Jempol Era Digital

Jempol Era Digital

Selama 15 tahun terakhir, internet telah membangun utilitas di atas jaringan internet yang membuat inovasi lebih mudah dan lebih cepat. Misalnya, Amazon telah menciptakan bisnis layanan cloud yang memungkinkan perusahaan dan startup mendapatkan infrastruktur dan proses teknologi informasi (TI) dari Amazon. Amazon Web Services (AWS) telah membangun infrastruktur yang dapat mengakomodir permintaan yang cukup banyak dengan kapasitas yang cukup untuk digunakan orang lain. Microsoft, IBM, dan Google juga menawarkan layanan yang serupa. Perusahaan dapat menyewakan aplikasi bisnis mereka (untuk akuntansi dan keuangan, manajemen sumber daya manusia, pemasaran dan penjualan, kolaborasi, manajemen proyek, dan sebagainya) melalui layanan yang disediakan Microsoft, Salesforce.com, Workday, Hubspot, Yammer, Dropbox, Basecamp dan lainnya.

Jempol Era Digital 1

Kebutuhan akan TI sudah dirasakan hampir semua aspek bisnis tidak terkecuali pemasaran. Pemasaran yang dulunya lebih banyak menggunakan ilmu sosial dan ekonomi saat ini memiliki tantangan baru untuk menggunakan TI sebagai alat kerjanya.  Membuat perubahan dalam hubungan yang lebih dalam antara TI dan pemasaran membutuhkan waktu yang tidak singkat. TI memberikan pemahaman bisnis yang lebih dalam dan bertindak sebagai jembatan komunikasi antara dua departemen pemasaran dan TI, yang pada akhirnya membantu TI menghadirkan produk pemasaran yang lebih baik.

Aktifitas memperkenalkan merek atau sering disebut branding di media sosial dapat menghabiskan miliaran dolar setahun. 80% perusahaan yang berada pada daftar Fortune 500 memiliki halaman Facebook yang aktif. Ribuan bahkan lebih, konten branding – artikel, foto, video, diskon dan sebagainya- muncul di halaman Facebook dan di platform media sosial lain setiap harinya. Hal ini dibuat untuk menarik dan membuat orang untuk memutuskan membeli produk dari suatu merek.

Banyak orang menjustifikasi mempunyai follower banyak di media sosial meningkatkan frekuensi munculnya merek dan pada akhirnya akan meningkatkan penjualan. Dengan merekrut orang yang sudah terkenal di media sosial –sering disebut endorse- akan memberi efek kepada orang yang melihat dan memberikan like untuk lebih menghabiskan banyak uangnya. Kemudian akan membuat teman-teman mereka (dan teman dari teman mereka) juga melakukan pembelian. Banyak perusahaan telah menemukan bahwa pelanggan yang berinteraksi dengan mereka di media sosial menghabiskan lebih banyak uang daripada pelanggan lainnya. Sebuah studi menemukan bahwa orang-orang yang menyukai halaman Facebook Starbucks atau yang memiliki teman Facebook yang menyukai halaman tersebut menghabiskan 8% lebih banyak dan melakukan transaksi 11% lebih sering selama sebulan.

Mungkin benar, mempunyai banyak follower di media sosial mengakibatkan transaksi jual-beli lebih banyak. Tetapi di sisi lain mungkin saja pembelinya adalah orang-orang yang sudah memiliki perasaan positif terhadap suatu brand dan kebanyakan dari mereka sudah mengikutinya sejak awal, karena itulah mereka menghabiskan lebih banyak daripada orang yang tidak. Di penelitian lain yang mencoba memperbaiki ambiguitas penelitian sebelumnya membuktikan bahwa media sosial tidak berefek seperti yang pelaku marketing pikirkan di paragraph sebelumnya. Hal ini dilihat dari jumlah follower yang mengikuti suatu merek tertentu memang adalah pelanggan loyal yang menginginkan informasi terbaru mengenai produk-produknya. Jarang sekali orang menjadi follower suatu merk tanpa ada ketertarikan untuk membeli.

Jempol Era Digital 2

Untuk mengukur efek dari like di Facebook bagian pemasaran sering merasa sulit membuktikan ROI investasi media sosial. Inilah cara mudah yang ditulis oleh Leslie K. John dalam artikelnya, untuk mengukur nilai yang muncul sebagai efek dari suatu like yang orang berikan di Facebook :

    • Membuat Indikator

Sebuah indikator akan dibutuhkan khususnya untuk memberikan nilai pada sesuatu yang biasanya tidak berhubungan langsung dengan angka. Apa tujuan Anda dalam jumlah like yang diperoleh? Apakah untuk meningkatkan penjualan, mengubah perilaku offline, atau mencapai sesuatu yang lain? Indikator harus mencerminkan perilaku yang dapat diukur. Untuk beberapa indikator, seperti penjualan, pengukuran cukup mudah. Untuk yang lainnya, seperti sikap terhadap merek, mungkin perlu usaha yang ekstra, seperti melakukan dan mengelola survei.

