Almanak Sejarah Singkat Tak Akurat Bahasa Pemrograman

Almanak Sejarah Singkat Tak Akurat Bahasa Pemrograman

Sepertinya halnya makhluk hidup, bahasa sebagai alat berkomunikasi terus berevolusi dari waktu ke waktu. Hal ini juga dialami oleh bahasa pemrograman, alat komunikasi antara manusia dengan mesin. Bedanya, jika diperlukan waktu berabad-abad untuk bahasa manusia berevolusi, bahasa pemrograman hanya membutuhkan waktu maksimal 10 tahun saja untuk berevolusi.

Hal ini disebabkan oleh kemajuan teknologi yang semakin cepat dan juga umur mesin atau komputer yang tidak selama manusia. Berapa banyak komputer yang diproduksi 15 tahun lalu masih hidup sampai sekarang? Apalagi sekarang perkembangan teknologi informasi lebih ke arah mobile. Tentunya akan menjadikan bahasa pemrograman yang kaku alias tidak bisa menyesuaikan diri di berbagai macam platform akan ditinggalkan.

Seperti kisah cinta yang bisa berujung manis dan lebih sering berujung pahit, kisah bahasa pemrograman juga mengalami hal yang sama. Ada yang populer dan menjadi idola developer kekinian ada juga yang digunakan programmer lawas hanya untuk bernostalgia mengenang kejayaan masa lampau. Seperti apa sih ceritanya? Yuk, kita simak almanak sejarah singkat tentang bahasa pemrograman yang tidak akurat ini!

 

1800 – Mesin Pemintal

Yup! Anda tidak salah baca. Mesin pemintal adalah cikal bakal lahirnya pemrograman. Mungkin inilah satu-satunya mesin yang menggunakan multi-thread secara harfiah. Joseph Marie Jacquard membuat mesin pemintal yang sebelumnya dilakukan secara manual menjadi bisa diprogram sesuai dengan keinginan manusia. Memang pemrograman yang dilakukan masih sebatas pemrograman mekanis karena pada saat itu bohlam lampu saja masih belum ditemukan. Mesin ini diperintah melalui media kartu berlubang yang terbuat dari kayu.

 

1842 – Algoritma

Pada tahun ini, Ada Lovelace seorang mathematician dan juga seorang penulis menciptakan sebuah mesin penghitung. Berbeda dengan mesin penghitung seperti simpoa, mesin ini dapat melakukan penghitungan yang jauh lebih rumit daripada itu. Pada suatu hari, Ada Lovelace merasa bosan dan tidak ingin dianggap makan gaji buta. Dia kemudian mengeluarkan buku panduan yang disebut-sebut algoritma pertama yang pernah ditulis untuk memrogram sebuah mesin walaupun saat itu belum ada komputer untuk diprogram.

 

1936 – Turing

Pada tahun ini, Alan Turing menerbitkan sebuah makalah berjudul “On Computers Numbers, with Application to the Entscheidungsproblem” yang membuktikan bahwa the turing machine yang dia ciptakan dapat memecahkan segala problem matematika jika ditunjang dengan algoritma yang benar. Mesin inilah yang kemudian dianggap sebagai awal lahirnya komputer modern. Sebenarnya ada satu matematikawan lagi pada tahun ini yang bernama Alonzo Church yang juga memecahkan Entscheidungsproblem tapi tidak bisa seterkenal Alan Turing (mungkin karena Alonzo Church tidak mirip dengan Benedict Cumberbatch. 🙂

 

1957 – FORTRAN

John Backus menciptakan bahasa pemrograman pertama yang hampir mirip dengan bahasa pemrograman masa kini dan benar-benar digunakan programmer untuk memrogram komputer.

 

1959 – COBOL

Karena Grace Hopper tidak bisa berbahasa Jawa, dia lalu menciptakan bahasa pemrograman yang lebih mendekatkan diri ke Bahasa Inggris yang disebut COBOL. COBOL merupakan singkatan dari Common Business Oriented Language. Benar kan? Dari singkatannya saja kita bisa tahu kalau bahasa ini mirip dengan Bahasa Inggris.

