjungi halaman Sertifikasi di Bidang IT/TIK untuk melihat sertifikasi pada spesialisasi lainnya). Selain membantu Anda mempersiapkan diri dalam mengikuti ujian, pelatihan tersebut juga dapat menambah pengetahuan Anda tentang jaringan komputer.

 

Mana yang Lebih Loyal, Pengguna iOS Atau Android?

Mana yang Lebih Loyal, Pengguna iOS Atau Android?

Sebagai dua sistem operasi ponsel terbesar dunia, iOS dan Android selalu menawarkan fitur-fitur terbaik di dalamnya. Mana yang membuat pelanggannya lebih setia?

Pemilik smartphone dan tablet Android ternyata lebih loyal terhadap merek mereka daripada pengguna perangkat iOS Apple, menurut sebuah laporan baru. Studi dari Consumer Intelligence Research Partners (CIRP) menunjukkan bahwa 91% pemilik Android tetap setia terhadap OS mobile tersebut, dibandingkan dengan 86% pengguna IOS.

Data tersebut dikumpulkan sebagai bagian dari survei kuartalan terhadap 500 pengguna yang telah dilakukan oleh CIRP mulai Maret 2013 sampai Desember 2017. Untuk hasil terakhir, CIRP mengukur persentase pelanggan yang bertahan dengan setiap sistem operasi saat mengaktifkan telepon baru selama dua belas bulan, yang berakhir pada bulan Desember 2017. Penelitian tersebut menemukan bahwa selama periode terakhir loyalitas Android berjalan dari 89% menjadi 91%, sementara loyalitas IOS berkisar antara 85% dan 88%.

Persentase ini didasarkan pada perilaku konsumen di Amerika Serikat pada 2017 yang tetap setia dengan satu sistem operasi setelah mereka memutuskan mengganti ponselnya. CIRP menggaris bawahi jika tingkat penggantian perangkat berbeda dengan total orang yang mengganti ponselnya.Mike Levin, partner dan co-founder CIRP, mengatakan loyalitas merek untuk Apple IOS dan Android telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa.

“iOS dan Android bersaing lebih agresif seiring jumlah pembeli smartphone pertama kali menyusut,” ujar Mike Levin, co-founder dari CIRP.

“Dengan lebih sedikit pengguna sistem operasi smartphone lawas, pemilik telepon dasar, dan pembeli ponsel pertama kali, Android dan iOS sekarang sebagian besar mendapatkan dan kehilangan pengguna ke sistem operasi lain. Mengingat saat ini hanya ada dua sistem operasi yang menguasai pasar, para konsumen pun terlihat untuk memilih salah satu, mempelajarinya, membeli perangkatnya, lalu setia pada pilihannya tersebut,” lanjutnya.

Mana yang Lebih Loyal, Pengguna iOS Atau Android? 5

Ia menambahkan, Apple dan Google harus memikirkan cara untuk dapat terus menjual produk dan layanan keduanya kepada para pelanggan setia mereka. Hal ini pun terlihat dari sikap keduanya yang memang mencoba terus meningkatkan pendapatannya dengan bersumber pada konsumen setianya.

Bagi Apple, pertumbuhan yang ditunjukkan oleh layanan seperti Apple Music, Apple Pay, iCloud, Apple Care, dan App Store mampu membuat mereka menorehkan rekor pendapatan di sektor jasa pada November lalu.

Sedangkan untuk Android, banyaknya ponsel yang mengadaptasi sistem operasi ciptaan Andy Rubin ini membuat para pelanggan setia memiliki keleluasaan dalam mencoba berbagai varian smartphone tanpa menjadi ‘pembelot’ untuk mencoba pengalaman baru.

Menariknya, jika melihat waktu yang lebih lampau, 2013 misalnya, sejatinya pengguna iOS tampak lebih setia dibanding pemakai Android. Fenomena tersebut pun mulai berubah pada pertengahan 2014, dan sejak saat itu Android mampu mempertahankan, bahkan meningkatkan, loyalitas konsumennya di atas iOS.

Sementara itu, narasumber lainnya Josh Lowitz, mitra dan pendiri CIRP, mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Loyalitas pengguna Android sekarang sedikit melebihi pengguna IOS.”

“Seiring waktu, loyalitas Android meningkat secara bertahap, karena mencapai kesamaan dalam ketersediaan aplikasi, musik dan video, dan saat pengalaman pengguna di kedua platform menjadi lebih serupa,” ujarnya.

