[Workshop] : “Membuat Single Page App Dengan React JS”

[Workshop] : “Membuat Single Page App Dengan React JS”

Metode pengembangan aplikasi berbasis web kini telah berubah. Pengembangan aplikasi berbasis web dipisah kedalam dua bagian yaitu pengembangan pada sisi front-end, dan pengembangan aplikasi dari sisi back-end. Kompleksitas aplikasi pula yang akhirnya memaksa para pengembang untuk membagi tugas pengembangan aplikasi menjadi dua. Hal ini dikarenakan perkembangan teknologi web yang telah mencakup berbagai macam platform. Aplikasi web pada saat ini tidak hanya melayani client berupa browser, tetapi juga dituntut untuk bisa melayani berbagai platform seperti mobile app, ataupun aplikasi web lainya. Dengan adanya web service hal ini bukanlah menjadi subuah kendala lagi.

Pada pengembangan aplikasi web, front end developer bertugas untuk memenuhi tuntutan pengguna, karena front end bertanggung jawab untuk membuat UI (User Interface). Tantangan front end developer saat ini tidak sebatas User Interface (UI) saja, tetapi ditambah satu tuntutan lagi yaitu UX (User Experience). User experience inilah yang akhirnya melahirkan sebuah trend baru dalam pengembangan aplikasi web.

Pengembangan aplikasi web yang tadinya synchronous, kini sudah tidak di mininati lagi karena sudah tidak bisa mengikuti tuntutan zaman. Trend yang berjalan adalah Asynchronous process, dimana
halaman hanya di load diawal secara keseluruhan, kemudian untuk interaksi selanjutnya dilakukan secara Asynchronous melalui xhr atau lebih dikenal dengan istilah AJAX. Practically pengembangan web pada saat ini hanya membutuhkan single page sebagai inisiasi. Maka muncul lah sebutan baru yaitu
Single Page Application (SPA).

Ada beberapa framework untuk front end untuk membangun Single Page Application, React,Vue, dan Angular. Semua framework tersebut opensource dengan keunggulan dan kelemahan masing masing. Salah satu cara memilih product open source yang akan kita gunakan hal yang perlu dipertimbangkan adalah komunitas. Berdasarkan data yang dimiliki oleh NPM React JS merupakan framework yang paling banyak diunduh.

 

Waktu dan Pelaksanaan Event

Waktu     : Kamis, 7 Juni 2018

Tempat    : Inixindo Jogja, Jalan Kenari No.69 Yogyakarta

Biaya       : Gratis*

*slot terbatas

 

This form does not exist

Poster

[Workshop] : "Membuat Single Page App Dengan React JS" 1

[Workshop] Penerapan Source Code Management dan Static Application Security Testing (SAST) Tools

[Workshop] Penerapan Source Code Management dan Static Application Security Testing (SAST) Tools

Aplikasi merupakan salah satu komponen penting dalam penerapan Teknologi Informasi (TI) di berbagai organisasi dan perusahaan di era digital saat ini. Para pengembang aplikasi atau programmer pasti menghasilkan banyak sekali baris-baris source code atau kode program yang perlu dikelola oleh organisasi dan perusahaan agar kualitas serta keamanan dari aplikasi yang digunakan tetap terjaga dan terkontrol dengan baik.

Agar organisasi atau perusahaan dapat melakukan pengelolaan dan pengendalian terhadap semua source code yang dihasilkan oleh programmer baik in-house maupun outsource, maka berbagai tool untuk Source Code Management serta Source Code Analysis dapat diterapkan dan digunakan baik oleh programmer maupun manajemen TI. Melalui penerapan berbagai tool tersebut, para programmer serta manajer TI mendapatkan berbagai fitur seperti version control, change log, merging, conflict detection, rollback, bug & vulnerability analysis, dan SAST (Static Analysis Security Testing).

