Webinar Introduction to Software Quality Assurance
Inixindo Live Webinar
Introduction to Software Quality Assurance
Waktu
4 Agustus 2021
Mulai
14.00
Waktu Indonesia Barat
Daftar gratis sekarang untuk mendapatkan aksesnya!
Waktu Indonesia Barat
Daftar gratis sekarang untuk mendapatkan aksesnya!
Biasanya, sebuah bidang pekerjaan menuntut standar kompetensi tertentu, contohnya seperti sertifikasi ITIL 4.
Sertifikasi ITIL 4 ini sendiri merupakan bukti keahlian di bidang IT yang lebih spesifik, dibanding hanya ijazah yang meskipun merupakan salah satu jenis sertifikat, namun sifatnya cenderung umum.
Akan tetapi selain sertifikasi ITIL 4, sebenarnya masih ada banyak sertifikat-sertifikat lain yang ada baiknya Anda miliki dan sesuaikan kebutuhan.
Sebab, memiliki sertifikasi ITIL 4 maupun sertifikasi IT lainnya, bisa membantu Anda mendapatkan posisi yang lebih baik dibanding dengan seseorang yang hanya bermodal ijazah saja.
Belum lagi, di sektor Information Technology (IT) sendiri, merupakan salah satu bidang yang paling banyak menuntut para pelakunya memiliki berbagai macam jenis sertifikasi.
Lucunya, saking pentingnya sertifikasi di bidang IT, sampai-sampai banyak yang mengatakan, “apalah gunanya anak IT tanpa sertifikat-sertifikat yang dimilikinya?”.
Memiliki sertifikasi IT nyatanya memang terbukti efektif mendongkrak gaji Anda yang memang memiliki karir di dunia IT.
Melansir situs Grid.id pada sebuah survei dari Global Knowledge menemukan, bahwa 83 persen dari profesional IT di Amerika Serikat dan Kanada memiliki setidaknya sebuah sertifikasi IT.
Bahkan, rata-rata gaji di AS untuk seorang pemegang sertifikasi IT lebih tinggi 11,7 persen, atau sekitar 8.400 USD dibanding yang belum memiliki sertifikasi IT salah satunya seperti sertifikasi ITIL 4.
Dengan memiliki karyawan profesional bersertifikasi, nyatanya memang bermanfaat bagi perusahaan.
Dari perusahaan yang disurvei, 44 persen dari pengambil keputusan IT mengatakan bahwa sertifikasi IT seperti sertifikasi ITIL 4 membuat karyawan bisa bekerja lebih cepat.
Kemudian, sebanyak 33 persen mengatakan lebih efisien ketika mengimplementasikan sistem.
Lalu 23 persen mengatakan, sertifikasi membantu mereka mengimplementasikan produk dan layanan mereka secara lebih cepat dengan kesalahan yang lebih sedikit.
Sertifikasi IT sendiri biasa dikeluarkan oleh perusahaan raksasa IT seperti Microsoft, AWS, Google, dan Cisco.
Apabila Anda memang salah satu orang yang terjun di bidang IT, dan memiliki niat untuk menapaki karir di bidang tersebut, simak sepuluh sertifikasi di bidang IT seperti yang dikutip dari PCMag berikut ini.
Sertifikasi IT ini hadir pada 2017, sertifikasi Google Certified Professional Cloud Architect ada di posisi teratas.
Untuk mendapatkan sertifikasi ini, Anda harus bisa mendesain, mengembangkan, dan mengatur arsitektur cloud Google dengan teknologi GCP.
Anda juga harus memiliki pengetahuan dan berbagai macam skenario untuk menemukan solusi.
Saat ini skil coud mendapat banyak permintaan, dan sangat penting untuk perusahaan di masa depan.
Rata-rata gaji untuk pemegang sertifikasi Google Certified Professional Cloud Architect adalah USD175,761 per tahun.
