Pengelolaan Data Center Perbankan

Pengelolaan Data Center Perbankan

Solusi layanan Data Center adalah solusi yang digunakan untuk menempatkan sistem elektronik dan komponen terkaitnya untuk keperluan penempatan, penyimpanan, dan pengolahan data. Dalam implementasinya, OJK mengatur pemanfaatan Data Center sebagai penerapan manajemen resiko perbankan yang diatur dalam Peraturan OJK No.38/POJK/03/2016 tentang Penerapan Manajemen Resiko dalam Penggunaan TI oleh Bank Umum, pada Pasal 2 butir 1 yang berbunyi “Bank wajib menetapkan manajemen resiko secara efektif dalam penggunaan TI”, yang salah satunya adalah dengan menggunakan Data Center.Pelatihan ini didesain untuk menunjukkan kepada peserta pelatihan mengenai komponen utama atau komponen kunci dari sebuah Data Centre.

Pelatihan ini akan memberikan arahan bagaimana menyiapkan dan meningkatkan beberapa aspek kunci seperti tenaga listrik, pendinginan, keamanan, pengkabelan, keselamatan dan lain sebagainya, untuk memastikan tercapainya high-availability dari sebuah data centre. Pelatihan ini juga memberikan pengarahan mengenai aspek pengoperasian dan perawatan. Setelah mengikuti pelatihan ini peserta akan mampu membangun dan mengelola Data Center yang handal, aman, efisien sehingga selaras dengan kebutuhan bisnis.

Silabus  This form does not exist

Implementasi Peraturan OJK Nomor : 38/POJK.03/2016

Implementasi Peraturan OJK Nomor : 38/POJK.03/2016

 

Perkembangan teknologi informasi dapat dimanfaatkan oleh dunia perbankan sebagai cara untuk meningkatkan efisiensi dan mutu pelayanan. Di sisi lain pemanfaatan teknologi informasi juga akan memunculkan resiko yang menyertainya. Sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor : 38/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Resiko Dalam Penggunaan Teknologi Informasi Oleh Bank Umum, pengelola perbankan dituntut menyiapkan beberapa hal terkait manajemen resiko dalam implementasi teknologi informasi antara lain :

  • Menyusun rencana strategis teknologi informasi
  • Menyiapkan standar resiko dalam pemanfaatan teknologi informasi
  • Menyiapkan standar keamanan teknologi informasi
  • Mempersiapkan pemulihan pasca bencana dalam pemanfaatan teknologi informasi

Untuk mengelola resiko dalam penerapan teknologi informasi tersebut diperlukan kesiapan baik infrastruktur maupun SDM yang mempunyai kompetensi sesuai dengan standar peraturan Otoritas Jasa Keuangan. Inixindo Jogja sebagai penyedia layanan dalam bidang pengembangan SDM TIK menawarkan solusi dalam mengantisipasi maupun melakukan pemulihan pasca bencana dalam pemanfaatan teknologi informasi perbankan.

Silabus This form does not exist

Ayo, Membangun Sinergi antar OPD untuk Mewujudkan Smart City

Ayo, Membangun Sinergi antar OPD untuk Mewujudkan Smart City

Seminar dan talk show bertajuk Membangun Sinergi antar OPD dalam Mewujudkan Smart City digagas oleh Inixindo Jogja dan dilaksanakan pada hari Kami, 4 Mei 2017 di Crystal Lotus Hotel Yogyakarta. Acara ini menjadi wadah untuk menyatukan persepsi dari setiap OPD tentang konsep smart city dan dihadiri oleh pegawai di lingkungan Dinas Kominfo, Bappeda, dan BKD se-Jawa Tengah dan DIY.

Ayo, Membangun Sinergi antar OPD untuk Mewujudkan Smart City 1

Dalam pemaparannya , Bapak Bambang Dwi Anggono selaku Kasubdit Teknologi dan Infrastruktur e-Government atau yang lebih dikenal dengan Pak Ibenk mencoba meluruskan konsep smart city yang lebih terukur. Tujuan dan konsep smart city adalah mewujudkan masyatakat yang sejahtera. Pemerintah daerah harus menemukan cara yang cerdas untuk mengatasi persoalan yang terjadi di daerah dan masyarakat masing-masing. Membangun kepedulian sosial yang cerdas menjadi bagian strategi membangun smart city.

Ayo, Membangun Sinergi antar OPD untuk Mewujudkan Smart City 2

Dalam mewujudkan smart city tidak hanya mengenai penggunaan teknologi terkini dan paling canggih. Sementara ini banyak daerah yang berlomba-lomba menggunakan teknologi canggih dan mengklaim bahwa daerah mereka sudah memiliki predikat smart city. Teknologi dalam hal smart city adalah sebagai enabler. Teknologi dijadikan sebagai alat bantu untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan bahagia.