Dalam Workshop ini, berbagai konsep dan tool untuk Source Code Management serta Source Code Analysis yang akan dibahas adalah :

  • Subversion
    Open Source Software untuk Source Code Management dari Apache sebagai sistem untuk software versioning dan revision control.
  • FindBugs
    Open Source Software untuk Source Code Analysis yang mampu mendeteksi berbagai bug dan vulnerability dalam source code berbasis bahasa pemrograman Java.
  • SonarQube
    Open Source Software untuk Source Code Analysis yang menggunakan teknik static analysis untuk menemukan berbagai bug, code smell, dan lubang keamanan (security vulnerability) di source code dalam lebih dari 20 jenis bahasa pemrograman.

Penerapan tool untuk Source Code Management dan Source Code Analysis tersebut akan sangat membantu organisasi atau perusahaan dalam menjaga dan mengontrol kualitas serta keamanan dari source code yang dihasilkan oleh para programmer sehingga mampu meminimalisir risiko TI.

Waktu & Pelaksanaan Event

Waktu          : Kamis, 28 Juni 2018 (14.00 – selesai)
Tempat       : EduparX, Inixindo Jogja (Jalan Kenari No. 69, Mujamuju, Yogyakarta)
Biaya           : Gratis*

*Slot terbatas

This form does not exist

Poster

[Workshop] Penerapan Source Code Management dan Static Application Security Testing (SAST) Tools 2

[Community Day] Sistem Manajemen Keamanan Informasi Berbasis SNI ISO/IEC

[Community Day] Sistem Manajemen Keamanan Informasi Berbasis SNI ISO/IEC

Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SMKI) atau yang biasa dikenal sebagai ISMS (Information Security Management System) merupakan suatu standar sistem keamanan informasi yang diterbitkan oleh ISO dan IEC, berdampingan antara ISO/IEC 27001 dan 27002 memberikan daftar tujuan pengendalian dan merekomendasikan suatu rangkaian pengendalian keamanan spesifik.

Suatu perusahaan yang sudah menerapkan SMKI, kemungkinan akan mampu mengendalikan aset informasi dari adanya ancaman dan serangan, secara tidak langsung memberikan jaminan terhadap kelangsungan bisnis perusahaan.

Walaupun pada saat ini banyak yang menerapkan berbagai standar keamanan informasi. Yang paling umum dan banyak diterima adalah standar Sistem Manajemen Keamanan Informasi yang diterbitkan ISO dan IEC. Keluarga ISO27000(series) memiliki standar antara lain:

Waktu & Pelaksanaan Event

Waktu          : Kamis, 31 Mei 2018 (13.00 – selesai)
Tempat       : Inixindo Jogja (Jalan Kenari No. 69, Mujamuju, Yogyakarta)
Biaya           : Gratis*

*slot terbatas

This form does not exist

Poster

[Community Day] Sistem Manajemen Keamanan Informasi Berbasis SNI ISO/IEC 3

[wpdm_package id=’15381′]

Front-End vs Back-End Developer. Apa Bedanya?

Jika Anda mengetikkan URL di tab browser Anda dan menekan enter. Seketika Anda disuguhkan dengan tamplilan visual web yang memukau. Animasi-animasi indah serta konten interaktif yang memberikan experience lebih kepada kita sebagai pengguna terkadang menggelitik rasa penasaran kita, bagaimana membuat website yang seperti ini?

Sering kali website yang eksepsional seperti itu dibuat tidak hanya oleh seorang web developer saja melainkan satu tim dengan spesialisasi masing-masing. Dalam tim tersebut biasanya terdiri dari 3 profesi yaitu UI/UX designer, front-end developer, dan back-end developer. Apa saja perbedaan pada setiap profesi tersebut? Yuk kita bahas satu per satu!