Amazon Web Service (AWS) adalah platform pilihan utama di wilayah AS, Kanada, bahkan dunia.
Sedangkan sertifikasi AWS Certified Solution Architect – Associate ini sendiri, dirancang untuk mereka yang memiliki latar belakang penggunaan platform AWS.
Fokus utama dari sertifikasi IT ini, yaitu untuk merancang dan menerapkan sistem yang skalabel pada platform AWS, termasuk juga bagaimana menjaga agar biaya pengembangannya tetap efektif, namun tanpa mengorbankan keamanan, keandalan, serta kualitasnya.
Namuna ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain:
– Diperlukan minimal satu tahun pengalaman merancang sistem pada platform AWS.
– Kemudian memiliki pengetahuan sedikitnya satu bahasa pemrograman tingkat tinggi.
– Terakhir, paham tentang praktik-praktik terbaik seputar pengembangan aplikasi-aplikasi berbasis AWS.
Kemudian, untuk rata-rata gaji pemegang sertifikasi IT AWS Certified Solution Architect – Associate adalah USD149,446 per tahun.
Kemudian, sertifikasi IT selanjutnya dikeluarkan oleh ISACA. Lembaga ini menawarkan sertifikasi CISM yang memiliki fokus pada sekuriti IT pada tingkatan manajemen.
Sertifikasi IT ini dirancang agar dapat menjadi bukti, bahwa pemegangnya memiliki kompetensi cukup dalam membangun, merancang serta mengelola inisiatif-inisiatif sekuriti perusahaan.
Untuk mendapatkan sertifikasi CISM, diperlukan beberapa syarat, seperti:
– Lima tahun pengalaman di bidang keamanan informasi.
– Dibutuhkan juga bagi para pemegangnya untuk terus mengkinikan dan mengaplikasikan kemampuannya melalui laporan kredit CPE (continuing professional education) setiap tahunnya.
Sedangkan untuk rata-rata gaji pemegang sertifikasi CISM adalah USD148,622 per tahun.
Masih dari sertifikasi yang dikeluarkan oleh ISACA, mereka mengklaim bahwa sertifikasi CRISC adalah satu-satunya sertifikasi IT yang menyiapkan dan memungkinkan profesional IT untuk tantangan spesifik dari manajemen risiko IT dan organisasi.
Serta memosisikannya sebagai mitra strategis bagi organisasi.
Sertifikasi ini adalah bukti kemampuan pemegangnya terkait manajemen, asesmen, mitigasi, respon, pemantauan dan pelaporan risiko.
Untuk mendapatkan sertifikasi CRSIC, ada beberapa syarat:
– Anda harus memiliki minimal tiga tahun pengalaman pada sedikitnya dua dari empat topik yang dicakup dalam sertifikasi ini.
– Pemegangnya juga harus untuk terus mengkinikan kompetensinya melalui laporan kredit CPE pada setiap tahunnya untuk mempertahankan sertifikasi yang dipegangnya.
Sedangkan dari sisi gaji, rata-rata gaji bagi para pemegang sertifikasi CRISC adalah USD146,480 per tahun.
Sertifikai PMP dikeluarkan oleh Project Management Institute, sebuah lembaga independent yang berada di Pennsylvania, Amerika Serikat.
Apabila Anda memiliki sertifikat ini, maka Anda akan dianggap telah berhasil membuktikan bahwa Anda layak memimpin dan mengatur satu tim dalam sebuah proyek.
Sertifikasi PMP sendiri sudah diakui secara luas di dunia industri, tidak hanya terbatas pada dunia IT saja.
Bahkan, para pelaku dunia IT juga kerap menganggap bahwa PMP termasuk sertifikasi yang harus dimiliki, mengingat pekerjaan di dunia IT kerap di kerjakan secara tim bukan individual.
Jadi tidak heran, apabila kemampuan seseorang dalam memimpin sebuah tim pastilah sangat penting.