    • Mengundang Target

Untuk membuat indikator tentu harus ada objek sasaran. Untuk itu, Anda perlu mengundang orang untuk menyukai halaman Anda. Salah satu cara sederhana adalah dengan mendapatkan alamat e-mail orang-orang di pasar sasaran Anda.

    • Dapatkan Likes

Dari seluruh sampel target, bagi menjadi 2 kelompok, “treatment group dan “control group”. Mintalah setengah sampel untuk menyukai halaman yang dibuat untuk pemasaran. Ini adalah “treatment group”. Setengah target lainnya akan membentuk “control group”. Kelompok ini akan dibiarkan untuk melakukan tindakan sesuai keinginan. Periksa aktivitas target di masing-masing kelompok sebagai referensi untuk analisa nantinya.

    • Konfirmasikan Asumsi

Periksa apakah like bekerja sesuai dengan yang diinginkan. Perlu dipastikan bahwa sebagian besar orang yang di-invite adalah orang yang sesuai dengan segmen pasar. Jumlah dapat diperkirakan dengan melihat peningkatan follower halaman Facebook pada saat Anda menyampaikan invitation.

    • Iklankan

Jalankan beberapa iklan di Facebook untuk mengekspos calon follower baru ke pesan pemasaran. Hal ini dapat dilakukan dengan membayar facebook-ads untuk mempromosikan posting.

    • Periksa tanggapan anda

Ukur perilaku yang didefinisikan di depan. Contohnya rata-rata pembelanjaan orang-orang dalam “treatment group” daripada pembelanjaan orang-orang dalam “control group”, perbedaan value dari like. Tentu hasilnya akan mengandung beberapa “noise”. Misalnya, mungkin akan ada kehilangan informasi pembelian orang yang mencapai proses pembelian menggunakan alamat e-mail yang berbeda dari alaat yang dimiliki. Untuk meningkatkan akurasi, carilah ukuran sampel yang besar dan pastikan daftar e-mail yang terbaru dan aktif.

Saat sedang mengembangkan strategi dan metodologi untuk setiap platform yang akan digunakan, lanjukan untuk meneliti dan melacak situs atau sistem lain yang digunakan pelanggan. Itu adalah kesempatan tambahan untuk menarik perhatian segmen pelanggan. Jika tidak yakin dengan platform lain tersebut, lakukan survei atau tanyakan beberapa pelanggan dimana lagi mereka aktif online saat ini. Menciptakan interaksi pelanggan pada berbagai platform akan memungkinkan Anda membangun hubungan yang lebih dalam dan lebih kuat dengan pelanggan.

 

 

Referensi

https://hbr.org/2012/02/your-marketing-can-keep-pace-w
https://hbr.org/2016/06/a-new-way-for-entrepreneurs-to-think-about-it
https://hbr.org/2016/12/why-marketing-needs-closer-ties-to-it
https://hbr.org/2017/03/whats-the-value-of-a-like

Rifai Samekta

Instruktur Senior Inixindo Jogja

Machine Learning, Bagaimana Internet Lebih Mengerti Anda

Machine Learning, Bagaimana Internet Lebih Mengerti Anda

 

Data di atas cukup memberikan informasi bahwa Indonesia adalah pasar sangat potensial dengan segala yang bisa dilakukan di internet. E-commerce, social media branding, digital marketing dan machine learning akan sangat mencintai bumi Indonesia. Kali ini saya akan membicarakan machine learning.

Machine Learning, Bagaimana Internet Lebih Mengerti Anda 3

Terdapat aplikasi aplikasi popular yang biasa digunakan oleh mobile user di Indonesia, antara lain :

  1. Traveloka , kita pakai untuk memesan tiket pesawat dan hotel saat kita berpergian
  2. Spotify, kita pakai untuk mendengarkan musik
  3. Lazada, untuk membeli barang barang secara online
  4. Gmail, email untuk konektifitas dan berita
  5. Whatsapp, aplikasi untuk ­chat dan messenger
  6. Google Maps,aplikasi untuk melihat arah jalan dan kemacetan
  7. Go-Jek , aplikasi untuk moda transportasi dan beli makanan
  8. Youtube, aplikasiuntuk melihat video dan live streaming