 

1964 – BASIC

John Kemeny dan Thomas Kurtz menganggap bahwa bahasa pemrograman yang ada terlalu rumit dan memutuskan untuk back to basic dengan cara menciptakan bahasa pemrogaman yang disebut BASIC.

 

1970 – Pascal

Niklaus Wirth suka membuat bahasa pemrograman. Maka dari itu dia membuat bahasa Pascal dan bahasa pemrograman lainnya. Dia juga mencetuskan Wirth’s Law yang mengukuhkan Moore’s Law karena software developer cenderung menulis program yang semakin boros resource yang bahkan komputer mainframe susah payah untuk menjalankan software tersebut.

 

1972 – C

Dennis Ritchie yang merasa bosan lalu membuat sebuah bahasa pemrograman C. Banyak yang berspekulasi mengapa disebut C. Ada yang mengatakan gara-gara si Dennis hanya mendapatkan nilai C di kelas Bahasa Inggris dan ada yang mengatakan C diambil dari ‘curly braces’ di mana banyak digunakan di bahasa pemrograman ini. Masih merasa makan gaji buta akhirnya si Dennis bersama temannya menciptakan sistem operasi yang disebut Unix.

 

1980 – Object Oriented Programming

Alan Kay menemukan bahasa pemrograman yang memiliki paradigma Object-Oriented Programming dan dinamakan SmallTalk. Di bahasa ini, semua adalah object, bahkan object adalah object. Tak ada yang mengerti mengapa bahasa pemrograman ini disebut SmalTalk.

 

1983 – C++

Bjarne Stroustrup berkelana dengan mesin waktu dan saat sampai di masa lalu dia menemukan fakta bahwa C terlalu lama di-compile. Dia lalu kembali ke masa depan lalu menambahkan semua fitur di C dan dinamai C++.

 

1986 – Objective C

Brad Cox dan Tom Love memutuskan untuk membuat versi C yang tidak dapat dibaca yang terinspirasi dari SmallTalk. Semua orang tidak dapat mengerti syntax dari Objective C ini.

 

1987 – Perl

Larry Wall menciptakan bahasa Perl. Tiba-tiba dia ingin pergi umrah dan mengeluarkan buku “Programming Perl” dengan unta yang dijadikan sebagai model cover buku.

 

1991 – Python

Guido Van Rossum tidak menyukai kurung kurawal (curly braces) dan akhirnya menciptakan Python bahasa pemrograman yang namanya justru lebih mirip kurung kurawal bila dibandingkan dengan bahasa C.

 

1994 – PHP

Rasmus Leedorf membuat template engine untuk CGI scripts yang akan digunakan untuk halaman web pribadinya dan kemudian merilis dot-file di web. Semua orang akhirnya menggunakan dot-file untuk semua hal. Karena semangat yang terlalu menggebu-gebu akhirnya si Rasmus memberikan database binding ke dot-file ini dan menyebutnya PHP.

 

1995 – Ruby

Yukihiro Matsumoto tidak begitu bahagia, programmer lain juga tidak bahagia. Dia menciptakan Ruby agar semua bahagia. Setelah menciptakan Ruby, Matz (nama panggilan Matsumoto) menjadi bahagia, komunitas Ruby juga bahagia, dan semua orang bahagia.

 

1995 – Javascript

Brendan Eich memanfaatkan akhir pekannya untuk mendesain bahasa yang akan digunakan seluruh web di dunia dan mungkin juga Skynet. Dia menawarkan ke Netscape dan bilang bahwa “ini adalah LiveScript”. Pada saat Netscape sedang direview semua orang sedang keranjingan Java dan akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan kurung kurawal (curly braces) serta menyebutnya Javascript.