Kemeterian Kominfo , menurut Pak Ibenk berencana membuat standar untuk dapat menjadi tolok ukur smart city yang tepat untuk diterapkan di daerah. Ukuran tersebut dapat menjadi panduan bagi Pemerintah Daerah dalam mewujudkan smart city. Standar ini memperhatikan kekhasan Indonesia, bahkan kekhasan sebuah daerah. Daerah di Indonesia memiliki keragaman yang sangat berbeda satu sama lain, sehingga tidak bisa dipukul rata secara nasional.

Pemaparan dilanjutkan oleh Bapak Andi Yuniantoro selaku direktur Inixindo Jogja. Menyapaikan bahwa fokus seminar dan talk show ini adalah :

  • Teknologi, yakni penyelenggaraan bidang TIK di pemerintahan yang direpresentasikan dengan e-Government di bawah tanggung jawab Dinas Kominfo
  • Sumber Daya Manusia, yakni penyediaan SDM TIK yang mumpuni dan berkompeten menjadi tugas pokok BKD
  • Perencanaan, dalam menuju konsep smart city melalui pembuatan kebijakan dan strategi e-Government yang dituangkan dalam master plan di bwah insiatif Bappeda

Bapak Andi Yuniantoro menegaskan bahwa dalam mewujudkan smart city bukan hanya tanggung jawab dan tugas Dinas Kominfo. Melalui acara seminar dan talk show ini menyinergikan OPD penggerak utama smart city dengan memberikan pemahanan tentang tanggung jawab masing-masing, serta memberi detil juknis dan juklaknya.

Inixindo Jogja memberika apresiasi yang sebesar-besarnya pada seluruh peserta yang hadir dalam acara ini. Sebagai partner pengembangan SDM IT, Inixindo Jogja yang mengusung one stop IT lifecycle solution akan terus mengembangkan kerja sama dengan Pemerintah Daerah dan menjadi partner untuk mewujudkan smart city. Untuk mendownload materi seminar dan talk show silakan klik link download di bawah ini.

Download Materi Ayo Bangun Sinergi Antara OPD dalam Mewujudkan Smart City oleh Andi Yuniantoro
Download Materi Pengembangan Smart City Indonesia – Arah Standarisasi, oleh Pak Ibenk

Seminar, Talk Show, dan Pelatihan GCIO Level 2

Seminar, Talk Show, dan Pelatihan GCIO Level 2

Mewujudkan smart city di daerah membutuhkan peran dari seluruh pihak. Termasuk perlunya sinergi antar OPD yang dalam hal ini terutama adalah Dinas Kominfo, BKD , dan Bappeda. Smart city bukan hanya mengenai penggunaan teknologi yang canggih, namun adanya kesiapan proses mulai dari perencanaan jangka panjang mengenai smart city, kesiapan SDM yang akan mengelola smart city, hingga penggunaan teknologi dalam mewujudkan smart city.
Inixindo Jogja bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menyelenggarakan sebuah acara dan mengundang Anda, perwakilan dari Dinas Kominfo, BKD, dan Bappeda se-Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Seminar, Talk Show, dan Pelatihan GCIO Level 2 3
Seminar, Talk Show, dan Pelatihan GCIO Level 2 4

Berita tentang Seminar ini dapat dilihat di halaman Ayo, Membangun Sinergi antar OPD untuk Mewujudkan Smart City

Serangan Ketiga IT : Internet of Things

Serangan Ketiga IT : Internet of Things

Dua kali selama 50 tahun terakhir, perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi mengubah cara pandang dan aktivitas terhadap bisnis secara radikal dan saat ini kita berada di ambang transformasi ketiga. Sebelum munculnya teknologi informasi, kegiatan bisinis dalam proses pembuatan produk dilakukan secara manual, menggunakan kertas dan komunikasi verbal.

Transformasi teknologi informasi pertama terjadi pada tahun 1960-an dan 1970-an mengubah aktivitas bisnis untuk mengurangi dan tidak terlalu mengandalkan kertas dan komunikasi verbal. Aktivitas-aktivitas bisnis dibantu dengan canggihnya komputer misalnya aktivitas pengelolaan inventori, pengelolaan dan pembayaran tagihan, dan pengadaan barang. Produktivitas meningkat karena setiap aktivitas menjadi tercatat secara rapi di komputer dan data dalam jumlah besar dapat ditangkap dan dianalisa. Hal ini berimbas pada standarisasi proses di perusahaan tentang bagaimana pemanfaatan TI pada operasional perusahaan.