Mungkin sebagian mobile user,di dalam smartphonenya terinstall setengah lebih dari daftar aplikasi di atas. Bagi pengguna Android, identitas kita dalam smartphone, selain nomor HP , juga terdapat email kita. Identitas ini mewakili kita di dunia internet. Bahwa Andi Yuniantoro identik dengan 0818xxxxx dan identik dengan  andi@gmail.com.  Layaknya sebuah entitas dalam pemahaman object oriented. Setiap object akan memiliki attribute yang berasal dari behavior atau perilakunya. Perilaku tersebut terekam dalam aplikasi yang digunakan. Contoh perilaku yang dapat terekam adalah :

  • Perilaku berpergian, dapat dilihat dari transaksi di tarveloka, sering bepergian ke mana, kapan dan menginap di mana
  • Perilaku selera musik, dapat dilihat dari Spotify , suka musik apa, angkatan berapa, jam berapa sering mendengar musik
  • Perilaku keseharian, bisa dilihat dari google map, jam berapa berangkat kerja, pulang kantor jam berapa, sering pergi ke mana, naik mobil atau motor
  • Perilaku belanja, dapat dilihat dari transaksi di Lazada, suka beli apa, kapan waktu beli (setelah gajian atau waktu yang lain), dikirim ke alamat mana, senang diskon atau tidak
  • Perilaku kesenangan, dapat dilihat youtube yang sering dibuka, apakah tentang ceramah agama, apakah film Hollywood, apakah highlight goal sepakbola, atau konser musik

Perilaku di atas adalah sebagian kecil yang terekam sebagai attribute kita dalam sebuah object. Yang kalau dapat kita gambarkan sebagai berikut :

Machine Learning, Bagaimana Internet Lebih Mengerti Anda 4

Semua perilaku kita dalam object ( Andi Yuniantoro/0818xxxxx/andi@gmail.com) dapat dipelajari oleh sebuah mesin. Mesin ini akan mempelajari seluruh data perilaku kita yang terekam. Tujuan dari mesin ini adalah memberikan prediksi akan perilaku kita, memberikan saran kepada kita untuk mengambil sebuah keputusan. Dengan sebuah algoritma, mesin ini dapat menjadi cerdas dan menawarkan solusi yang seusai dengan kebutuhan object-nya. Inilah machine learning.

Apakah Anda merasakan hal hal ini :

  • Kok Spotify tau ya, lagu lagu yang saya suka, sehingga spotify memberi paket lagu khusus buat kita (daily mix song)
  • Kok Gmail tau ya, saya baru cari cari laptop, tiba tiba diemail penawaran laptop murah
  • Kok Youtube tau ya, saya suka Mr.Big, page awal youtube saya selalu berisi konser Mr.Big
  • Kok Go-Jek tau ya, saya suka makan es teller, sehingga ada promo promo khusus es teller

Kalau Anda merasakan itu, selamat datang di era machine learning dan kita adalah object. Machine learning mengetahui apa yang kita butuhkan, apa yang kita mau. Tidak ada rahasia antara Anda dan internet.

Andi Yuniantoro

Direktur Inixindo Jogja

Tema dan Indikator Kota Cerdas (Smart City) di Indonesia

Tema dan Indikator Kota Cerdas (Smart City) di Indonesia

Saat ini hampir seluruh pemerintah daerah membicarakan smart city, yang dalam Bahasa Indonesia adalah kota cerdas. Dalam artikel ini saya akan menggunakan istilah kota cerdas. Kota cerdas pada awalnya identik dengan apa yang dilakukan Pak Ahok dengan E-budgeting, Clue di provinsi DKI Jakarta, lalu dengan apa yang dilakukan oleh Pak Ridwan Kamil dengan Command Center-nya di kodya Bandung dan oleh Bu  Risma dengan Smart Traffic Light serta E-Pengaduan di kodya Surabaya. Kota cerdas langsung meroket popular seiring popularitas Pak Ahok, Pak Kamil dan Bu Risma. Dampak dari program di masing-masing daerah tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat secara langsung. Daerah lain mencoba meniru dengan tagline smart city. Lalu bagaimana model kota cerdas di daerah lain? Apakah yang dilakukan oleh Pak Ahok, Pak Kamil dan Bu Risma, dapat ditiru dan diterapkan di daerah lain?

Setiap daerah memiliki permasalahan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Namun kota cerdas akan selalu memiliki makna yang sama, jika kita memaknai kota cerdas tidak dengan teknologi-teknologi yang digunakan. Namun kota cerdas dimaknai dengan kata “cerdas”, yaitu cerdas masyarakatnya dan cerdas dalam cara menyelesaikan bidang permasalahannya.