Java akhirnya diberi trademark yang dapat menyebabkan masalah pada Javascript. Jadi, Javascript kemudian diberi nama ECMAScript tapi sampai saat ini orang-orang masih menyebutnya Javascript.

 

1996 – Java

James Gosling membuat Java, bahasa pemrograman yang sangat terlalu digembar-gemborkan sekali sebagai bahasa OOP (Object-Oriented Programming) pertama dimana desain dianggap jauh lebih penting daripada pragmatisme.

 

2001 – C#

Anders Hejlsberg menggubah kembali Java dan menyebutnya C# karena menurutnya memrogram dengan C jauh lebih keren dibandingkan dengan Java. Semua orang suka dengan versi baru Java ini karena benar-benar berusaha tidak mirip dengan Java.

 

2005 – Ruby On Rails

David Heinemeier Hansson menciptakan framework untuk Ruby dan menyebutnya Ruby On Rails. Sekarang orang-orang tak ingat lagi jika Ruby dan Ruby On Rails itu merupakan bagian yang terpisah.

 

2006 – jQuery

John Resig merancang sebuah library untuk JavaScript. Semua orang menganggap jQuery adalah bahasa pemrograman. Sekarang orang bisa mendapatkan penghasilan dengan cara meng-copy-paste kode jQuery dari internet.

 

2009 – GO

Ken Thompson dan Rob Pike memutuskan untuk membuat bahasa pemrograman mirip C tapi dengan safety equipment, menamakannya “GO” , dan membuatnya lebih marketable dengan memakai Gophers sebagai maskot yang imut.

 

2010 – Rust

Graydon Hoare juga ingin membuat bahasa seperti bahasa C. Dia lalu menamakannya Rust. Tiba-tiba semua orang ingin semua software ditulis dengan Rust sesegera mungkin. Karena ingin dompetnya setebal ensiklopedia, Graydon bergabung dengan Apple untuk mengerjakan Swift.

 

2012 – TypeScript

Anders Hjelsberg ingin menulis C# di web browser. Dia merancang TypeScript, bahasa pemrograman yang mirip JavaScript dengan lebih banyak unsur Java di dalamnya.

 

2013 – CoffeeScript

Jeremy Ashkenas ingin bahagia seperti para developer Ruby. Jadi, dia menciptakan CoffeeScript yang ter-compile menjadi JavaScript tapi lebih mirip Ruby. Jeremy Ashkenas tak akan pernah menemukan arti kebahagiaan sejati seperti Matz dan developer Ruby lainnya.

 

2014 – Swift

Chris Lattner menciptakan Swift dengan obyektif utama “tidak menjadi Objective C.” Pada akhirnya, Swift lebih mirip Java.

 

Itulah tadi sejarah singkat tapi tak akurat tentang bahasa pemrograman. Kami harap artikel ini dapat dijadikan bacaan ringan yang menghibur untuk mengisi waktu luang seperti menunggu air yang Anda masak untuk membuat kopi matang. Kami sangat tidak menganjurkan artikel ini dijadikan referensi baik skripsi ataupun thesis. Kami menyediakan link ke Wikipedia jika Anda ingin sejarah yang akurat.

[Workshop] Membuat Push Notification dengan Firebase

[Workshop] Membuat Push Notification dengan Firebase

Ada banyak third party yang dapat digunakan untuk membuat fitur realtime antara lain Pusher dan Firebase, namun secara banyaknya komunitas firebase lebih unggul dibandingkan pusher dengan rating 219 sedangkan pusher hanya 23.