 

UI/UX Designer

Kita tidak akan banyak membahas tentang UI/UX designer karena profesi ini lebih ke arah desain (baca: Pengembangan UI/UX: Merancang Nyawa Sebuah Aplikasi jika ingin mengetahui tentang pengembangan UI/UX lebih dalam). Seperti halnya arsitek, UI/UX designer sangat berperan dalam menentukan estetika dan pengalaman pengguna dalam sebuah web yang Anda kunjungi. Peran UI/UX designer hanya sebatas membuat wireframe (sketsa layout untuk sebuah web) dan tentunya web design itu sendiri mulai dari komposisi letak, jenis dan ukuran font, sampai warna-warna yang digunakan. Seorang UI/UX designer sama sekali tidak mengotori tangannya dengan menulis kode. Walaupun begitu biasanya UI/UX designer memahami bagaimana HTML, CSS, dan JavaScript bekerja sehingga tidak ngawur dalam mendesain website.

 

Front-End Developer

Setelah UI/UX designer menuangkan ide-ide cemerlang dan tangan terampilnya dalam desain sebuah web, kini giliran front end developer yang akan meneruskan proyek membangun website ini.

Jika tadi UI/UX designer kita ibaratkan sebagai arsitek, si front end developer ini adalah engineer-nya. Tugas front end developer adalah merealisasikan desain kreatif nan imajinatif dari sang UI/UX designer. Jika ada ungkapan “architect’s dream is the engineer’s nightmare” di proyek properti, di proyek website ini ungkapannya hampir sama yaitu “Designer’s dream is front end developer’s nightmare”.

Ya! Tugas front end developer adalah memastikan konten yang ditampilkan di browser pengguna berjalan sesuai desain disepakati. Header yang menggeser ke samping atau yang disebut slider, ikon menu yang berubah saat di-scroll, serta animasi-animasi lucu dan menggemaskan yang membuat kita ingin mencubit layar monitor adalah fitur yang ditulis dengan kode pemrograman oleh sang front-end developer. Bahasa teknisnya, front end developer adalah orang yang bertanggung jawab atas semua kode yang dikirim dari server dan diterima oleh browser masing-masing pengguna.

Untuk menjadi seorang front end developer, kita mempelajari bahasa mark up seperti HTML dan CSS serta bahasa pemrograman JavaScript. JavaScript sendiri mempunyai banyak library dan framework seperti jQuery, AngularJS, ReactJS, dan lain-lain. Seorang front end developer juga harus mengerti bagaimana RESTful Service dan API bekerja. RESTful sangat dibutuhkan ketika kita ingin menghubungkan web kita dengan aplikasi web lain seperti Facebook atau Twitter.

Seperti profesi yang lain, ada bagian di mana menjadi seorang front end developer itu menyenangkan dan ada bagian tidak enaknya pula. Bagian menyenangkannya adalah semua output dari kode yang kita tulis dapat dilihat dengan mata sehingga memudahkan kita untuk mencari bagian mana dari kode yang kita tulis yang tidak berjalan. Bagian tidak enaknya adalah web yang kita buat harus berjalan dengan sempurna di berbagai browser dan berbagai perangkat yang dimiliki pengguna, apalagi sekarang lebih banyak orang yang membuka web dari perangkat mobile.

 

Back-End Developer

Jika dummy website sudah dibuat dan berjalan semestinya di browser masing-masing pengguna, saatnya back end developer mengambil alih tanggung jawab. Kode HTML, CSS, dan JavaScript untuk setiap jenis atau bagian halaman dipecah lagi agar dapat dijadikan semacam template. Bagian footer yang pasti ada di setiap jenis halaman misalnya, kita tidak perlu menulis kode footer tersebut berulang-ulang setiap akan membuat halaman baru. Di sinilah peran back end developer diperlukan.

Back end developer bertanggung jawab memprogram server agar mengirimkan dokumen (dalam hal ini HTML, CSS, dan kode JavaScript) ke browser pengguna setiap kali pengguna memintanya melalui http request. PHP, JavaScript, Python, dan Ruby adalah bahasa pemrograman yang biasanya dipakai di server.