Lalu bagaimana sebuah daerah dapat memulai sebuah program kota cerdas?

Tema dan Indikator Kota Cerdas (Smart City) di Indonesia 5

Terdapat 5 tema dasar dalam merencanakan atau menerapkan kota cerdas. Tentunya kedepan tidak hanya 5 tema, namun dapat lebih sesuai kebutuhan daerah. Kita memerlukan fondasi untuk  sebuah kota cerdas, 5 tema berikut dapat dijadikan sebuah acuan untuk memulai.

  • Smart People
  • Smart Energy
  • Smart Economy
  • Smart Infrastructure
  • Smart Services

Tema dan Indikator Kota Cerdas (Smart City) di Indonesia 6

Setelah menentukan 5 tema dasar dalam kota cerdas, langkah selanjutnya adalah menentukan indikator cerdas dari setiap tema. Indikator ini akan menjadi target yang harus dicapai untuk mencapai istilah “cerdas” dalam sebuah tema.

Tema dan Indikator Kota Cerdas (Smart City) di Indonesia 7

Indikator smart economy antara lain :

  • Touchpoint, adanya titik temu antara produsen dan konsumen , baik secara digital ataupun tradisional
  • Ekspansi pasar, adanya perluasan pasar untuk produk produk daerah
  • Adanya kanal distribusi
  • Biaya operasi yang rendah
  • Rantai pasokan

Indikator tersebut menjadi sebuah target untuk dicapai dengan suatu cara cara yang cerdas. Tentunya kalau ada target , pastinya ada baseline atau kondisi aktual atau problem. Di mana selisih antara target dan baseline akan melahirkan inisiatif-inisiatif program.

Langkah awal memulai kota cerdas adalah susun Masterplan Smart City dan peningkatan kualitas SDM bidang Teknologi Informasi.

Andi Yuniantoro

Direktur Inixindo Jogja

Serangan Ketiga IT : Internet of Things

Serangan Ketiga IT : Internet of Things

Dua kali selama 50 tahun terakhir, perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi mengubah cara pandang dan aktivitas terhadap bisnis secara radikal dan saat ini kita berada di ambang transformasi ketiga. Sebelum munculnya teknologi informasi, kegiatan bisinis dalam proses pembuatan produk dilakukan secara manual, menggunakan kertas dan komunikasi verbal.

Transformasi teknologi informasi pertama terjadi pada tahun 1960-an dan 1970-an mengubah aktivitas bisnis untuk mengurangi dan tidak terlalu mengandalkan kertas dan komunikasi verbal. Aktivitas-aktivitas bisnis dibantu dengan canggihnya komputer misalnya aktivitas pengelolaan inventori, pengelolaan dan pembayaran tagihan, dan pengadaan barang. Produktivitas meningkat karena setiap aktivitas menjadi tercatat secara rapi di komputer dan data dalam jumlah besar dapat ditangkap dan dianalisa. Hal ini berimbas pada standarisasi proses di perusahaan tentang bagaimana pemanfaatan TI pada operasional perusahaan.

Hadirnya internet murah dan konektivitas di mana-mana menandai dimulainya tranformasi IT-driven kedua yang terjadi pada tahun 1980-an dan 1990-an. Munculnya internet memungkinkan koordinasi dan integrasi pada masing-masing sub-unit perusahaan, berbagi data dan informasi untuk internal, serta saling memonitor target. Perusahaan bahkan dapat berkoordinasi dengan pihak luar perusahaan, pemasok, vendor, dan pelanggan yang berada di tempat yang berbeda. Perusahaan dapat secara erat melakukan integrasi rantai pasokan dan didistribusikan secara global. Dua gelombang transformasi TI pertama memunculkan peningkatan produktivitas besar dan pertumbuhan ekonomi namun belum menjadi bagian dari suatu produk itu sendiri.

Pada masa transformasi ketiga seperti sekarang ini, TI menjadi bagian dari produk yang ditawarkan ke pelanggan. Embedded sensor, prosesor, perangkat lunak, dan konektivitas dalam produk (seperti komputer yang dimasukan ke dalam produk), ditambah lagi dengan teknologi Cloud di mana data produk dapat disimpan dan dianalisis serta beberapa aplikasi dapat dijalankan di Cloud merupakan pemicu peningkatan fungsi dan kinerja suatu produk untuk lebih bermanfaat bagi pelanggan. Penggunaan data produk (data aktivitas produk saat berada ditangan pelanggan) memungkinkan adanya perbaikan dan penyelarasan produk yang sesuai dengan permintaan pelanggan. Transformasi ini ada yang menyebut dengan Internet of Things. Dengan adanya Internet of Things, desain produk, pemasaran, manufaktur,dan layanan purna jual dapat memanfaatkan data dari IoT untuk memuaskan kebutuhan masyarakat saat ini bahkan menciptakan kebutuhan baru.
Serangan Ketiga IT : Internet of Things 8
Internet of Thing adalah sebuah konsep dimana suatu objek yang memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia atau manusia ke komputer.