Firebase merupakan salah satu produk dari Google, firebase sendiri memiliki banyak fitur seperti cloud, hosting, database, authentication, cloud messaging, dll

Dengan adanya fitur firebase cloud messaging memungkinkan suatu website memiliki notifikasi secara realtime (seperti Whatsapp Web dan Telegram)

Waktu & Pelaksanaan Event

Waktu          : Rabu, 9 Mei 2018 (14.00 – selesai)
Tempat       : Inixindo Jogja (Jalan Kenari No. 69, Mujamuju, Yogyakarta)
Biaya           : Gratis*

*Tempat terbatas

This form does not exist

Poster

[Workshop] Membuat Push Notification dengan Firebase 1

[Community Day] Meningkatkan Keamanan Aplikasi Web dengan Open Web Application Security Project

[Community Day] Meningkatkan Keamanan Aplikasi Web dengan Open Web Application Security Project

Penggunaan teknologi web sudah menjadi suatu bagian dari kehidupan sehari-hari bagi masyarakat luas di era digital saat ini. Para penyedia informasi digital berbasis teknologi web harus mampu memberikan layanan yang aman dan handal bagi masyarakat agar bisnis dapat berjalan tanpa gangguan. Oleh karena itu, mereka membutuhkan sumber informasi yang tidak bias berbasis best practice serta open standard. Di bidang keamanan, salah satu dari sumber informasi tersebut adalah Open Web Application Security Project (OWASP).

OWASP merupakan sebuah komunitas online yang memiliki berbagai proyek untuk memproduksi artikel, metodologi, dokumentasi, aplikasi, serta teknologi yang berbasis Free dan Open Source di bidang keamanan aplikasi web

Waktu & Pelaksanaan Event

Waktu          : Kamis, 3 Mei 2018 (14.00 – selesai)
Tempat       : Inixindo Jogja (Jalan Kenari No. 69, Mujamuju, Yogyakarta)
Biaya           : Gratis*

*Tempat terbatas

This form does not exist

Poster

[Community Day] Meningkatkan Keamanan Aplikasi Web dengan Open Web Application Security Project 2

7 Jurus (Tips & Trik) Belajar Coding Secara Otodidak

Di artikel sebelumnya, telah dibahas tentang kondisi yang dapat mempersulit ataupun mempermudah untuk belajar coding. Seperti yang kita janjikan di artikel kali ini kita akan membahas tentang bagaimana kita memanfaatkan kondisi yang mempermudah dan mengatasi kondisi yang mempersulit saat ini untuk belajar pemrograman.

Di dunia musik, tak jarang kita selalu menjumpai gitaris-gitaris hebat yang dulunya belajar memainkan gitar secara otodidak. Hal ini tidak jauh berbeda dengan dunia per-coding-an atau pemrograman. Sebut saja Bill Gates, Elon Musk, dan Larry Page para pendiri perusahaan raksasa di bidang teknologi informasi ini belajar pemrograman secara otodidak di usia dini walaupun pada akhirnya mereka mengambil kuliah di jurusan ilmu komputer.

Memang banyak yang bilang seiring bertambahnya umur, neuron yang ada di otak tidak selentur saat umur kita masih muda. Jangan patah semangat dulu jika Anda bukan lulusan ilmu komputer atau teknik informatika dan baru tertarik belajar coding saat sudah beranak-pinak. Selama logika Anda masih jalan, tidak ada istilah ‘tidak mungkin’ untuk belajar pemrograman walaupun membutuhkan ketekunan ekstra. Lalu apakah ada tips, trik, jurus, atau aji-ajian khusus bagi orang awam untuk belajar coding? Tentu saja ada dan tidak perlu mengguyur komputer Anda dengan air kembang tujuh rupa agar Anda bisa mengetik kode pemrograman selancar mengetik di group chat Whatsapp atau komentar di media sosial. Berikut tips, trik, atau aji-ajian yang kami siapkan khusus untuk Anda yang masih ragu untuk belajar coding :

 

Belajar Bahasa Inggris

Trik ini adalah yang paling tidak berhubungan dengan dunia per-coding-an atau pemrograman tapi justru yang paling penting. Kenapa? Karena dokumentasi tools & framework serta tutorial bahasa pemrograman jauh lebih banyak yang ditulis menggunakan Bahasa Inggris. Akan beda ceritanya jika Anda mempunyai penerjemah pribadi dan menerjemahkan setiap kata demi kata di layar monitor Anda. Coba saja bandingkan kata kunci “tutorial pemrograman” dan “programming tutorial” di mesin pencari Google. Selain itu forum-forum developer juga banyak menggunakan Bahasa Inggris seperti Stack Overflow contohnya. Dan kita tidak mungkin berkomunikasi dengan developer dari seluruh dunia dengan menggunakan Bahasa Swahili bukan?