Back end developer juga akan sering berkutat dengan database dan manajemen konten di suatu website. Bentuk dari tanggung jawab tersebut yang paling bisa dilihat adalah Content Management System (CMS). Kita tentunya sudah sering memakai blog seperti WordPress dan blogspot. Nah, CMS ini mirip dengan aplikasi blogging sehingga memudahkan admin web untuk mengisi konten tanpa harus menuliskan kode HTML maupun CSS. Tentu saja tidak semua back end developer membuat sendiri CMS website yang sedang mereka kembangkan. Banyak dari back end developer yang memakai CMS yang dikembangkan oleh pihak ketiga seperti WordPress yang merupakan CMS open source yang bisa kita install sendiri di server kita.

Selain CMS dan database, seorang back end developer juga bertanggung jawab memastikan keamanan sebuah web. Bagian yang paling menjengkelkan adalah ketika ada seorang ‘penyusup’ dapat mengakses web server dapat mengacak-acak konten, maupun database, dan yang terparah adalah mengganti seluruh system di server kita.

 

Full Stack Developer

Sebenarnya tidak ada yang perlu dijelaskan lagi mengenai full stack developer karena full stack adalah front end dan back end developer yang dirangkap oleh 1 orang. Perkembangan teknologi yang cepat membuat batasan front end dan back end semakin kabur. Apalagi sekarang banyak diantara bisnis yang menginginkan hasil cepat dan murah sehingga para developer ‘penyendiri’ mulai mengembangkan dirinya menjadi full stack untuk menghemat waktu dan tentu saja biaya produksi.

Memang kebanyakan dari full stack developer memiliki kecenderungan untuk lebih ahli di sisi front end atau back end. Sangat sedikit yang kemampuannya benar-benar hebat di dua bidang tersebut sekaligus. Selain memiliki logika dan problem solving yang baik seperti back end developer, seorang full stack developer juga dituntut untuk memiliki kreativitas yang tinggi seperti front end developer.

Full stack developer merupakan profesi yang populer setelah Facebook merekrut full stack developer walaupun untuk mengerjakan bagian front end saja atau back end saja. Alasannya adalah full stack developer lebih paham bagaimana proses pembuatan website di dua bagian tersebut sehingga mempermudah komunikasi antara divisi front end dan back end.

Jika Anda tertantang untuk menjadi seorang full-stack developer dari nol, Anda bisa ikut bootcamp full stack web programming yang diselenggarakan Inixindo Jogja. Batch bootcamp ini dibuka tiap bulan.

[Workshop] Analisis Data dengan Python

[Workshop] Analisis Data dengan Python

Pertumbuhan data dalam era sistem informasi telah mendukung perkembangan pada metode dan tools
analisis data, salah satunya adalah perkembangan dalam bahasa pemrograman seperti yang terjadi pada python.

Python mulai banyak diadopsi sebagai komputasi science di industri sejak tahun 2000an terutama pada data analisis interaktif, komputasi eksplorasi dan visualisasi.

Python memiliki kemampuan yang kurang lebih sama dengan Matlab, SAS,Stata dan yang lainnya dan makin berkembang dengan munculnya library pandas yang efektif untuk manipulasi data.

Dengan adanya dukungan terhadap teknologi web dan analisis data, python menjadi pilihan yang tepat untuk membuat aplikasi yang fokus pada data.

Workshop ini akan membahas bagaimana menggunakan python untuk analisis data beserta visualisasinya.

Waktu & Pelaksanaan Event

Waktu          : Kamis, 24 Mei 2018 (13.00 – selesai)
Tempat       : Inixindo Jogja (Jalan Kenari No. 69, Mujamuju, Yogyakarta)
Biaya           : Gratis*

*slot terbatas

This form does not exist

Poster

Cara Data Analysis dengan Python

Cara Data Analysis dengan Python

[wpdm_package id=’15341′]