Internet of Things, atau dikenal juga dengan singkatan IoT, merupakan sebuah konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus. Adapun kemampuan seperti berbagi data, remote control, dan sebagainya, termasuk juga pada benda di dunia nyata. Contohnya bahan pangan, elektronik, koleksi, peralatan apa saja, termasuk benda hidup yang semuanya tersambung ke jaringan lokal dan global melalui sensor yang tertanam dan selalu aktif.

Pada tulisannya, M.Porter  memilih untuk tidak menggunakan frasa Internet of Things dan menggunakan Smart, Connected products sebagai sebutan yang tepat untuk menggambarkan transformasi IT-driven ketiga ini.  Smart, Connected Products mempunyai 3 bagian inti yaitu komponen fisik, komponen “smart”, dan komponen konektivitas. Komponen “smart” memperkuat kemampuan dan nilai fisik sedangkan konektivitas menguatkan kemampuan dan nilai komponen “smart” serta memungkinkan bagian dari produk itu ada di luar fisik produk itu sendiri.

  • Komponen fisik terdiri dari bagian mekanik dan listrik dari suatu produk. Misalnya di dalam mobil komponen fisiknya adalah blok mesin, ban, aki, kampas rem.
  • Komponen “smart” terdiri dari sensor, mikro prosesor, mikrokontroler, penyimpanan data, perangkat lunak dan sistem operasi biasanya termasuk antar muka untuk mempermudah pengguna. Contoh mudahnya adalah di dalam mobil komponen “smart” nya adalah unit control mesin, system pengereman anti penguncian, sensor parker dan layar touch-screen. Pada beberapa produk, perangkat lunak dapat menggantikan fungsi komponen perangkat keras.
  • Komponen konektivitas biasanya terdiri dari port, antena, dan protokol yang dapat terkoneksi dengan produk menggunakan kabel atau nirkabel. Konektivitas terdiri dari 3 bentuk
    • One-to-one, sebuah produk yang yang dapat terhubung ke satu perangkat, pengguna atau produk lain melalui port atau antar muka misalnya ketika mobil dihubungkan ke mesin diagnostik
    • Many-to-many, beberapa produk terhubung ke banyak jenis produk dan sering juga untuk sumber data eksternal. Contoh nya adalah eFishery, alat pemberi pakan ikan secara otomatis dan terjadwal dengan dosis yang pas dan dapat mencatat setiap pemberian pakan secara Hal ini memungkinkan kita melakukan monitoring dan menentukan kapan waktu waktu yang tepat dalam memberi makan. Saat ini, eFishery telah dilengkapi teknologi mobile device dimana alat ini dapat dikontrol dengan menggunakan gadget
    • One-to-many, sebuah system terpusat yang terus menerus terhubung ke banyak produk secara bersamaan. Contohnya adalah layar display di dashboard mobil yang disitu terdapat informasi kecepatan mobil, suhu mesin, pintu mana yang terbuka dan lain-lain.

Satu hal penting yang perlu kita ketahui sebagai masyarakat yang selalu belajar (continuous learning) adalah..

Serangan Ketiga IT : Internet of Things 9

Muhammad Rifai

Instruktur Senior Inixindo Jogja

LKD Menjawab Tantangan Teknologi Informasi

LKD Menjawab Tantangan Teknologi Informasi

Dunia perbankan adalah salah satu yang terkena imbas dari eratnya hubungan manusia dengan teknologi. Kompetisi industri perbankan semakin ketat membuat bank harus mampu meningkatkan efisiensi dan efektifitas operasional internal maupun pelayanan nasabah dengan memanfaatkan teknologi. Kehandalan teknologi suatu bank dapat mencerminkan reputasi bank tersebut di mata masyarakat. Dengan adanya teknologi perbankan yang baik maka dapat menjamin kestabilan bidang operasional sebuah bank. Perkembangan teknologi memungkinkan persaingan dalam menghadirkan pelayanan jasa perbankan yang makin variatif sehingga dapat memenuhi kebutuhan bisnis. Bahkan dengan adanya dukungan teknologi, maka dapat mendorong munculnya kebutuhan bisnis baru. Hal ini dikarenakan perkembangan teknologi berkembang lebih cepat daripada kebutuhan bisnis.