Tidak hanya itu saja, Bahasa Inggris juga penting jika kita sudah ahli dalam per-coding-an dan berniat menjadi seorang freelancer dan mencari pekerjaan dari situs crowdsourcing. Ditambah lagi jika kita menganggap nilai tukar Dollar ke Rupiah lebih menguntungkan bagi seorang developer. Mulailah belajar Bahasa Inggris sejak dini karena belajar Bahasa Inggris bukan hal yang sulit untuk dilakukan dan juga bisa dilakukan secara otodidak.

 

Menguasai Konsep Dasar Terlebih Dahulu

Segala yang instan tidak selalu baik apalagi dalam hal pembelajaran. Godaan dalam belajar coding yang paling besar adalah framework. Dengan framework kita bisa membuat sebuah app dalam hitungan hari dari yang sebelumnya belum pernah membuat app sama sekali. Masalahnya adalah jika kita dihadapkan dengan masalah-masalah spesifik yang harus diselesaikan dengan fungsi-fungsi dasar bahasa pemrograman. Tentunya kita akan kebingungan karena kita baru berputar-putar di permukaaan.

Belajar konsep dasar pemrograman terlebih dahulu seperti ‘if’ dan ‘loops’ juga akan meningkatkan kemampuan kita dalam membaca kode yang ditulis orang lain. Hal ini berguna dalam mengerjakan project kolaborasi dengan developer lain. Dan yang paling penting dalam menguasai konsep dasar pemrograman adalah kita bisa menuangkan kreativitas kita dalam wujud baris kode. Anda akan merasakan sendiri saat Anda sudah terbiasa untuk menulis kode pemrograman.

 

Buat Rencana dan Jadwal Latihan Tersendiri

Musuh paling besar dalam latihan coding yang datang dari diri sendiri adalah rasa malas. Rasa malas inilah yang menghentikan semangat menggebu-gebu yang lahir di awal proses belajar coding. Kondisi yang sering dialami para coder (sebutan orang yang melakukan aktivitas coding, Red.) adalah ketika mereka sudah bisa membuat suatu aplikasi sederhana dari tutorial dan kemudian berhenti di situ saja. Mereka tidak mencari tutorial membuat jenis aplikasi yang lain.

Untuk menghindari hal tersebut, kita bisa membuat jadwal khusus untuk latihan pemrograman. Jika diibaratkan seorang Samurai, seorang coder haruslah menempuh “jalan pedang”. Mungkin istilah “jalan pedang” ini bisa diganti dengan “jalan keyboard” karena senjata yang digunakan adalah keyboard bukan pedang.

Bagi para coder yang menganggap coding cuma sebagai hobi, latihan tidak harus setiap hari. Sabtu & Minggu yang sering digunakan untuk aktivitas hobi bisa menjadi hari di mana latihan coding dijadwalkan. Bagi yang serius mendalami dunia per-coding-an untuk dijadikan profesi, mungkin Anda harus menyisihkan waktu 2-4 jam setiap hari untuk latihan. Ingat! Coding bisa dikategorikan sebagai keterampilan yang jika tidak rutin diasah keterampilan tersebut akan tumpul dengan sendirinya.

 

Buat Fungsi/Program Yang Belum Pernah Anda Buat

Apakah app developer bisa dikategorikan sebagai profesi kreatif? Tentu saja bisa! Secara umum, aplikasi atau program dibuat untuk memecahkan masalah dan tentunya kreativitas diperlukan untuk mencari solusi yang akan dituangkan dalam baris kode pemrograman. Apalagi jika Anda berniat untuk menjadi front-end developer, tentunya Anda akan sering berurusan dengan desain dan tata letak.