Pengguna Android juga mendapatkan keuntungan dari berbagai jenis ponsel yang berbeda dari produsen yang berbeda, yang memungkinkan mereka mengubah perangkat keras tanpa melakukan swtiching ke sistem operasi baru, Lowitz menambahkan.

Warung Pintar: Tradisional Bertemu Digital

Warung Pintar: Tradisional Bertemu Digital

Teknologi membuat segalanya menjadi “pintar”, dari ponsel pintar, televisi pintar, jam pinar, hingga sekarang ada yang namanya warung pintar!

Mungkin beberapa dari Anda telah melihatnya, sebuah kios atau warung di pinggir jalan dengan bentuk dan warna yang menarik perhatian, dengan tulisan “Warung Pintar” yang tertera. Apakah warung pintar itu?

“Kenyataan bahwa teknologi seharusnya dapat diakses oleh siapa saja, maka Warung menjadi wadah yang tepat bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk mengambil peran dalam ekonomi digital,” ujar CEO Warung Pintar, Agung Bezharie dalam keterangan pers yang dilansir dalam KompasTekno.

Ya, bisa dikatakan warung pintar adalah sebuah revolusi warung yang lebih modern, dengan teknologi yang mempermudah bisnis, sekaligus inovasi ekonomi inklusif untuk masyarakat kecil. Sesuai namanya, Warung Pintar menggunakan pendekatan berbeda untuk melayani segmen masyarakat awam teknologi.

Tidak hanya menyediakan platform digital, Warung Pintar juga membangun platform fisik dan memberikan solusi end-to-end dari pencarian lahan, pendanaan, promosi, hingga pemasaran. Sehingga tak hanya dilengkapi dengan LCD, CCTV, dan charger smartphone, Warung Pintar memudahkan akses pemilik warung menemukan barang kebutuhan sehari-hari dengan harga lebih murah.

Memadukan kios kecil alias tradisional dan pengelolaan yang berbasis teknologi dengan mengedepankan tiga pilar yaitu Internet of Things (IoT), big data analytics dan blockchain. Masing-masing memiliki tujuan sendiri seperti IoT yang digunakan untuk meningkatkan akurasi pemasukan data ritel. Sementara big data analytics bertujuan untuk memahami perilaku para pelanggan, serta blockchain yang digunakan untuk menciptakan transparansi dan kepercayaan kepada pemilik warung.

Selain fasilitas lengkap yang tersedia, warung ini juga didukung dengan teknologi aplikasi keuangan canggih, yaitu MokaPOS. Aplikasi kasir ini diandalkan untuk mencatat transaksi dan keuangan di warung, sehingga transaksi daat terdata dengan rapi sehingga pemasukan dan pengeluaran warungnya secara pasti.

Fasilitas menarik dan penggunaan teknologi canggih seperti MokaPOS tentu tak hanya membawa memudahkan tetapi juga membantu pemilik warung kecil untuk dapat meningkatkan penjualan.

Berkenalan dengan Spring Creator’s Update, Windows 10 Terbaru

Berkenalan dengan Spring Creator’s Update, Windows 10 Terbaru

Microsoft terus merilis pembaruan baik mayor ataupun major untuk sistem operasi Windows 10. Perusahaan tersebut akan memberi nama upgrade fitur berikutnya untuk Windows 10 sebagai ‘Spring Creator’s Update’. Hal ini kemudian dikonfirmasi oleh developer khusus Microsoft yang memiliki akun @warnelidl dalam sebuah percakapan dengan WalkingCat, salah seorang developer legendaris Microsoft.

Microsoft awalnya berencana merilis update tersebut pada pertengahan Maret, akan tetapi dikerenakan adanya beberapa kendala update tersebut baru tersedia pada awal bulan April.

Windows 10 Spring Creators Update sendiri diperkirakan akan hadir dengan beragam fitur baru seperti Timeline, HDR, dan perubahan Fluent Design yang lebih baik serta menyeluruh ke hampir semua elemen di Windows 10.

Sementara itu, fitur-fitur yang sementara ini bisa kita nikmati di insider seperti Sets, belum terkonfirmasi kesiapannya, meskipun kemungkinan akan hadir dalam update besar kali ini. Yang jelas, Microsoft tampaknya masih berfokus pada penambahan fitur pada update ini. Beberapa glitch dan bug kemungkinan masih bisa kita temui.

Untuk saat ini, Microsoft tampaknya masih fokus dalam memperbaiki beberapa bug yang kemungkinan besar akan mengganggu pengalaman user saat menggunakan Windows 10 Spring Creators Update.