Menjawab pesatnya perkembangan teknologi informasi, Bank Indonesia dalam surat edarannya menyebutkan bahwa perlu adanya inovasi dalam melayani masyarakat Indonesia untuk mempermudah nasabah menikmati jasa keuangan. Inovasi ini juga dalam rangka menjangkau dan memperluas penyediaan layanan jasa sistem pembayaran dan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia yang belum tersentuh jasa sistem pembayaran dan keuangan formal (unbanked) dan yang telah terhubung sebagai nasabah namun jarang memanfaatkannya karena berbagai faktor (underbanked). Inovasi ini adalah LKD (Layanan Keuangan Digital).

LKD merupakan layanan jasa sistem pembayaran dan keuangan yang menggunakan sarana dan perangkat teknologi berbasis mobile maupun berbasis web melalui pihak ketiga. Pihak ketiga ini dapat berupa individu atau masyarakat umum, bukan karyawan lembaga bank, dan telah mendapat izin resmi atau lisensi untuk membuka cabang LKD. Jadi, setiap individu dari berbagai profesi dapat menjadi agen penyalur keuangan atau pihak ketiga. Dengan inovasi ini nasabah akan semakin mudah mendapatkan jasa keuangan hanya dengan memiliki telepon genggam ataupun telepon pintar. Transaksi non-tunai seperti transfer uang ke nomor handphone, membeli pulsa handphone atau token listrik dapat dilakukan sendiri oleh pemilik rekening melalui handphone. Bahkan handphone dapat digunakan untuk belanja di toko dan pasar swalayan. Kembalian uang receh sekecil apapun ketika membeli barang tertentu akan tetap dikembalikan karena dalam bentuk uang elektronik.

Untuk mendukung LKD tentunya dibutuhkan SDM yang berkompeten pada bidang-bidang yang terkait dengan LKD salah satunya IT. Pelayanan yang menggunakan teknologi berbasis mobile maupun berbasis web di LKD menjadi isyarat bahwa bank saat ini harus lebih memperhatikan hal-hal yang terkait dengan teknologi. Bank yang belum siap untuk menjalankan LKD memang dihimbau untuk tidak memaksakan diri seperti yang diberita oleh Republika Online. Namun di era digital saat ini, investasi di bidang teknologi akan memiliki timbal balik yang bagus melihat perilaku semua orang yang menginginkan kemudahan dalam melakukan semua aktivitasnya atau dalam hal ini adalah kemudahan dalam memperoleh jasa keuangan. Tentunya ini adalah kesempatan bagi bank Indonesia untuk mendapatkan nilai yang lebih mengunakan teknologi yang sangat erat dengan generasi digital.

 

Sumber :
Earl, Michael and Khan, Bushra. 2001. How IT Departments are Responding to the Challenges of E-Commerce. London Business School
Surat Edaran Bank Indonesia No. 16/12/DPAU Jakarta, 22 Juli 2014
Saul J. Berman, Jeff Hagan. 2006. .How technology‐driven business strategy can spur innovation and growth. Strategy & Leadership, Vol. 34
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2015/02/24/148618/manfaat-layanan-keuangan-digital-bank/
http://www.republika.co.id/berita/koran/syariah-koran/15/01/05/nhp1ca-jangan-paksakan-layanan-digital
http://id.wikipedia.org/wiki/Layanan_keuangan_digital

Rifai Samekta

Senior Instructor Inixindo Jogja

Digital Mastery

Digital Mastery

Sejarah telah memperlihatkan, bagaimana  perusahaan raksasa dunia seperti Kodak dan Nokia  tergilas jaman dalam era digital. Inovasi dan agility menjadi kunci untuk sebuah perusahaan beradapasi dalam perubahan budaya digital yang hampir menyentuh seluruh aspek kehidupan. Istilah startup tumbuh menjamur sebagai ketertarikan terhadap pemanfaatan digital untuk berbisnis. Digital telah menjadi alasan untuk mengusung transformasi, inovasi dan bisnis.