Selain itu, kreativitas juga diperlukan saat kita masih dalam tahap belajar. Kreativitas akan membuat kita tertantang untuk menciptakan program dan fungsi baru. Sebenarnya poin ini berhubungan dengan poin sebelumnya, jika kita merasa tertantang untuk membuat fungsi yang belum pernah kita buat tentu, kita akan merasa penasaran dan tentunya kita akan meluangkan waktu untuk latihan coding. Dengan menentukan objective pembelajaran kita dan perencanaan yang baik, kita bisa menjadikan latihan coding layaknya sebuah game yang selalu membuat kita ingin terus naik level.

 

Bersosialisasi Dengan Teman Seperjuangan

I feel you, bro!” Kalimat yang sering dijadikan meme ini menunjukan simpati dan empati ini sangat membantu kita untuk menumbuhkan rasa semangat dalam belajar coding. Inilah manfaat utama mengapa kita juga harus bersosialisasi dengan sesama coder ataupun developer yang sudah berpengalaman. Kebanyakan dari mereka yang sudah malang melintang di dunia per-coding-an juga tak segan berbagi ilmu dengan para “juniornya.” Mereka sudah pernah berada dalam posisi baru belajar.

Ada bermacam-macam cara untuk bersosialisasi dengan para coder. Selain aktif bertanya-tanya di forum online nasional maupun internasional, kita ikut acara-acara komunitas IT yang biasanya tidak dipungut biaya. Tidak tertutup kemungkinan pula jika kita akan mendapatkan kesempatan bekerja di acara-acara tersebut.

 

Ikut Pelatihan, Kursus, Training, Atau Workshop

Cara yang terakhir adalah cara shortcut jika Anda tidak punya banyak waktu untuk melakukan tips & trik sebelumnya. Anda bisa ikut kursus programming di lembaga pelatihan IT. Memang kita harus mengeluarkan uang yang cukup lumayan. Akan tetapi jika kita menghargai waktu yang kita miliki secara tinggi maka uang yang kita keluarkan untuk pelatihan tentu akan sebanding dengan apa yang kita dapatkan.

Coding bootcamp juga dapat jadi pilihan. Beberapa coding bootcamp bahkan ada yang menggratiskan pelatihan yang bersifat intensif tapi Anda harus diseleksi secara ketat mirip dengan melamar pekerjaan. Ada juga coding bootcamp dengan biaya puluhan juta rupiah yang menjanjikan pesertanya akan ditempatkan ke perusahaan bergengsi maupun start up. Tinggal pandai-pandainya Anda memilih mana yang lebih cocok dengan tujuan Anda belajar coding.

(Jika Anda tertarik dengan coding bootcamp dari Inixindo Jogja silakan menuju laman Full-Stack Web Programming Bootcamp.)

***

 

Nah, bagaimana? Masih ragu untuk belajar coding? Jika masih bingung mulai dari mana mungkin syllabus training IT di Inixindo Jogja dapat dijadikan panduan dari mana Anda harus memulai menempuh “jalan keyboard” seorang coder.

Benarkah Belajar Coding Saat Ini Lebih Mudah Dibanding Dulu?

Benarkah Belajar Coding Saat Ini Lebih Mudah Dibanding Dulu?

Minat orang-orang untuk belajar pemrograman atau yang sekarang lebih ngetren disebut dengan belajar coding meningkat pesat belakangan ini. Selain karena kebutuhan industri dan sumber daya manusia untuk bidang tersebut memang meningkat, banyak di antara anak-anak muda yang menjadikan pemrograman sebagai hobi. Bisa menciptakan suatu program untuk memecahkan masalah yang dialami sendiri atau orang lain tentu menjadi tantangan sendiri bagi mereka.