Hadirnya internet murah dan konektivitas di mana-mana menandai dimulainya tranformasi IT-driven kedua yang terjadi pada tahun 1980-an dan 1990-an. Munculnya internet memungkinkan koordinasi dan integrasi pada masing-masing sub-unit perusahaan, berbagi data dan informasi untuk internal, serta saling memonitor target. Perusahaan bahkan dapat berkoordinasi dengan pihak luar perusahaan, pemasok, vendor, dan pelanggan yang berada di tempat yang berbeda. Perusahaan dapat secara erat melakukan integrasi rantai pasokan dan didistribusikan secara global. Dua gelombang transformasi TI pertama memunculkan peningkatan produktivitas besar dan pertumbuhan ekonomi namun belum menjadi bagian dari suatu produk itu sendiri.

Pada masa transformasi ketiga seperti sekarang ini, TI menjadi bagian dari produk yang ditawarkan ke pelanggan. Embedded sensor, prosesor, perangkat lunak, dan konektivitas dalam produk (seperti komputer yang dimasukan ke dalam produk), ditambah lagi dengan teknologi Cloud di mana data produk dapat disimpan dan dianalisis serta beberapa aplikasi dapat dijalankan di Cloud merupakan pemicu peningkatan fungsi dan kinerja suatu produk untuk lebih bermanfaat bagi pelanggan. Penggunaan data produk (data aktivitas produk saat berada ditangan pelanggan) memungkinkan adanya perbaikan dan penyelarasan produk yang sesuai dengan permintaan pelanggan. Transformasi ini ada yang menyebut dengan Internet of Things. Dengan adanya Internet of Things, desain produk, pemasaran, manufaktur,dan layanan purna jual dapat memanfaatkan data dari IoT untuk memuaskan kebutuhan masyarakat saat ini bahkan menciptakan kebutuhan baru.
Serangan Ketiga IT : Internet of Things 5
Internet of Thing adalah sebuah konsep dimana suatu objek yang memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia atau manusia ke komputer.

Internet of Things, atau dikenal juga dengan singkatan IoT, merupakan sebuah konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus. Adapun kemampuan seperti berbagi data, remote control, dan sebagainya, termasuk juga pada benda di dunia nyata. Contohnya bahan pangan, elektronik, koleksi, peralatan apa saja, termasuk benda hidup yang semuanya tersambung ke jaringan lokal dan global melalui sensor yang tertanam dan selalu aktif.

Pada tulisannya, M.Porter  memilih untuk tidak menggunakan frasa Internet of Things dan menggunakan Smart, Connected products sebagai sebutan yang tepat untuk menggambarkan transformasi IT-driven ketiga ini.  Smart, Connected Products mempunyai 3 bagian inti yaitu komponen fisik, komponen “smart”, dan komponen konektivitas. Komponen “smart” memperkuat kemampuan dan nilai fisik sedangkan konektivitas menguatkan kemampuan dan nilai komponen “smart” serta memungkinkan bagian dari produk itu ada di luar fisik produk itu sendiri.

  • Komponen fisik terdiri dari bagian mekanik dan listrik dari suatu produk. Misalnya di dalam mobil komponen fisiknya adalah blok mesin, ban, aki, kampas rem.
  • Komponen “smart” terdiri dari sensor, mikro prosesor, mikrokontroler, penyimpanan data, perangkat lunak dan sistem operasi biasanya termasuk antar muka untuk mempermudah pengguna. Contoh mudahnya adalah di dalam mobil komponen “smart” nya adalah unit control mesin, system pengereman anti penguncian, sensor parker dan layar touch-screen. Pada beberapa produk, perangkat lunak dapat menggantikan fungsi komponen perangkat keras.
  • Komponen konektivitas biasanya terdiri dari port, antena, dan protokol yang dapat terkoneksi dengan produk menggunakan kabel atau nirkabel. Konektivitas terdiri dari 3 bentuk
    • One-to-one, sebuah produk yang yang dapat terhubung ke satu perangkat, pengguna atau produk lain melalui port atau antar muka misalnya ketika mobil dihubungkan ke mesin diagnostik
    • Many-to-many, beberapa produk terhubung ke banyak jenis produk dan sering juga untuk sumber data eksternal. Contoh nya adalah eFishery, alat pemberi pakan ikan secara otomatis dan terjadwal dengan dosis yang pas dan dapat mencatat setiap pemberian pakan secara Hal ini memungkinkan kita melakukan monitoring dan menentukan kapan waktu waktu yang tepat dalam memberi makan. Saat ini, eFishery telah dilengkapi teknologi mobile device dimana alat ini dapat dikontrol dengan menggunakan gadget
    • One-to-many, sebuah system terpusat yang terus menerus terhubung ke banyak produk secara bersamaan. Contohnya adalah layar display di dashboard mobil yang disitu terdapat informasi kecepatan mobil, suhu mesin, pintu mana yang terbuka dan lain-lain.

Satu hal penting yang perlu kita ketahui sebagai masyarakat yang selalu belajar (continuous learning) adalah..

Serangan Ketiga IT : Internet of Things 6

Muhammad Rifai

Instruktur Senior Inixindo Jogja