Nike

Contoh pertama sebuah perusahaan yang menggunakan aspek digital yaitu Nike. Nike kita kenal sebagai perusahaan sepatu olahraga. Layaknya sepatu, maka kenyamanan saat dipakai, ringan dan awet adalah parameter kualitas sepatu yang dipilih oleh customer. Nike tetap mempertahankan kualitas fisik tersebut. Namun Nike berusaha menggabungkan dimensi fisik dan dimensi digital. Nike SportBand merupakan jawaban Nike akan adaptasi digital dalam bisnis, yaitu sebagai berikut:

  • Perangkat pergelangan tangan yang mampu memberitahu pelari berapa jarak yang telah ditempuh, mengukur pacu lari, waktu lari, serta kalori yang telah terbakar. Perangkat ini dapat terhubung ke Ipod, sehingga dapat memantau sambil mendengarkan musik.
  • USB Flashdrive yang bisa terkoneksi dengan www.nikeplus.com, memungkinkan seluruh aktivitas lari direkam dan dimasukkan ke dalam situs web tersebut. Situs ini akan merekam jelajah yang telah ditempuh selama berlari dalam peta, melihat kemajuan olahraga lari setiap hari, menetapkan tujuan lari yang ingin dicapai, dan bersaing lari dengan orang lain yang juga menggunakan SportBand.
  • SportBand ini menjadi menarik, dimana dapat terbentuk komunitas pelari secara online yang tidak mengenal satu sama lain dan menjadi tantangan berlomba untuk meningkatkan target lari yang ingin dicapai seseorang.

Nike telah mengkombinasikan kenyamanan fisik sebuah sepatu olahraga, aksesori digital dan situs jejaring sosial, yang pada efek bisnisnya meningkatkan revenue perusahaan.

GOJEK

Contoh kedua yang dapat dianalisa adalah Gojek. Gojek begitu fenomenal khususnya di Jakarta dalam beberapa tahun belakangan ini. Kehadiran Gojek memunculkan pro dan kontra pastinya. Di satu sisi, kehadiran gojek memberikan kemudahan bagi warga Jakarta, sebagai sarana transportasi yang cepat, mudah dan murah, serta berkembang menjadi layanan lain seperti Go Food dan Go Box, yang semakin memudahkan memenuhi kebutuhan warga Jakarta beraktifitas dengan kondisi kesibukan dan kemacetan yang ada di Jakarta. Sisi kontranya berasal dari Tukang Ojek Pangkalan yang merasa tersaingi dengan kehadiran ojek online. Inti dari layanan Gojek adalah menghubungkan antara supply and demand dengan media aplikasi online dalam smartphone.

Gojek adalah sebuah perusahaan teknologi aplikasi, bukan perusahaan transportasi atau travel. Digital telah menjadi jantung dari perusahaan ini. Aplikasi Gojek hingga Juni 2016, telah diunduh sebanyak 20 juta kali. Bagaimana sebagai sebuah perusahaan yang berdiri sejak tahun 2011 ini mendapatkan revenue dari aspek digital? Terlepas dari paradigma startup, di mana selalu ada pendukung investor kuat dibelakangnya, sebuah tata kelola perusahaan tentunya memiliki kaidah governance yang menuntun kepada kebijakan investasi, efisiensi dan profitabilitas. Gojek pada 2017, mendapatkan sebuah pernyataan sebagai perusahaan yang merugi.

Dua contoh yaitu Nike dan Gojek dapat di analisa dalam penggunaan inovasi digital, Nike mengambil langkah digital dan dapat meningkatkan revenue bagi perusahaan, sedangkan Gojek juga mengambil langkah digital namun tidak atau belum mendapatkan pertumbuhan revenue bagi perusahaan, dalam rentang waktu yang sama. “Apa yang mempengaruhi Inovasi Digital di sebuah perusahaan dapat memiliki dampak revenue yang diharapkan?” Inovasi digital bagi sebuah perusahaan akan memiliki 2 faktor pendukung untuk keberhasilannya, yaitu kemampuan digital perusahaan dan kemampuan leadership perusahaan.

 

Kemampuan Digital Perusahaan

Sebuah perusahaan pasti akan menentukan strategi, apa yang akan menjadi andalan dalam kemampuan digitalnya. Strategi akan memiliki aspek kepada fokus investasi terhadap kemampuan digital. Kemampuan Digital sebuah perusahaan dapat dilihat dari :

  • Digital Customer Experience, customer merasakan layanan digital dari perusahaan. Layanan digital ini dapat berupa akses layanan via mobile, hadirnya perusahan melalui sosial media atau tersedianya layanan transaksi online.
  • Internal Process Excellence, proses bisnis internal yang dilakukan oleh perusahaan telah berdasarkan pada supply-chain integration, di mana mengerucut pada centralized-ordering yang berujung pada Digital Customer Experience. Secara mudah dapat dikatakan, apabila customer sudah menerima layanan digital, tentunya pemrosesan di internal perusahaan juga harus berbasis digital yang handal, dengan kata lain, jika input dari customer digital, maka proses internal jugaharus digital.
  • Data Analytics and Data Science, perusahaan memiliki kemampuan untuk menganalisa, khususnya perilaku customer dalam Digital Customer Experience. Hasil analisa ini akan dimanfaatkan untuk perbaikan layanan digital, penemuan layanan digital baru atau mendapatkan peluang bisnis.