Banyak orang yang bilang anak-anak sekarang hidupnya lebih enak apalagi kalau mau belajar sesuatu hal yang baru terutama belajar yang agak-agak berbau teknologi informasi atau IT. Sudah ada Google dan Wikipedia yang bisa menjelaskan semua hal yang ingin diketahui. Tinggal ketik kata kuncinya, ribuan halaman web tersedia dari institusi resmi maupun blog personal.

Lalu benarkah belajar coding sekarang lebih gampang bila dibandingkan dengan dulu? Belum tentu! Banyak juga hal-hal yang ada sekarang justru membuat kita semakin susah untuk belajar pemrograman. OK, mari kita bandingkan kondisi yang mempermudah dan yang mempersulit belajar coding saat ini.

 

Kondisi Yang Mempermudah Belajar Coding

 

Hadirnya Internet

Sebenarnya alasan ini sudah dibahas di awal artikel. Yup! Dengan kehadiran internet, kita dengan mudah bertanya apa saja ke mesin pencari seperti Google. Bahkan jika kita aktif di forum seperti Stack Overflow seringkali kita disuguhkan dengan kode yang sudah jadi. Cukup tekan “ctrl+C” dan “ctrl+V” saja untuk menyalin kode tersebut ke text editor yang kita gunakan seperti Sublime, Atom, atau Visual Studio.

Adanya internet juga mempermudah kita untuk mendapatkan tools dan dependencies yang dibutuhkan. Cuma butuh kesabaran dalam mengunduh file-file yang dibutuhkan dengan koneksi di negara kita yang alakadarnya ini.

 

Lahirnya Bermacam-macam Framework

Adalah sebuah kodrat jika manusia suka dengan hal yang cepat dan instan, seperti mie kardus yang laris dimana-mana. Begitu juga dengan bahasa pemrograman. Jangan mengaku gaul di dunia coding kalau belum pernah mencoba framework yang dibuat di atas bahasa pemrograman tertentu seperti Laravel, Vue.js, Spring, .NET, dan lain sebagainya.

Framework memang dibuat untuk memudahkan para developer untuk menuliskan kode pemrogramannya. Dengan framework, beberapa baris kode bisa disingkat menjadi satu baris kode saja. Selain memudahkan para developer, framework ini juga dianggap sebagai dewa penyelamat bagi orang yang sedang belajar coding tapi juga ingin langsung praktek membuat suatu project sendiri.

 

Coding Bootcamp yang Kian Menjamur

Bagi yang belum mengetahui istilah yang digunakan pada sub judul di atas, coding bootcamp adalah program pelatihan intensif belajar pemrograman. Biasanya yang sering kali diajarkan dalam coding bootcamp ini adalah pemrograman web dan mobile. Mungkin karena memang dua hal tersebut lebih sederhana daripada membuat aplikasi desktop.

Ada bermacam-macam metode coding bootcamp. Ada metode online yang tidak mewajibkan peserta datang ke tempat pelatihan dan ada metode offline yang mewajibkan pesertanya hadir ke ruang kelas. Seringnya penyedia layananan coding bootcamp ini tidak mematok syarat yang tinggi untuk menjadi pesertanya. Minimal paham caranya menggunakan komputer dan internet, walaupun ada beberapa bootcamp yang menyeleksi ketat pesertanya karena keterbatasan tempat.

Adanya coding bootcamp ini membuat orang-orang tidak harus kuliah di jurusan IT untuk bisa membuat aplikasi web atau mobile. Dan mengingat bahwa banyak tech start up yang tidak mensyaratkan ijazah dari Teknik Informatika dalam menerima karyawan baru, semakin menambah semangat kita yang ingin atau sedang belajar coding.

(Jika Anda tertarik dengan coding bootcamp dari Inixindo Jogja silakan menuju laman full-stack web programming bootcamp.)