 

Kemampuan Leadership Perusahaan

Kepemimpinan dalam perusahaan akan sangat mempengaruhi keberhasilan inovasi digital yang dilakukan. Kepemimpinan dapat dari semua level seperti Kepala Divisi, Manager, GM, VP dan CEO. Kemampuan leadership perusahaan yang mendukung inovasi digital adalah :

  • Vision. Kepemimpinan yang memiliki visi kearah transformasi digital, kesadaran dan kepemahaman akan arah kedepan perusahaan untuk mengadaptasi perubahan digital.
  • Engagement. Kepemimpinan yang mampu mengajak seluruh komponen pegawai untuk melakukan perubahan, tentunya perubahan yang sesuai visi terdepan perusahaan menuju digital. Untuk memahami perubahan pastinya membutuhkan peningkatan kemampuan/skill, pemimpin harus berani melakukan investasi untuk peningkatan kemampuan/skill pegawai untuk mengadaptasi perubahan.
  • IT and Business. Kepemimpinan yang mampu menyelaraskan antara kebutuhan bisnis dengan IT dan memberikan IT sebuah peran sebagai agen perubahan dan enabler dalam perusahaan.
  • Governance. Kepemimpinan yang mampu menjalankan tata kelola perusahaan dengan baik, dengan salah satunya memastikan kejelasan tupoksi atau job description dan role dalam pendekatan RACI. Ditunjukkan dengan dibentuknya tim khusus untuk program inovasi digital dengan dipimpin oleh Chief Digital Officer. Lalu memperhitungkan setiap nilai investasi terhadap program-program digital dengan keseimbangan pada ROI (Return on Investment) dan CBA (Cost Benefit Analysis).

Kedua faktor pendukung tersebut apabila dianalisa dalam bentuk koordinat, dapat menghasilkan kuadran-kuadran level kedigitalan suatu perusahaan.

Capture2

  • Beginner, level awal dari kedigitalan sebuah perusahaan. Perusahaan sangat minim memiliki pengalaman di bidang digital, dan dalam persaingan dengan kompetitor selalu tertinggal di aspek teknologi dan financial
  • Fashionistas, perusahaan yang selalu membangun dan menginvestasikan teknologi terbaru dan mengikuti tren digital, namun lemah dalam pengawasan, pengendalian dan leadership. Perusahaan yang jor-joran dalam teknologi, tanpa memikirkan nilai balik atau keuntungan revenue perusahaan
  • Conservatives, perusahaan memiliki kemampuan digital, tetapi sangat waspada dan berhati hati untuk menggunakannya.
  • Digital Mastery, perusahaan yang sangat mengerti dan menggunakan teknologi digital, dimana mereka memiliki skill, pengetahuan dan pengelolaan investasi yang baik, dalam budaya digital yang kuat

Berdasarkan karakteristik tentang level yang ada, jenis-jenis perusahaan dapat dimasukkan dalam level yang menyesuaikan dengan kelajuan dan kelembaman bisnis untuk bergerak menyesuaikan perubahan digital.

Capture4

Perubahan digital adalah sebuah keniscayaan dan tidak terbantahkan. Anak-anak saat ini dilahirkan dengan membawa DNA digital, tetapi generasi manusia yang lahir tahun 2000 ke bawah belum membawa DNA digital, maka diperlukan perubahan budaya digital. Seberapa kuat sebuah perusahaan menahan gempuran digital, tanpa berinovasi dan bertransformasi ke digital? Menarik untuk dicermati dan dianalisa. Contoh dan pengalaman sudah terhampar jelas di depan mata kita, Kodak dan Nokia.

Selamat Datang di dunia digital.

Maka akan muncul pertanyaan :

  1. Di kuadran manakah perusahaan Anda saat ini?
  2. Jika perusahaan Anda berorientasi masuk ke kuadran Digital Mastery, apa yang harus dilakukan?
  3. Apakah ada program pengembangan SDM yang menyeluruh untuk mendukung dan mencapai kuadran Digital Mastery

Temukan jawabannya di Inixindo Jogja.

Andi Yuniantoro

Direktur Inixindo Jogja

Behind every beauty, there’s coffee