 

Orang Yang Mengerti IT Jauh Lebih Banyak

Setidaknya di zaman sekarang, pemahaman IT masyarakat Indonesia sudah cukup lumayan. Hampir setiap orang yang kita jumpai paling tidak memiliki komputer kecil berwujud smartphone di sakunya. Hampir setiap universitas pun punya jurusan IT. Kenapa hal ini membantu? Ya paling tidak semakin besar jumlah orang yang paham IT semakin besar pula kemungkinan orang yang kita kenal bisa kita jadikan Google berjalan yang siap ditanya-tanya saat mengobrol di warung kopi atau di warteg.

Selain untuk ditanya-tanya, kehadiran teman yang memiliki minat dan keahlian di bidang yang sama tentu saja akan memberikan dukungan psikologis. Itulah kenapa komunitas sering berkumpul untuk sekedar sharing.

 

Kondisi Yang Mempersulit Belajar Coding

 

Teknologi Yang Berkembang Terlalu Cepat

Semakin canggih teknologi tentu saja juga mendatangkan masalah baru yaitu perubahan yang sangat cepat. Masalah ini sering dialami oleh mahasiswa IT yang baru saja lulus dari perguruan tinggi. Materi-materi kuliah yang diajarkan pada awal semester terkadang sama sekali berbeda dengan kondisi saat mereka lulus. Satu per satu framework lahir menggantikan framework populer yang dipakai sebelumnya.

Repotnya lagi, industri saat ini menuntut para calon karyawannya untuk menguasai framework baru. Tidak sedikit dari mahasiswa yang belum sempat istirahat sambil kipas-kipas setelah wisuda harus belajar lagi agar bisa diterima di perusahaan tempat incarannya untuk bekerja. Kondisi inilah yang kadang-kadang membuat bingung orang yang akan belajar coding. Mereka takut pembelajarannya akan sia-sia setelah setahun atau dua tahun lagi.

 

Distraksi

Sebenarnya ini adalah hambatan yang muncul dari faktor internal diri kita sendiri. Pernakah Anda mencari-cari tutorial di internet dan tanpa Anda sadari Anda tiba-tiba menonton video musik yang sedang populer saat ini? Jika pernah, Anda tidak sendirian.

Jika dulu hanya ada komputer, buku teknis tentang pemrograman, dan cemilan saat kita belajar. Sekarang kita diberikan pilihan konten yang dapat mendistraksi fokus kita dalam belajar coding. Tentunya hal ini akan mengurangi efisiensi waktu yang dibutuhkan untuk mendalami dan mempraktikkan setiap baris kode yang kita dalami.

 

Project Dengan Skala Besar

Hadirnya platform kolaborasi dalam pemrograman seperti Git membuat suatu project berkembang dari skala kecil hingga ke skala besar dengan sangat cepat. Lalu? Jika Anda baru belajar coding dan belum punya pengalaman mengerjakan project dengan skala besar, bersiaplah untuk ternganga melihat ribuan baris kode yang dibuat oleh puluhan orang. Tentu saja dengan alur logika mereka masing-masing.

Satu hal yang lebih susah daripada coding itu sendiri adalah memahami kode yang dibuat oleh developer lain. Hal ini akan terasa mudah saat dulu procedural programming masih berjaya dan belum diserang oleh “negara api” (object-oriented programming, Red.).  Memang secara garis besar OOP (object-oriented programming) memang dibuat untuk memudahkan developer dalam mengembangkan aplikasi dengan skala besar, tapi beda ceritanya jika kita masuk saat project berjalan ditengah-tengah dan kita harus melakukan reverse engineering terhadap aplikasi yang dibuat oleh banyak orang.

 

Telah sampailah kita pada penghujung artikel yang tidak memberikan kesimpulan dan agak berbau click bait ini. Lalu bagaimana tips dan trik agar belajar coding atau pemrograman bisa berjalan efektif dan menyenangkan? Baca artikel dari kami tentang 7 jurus (tips & trik) belajar coding secara otodidak!