Akan tetapi, untuk mendapatkan sertifikasi PMP ini, Anda harus memenuhi beberapa syarat:
– Tingkat pendidikan setara S1 (masa kuliah empat tahun).
– Tiga tahun pengalaman di manajemen proyek, 4.500 jam dalam memimpin dan mengarahkan proyek.
– Anda juga harus melewati 35 jam pelatihan terkait manajemen proyek.
– Namun, untuk peserta dengan tingkat pendidikan di bawahnya, diperlukan lima tahun pengalaman, 7500 jam memimpin dan mengarahkan proyek, serta 35 jam dalam pendidikan manajemen proyek.
Dari sisi gaji, pemegang sertifikasi IT PMP bisa mengantongi hingga USD143,493 per tahun.
Sertifikasi CISSP berfokus pada bidang keamanan telekomunikasi, keamanan arsitektur, keamanan pengembangan aplikasi, kriptografi.
Sertifikasi IT ini, juga menjadi salah satu sertifikat yang paling diburu oleh kalangan pekerja yang berkecimpung di bidang IT.
Untuk mendapatkan sertifikat IT satu ini, Anda wajib memiliki pengalaman sedikitnya 5 tahun dalam bidang keamanan sistem informasi, sebab memang sertifikat ini bukan sembarangan dan memiliki nilai yang tinggi.
Sertifikasi IT ini ditawarkan oleh ISC dan diakreditasi oleh ANSI, secara formal diakui oleh Departemen pertahanan AS dan diadopsi sebagai standard untuk program lembaga keamanan nasional AS.
Sertifikasi ini diakui secara global sebagai sertifikasi yang dirancang untuk membantu para profesional IT security untuk memantapkan praktik-praktik terbaik seputar dunia sekuriti modern.
Pemegang sertifikasi CISSP juga diwajibakan untuk terus mengikuti perkembangan kompetensi profesionalnya melalui kredit CPE, dan diperlukan sedikitnya lima tahun pengalaman profesional pada dua atau lebih topik yang diujikan.
Rata-rata gaji untuk pemegang sertifikasi CISSP adalah USD141,452 per tahun.
Bisa dibilan, sertifikasi IT ini cukup baru dibandingkan dengan lainnya. Meski yang terbilang baru, namun CISA sangat diperhitungkan di seluruh dunia.
Sertifikasi CISA sendiri menjadi bukti kemampuan audit, cybersecurity, dan manajemen risiko.
Pakar IT yang memiliki sertifikat CISA memiliki tugas untuk memastikan jika sebuah aset penting dalam sebuah bisnis bisa aman dan terpelihara dengan baik.
Namun, untuk mencapai sertifikasi ini, Anda harus lulus ujian Certified Information Systems Auditor (CISA) terlebih dahulu.
Di dalamnya ada lima domain, yaitu:
– Sistem Informasi Audit.
– Tata Kelola dan Manajemen IT.
– Akuisisi, Pengembangan, dan Implementasi Sistem Informasi.
– Pengoperasian, Pemeliharaan, dan Manajemen Layanan Sistem Informasi.
– Perlindungan Aset Informasi.
Gaji rata-rata yang diterima oleh para pemegang sertifikat CISA berkisar USD132.278 per tahun.
AWS Cloud Practitioner berdasarkan platform cloud Amazon Web Services (AWS) yang sangat populer.
Ini merupakan titik awal jika Anda ingin memiliki berbagai sertifikasi cloud Amazon seperti AWS Solutions Architect, Developer, DevOps Engineer, dan SysOps Administrator.
Sertifikasi IT ini sendiri, dirancang untuk para profesional yang memang mencari pemahaman menyeluruh tentang layanan cloud AWS.
Sebagai sertifikasi tingkat dasar, sertifikasi ini juga sering dipegang oleh seseorang di awal karir mereka, karena biasanya menjadi batu loncatan untuk sertifikasi AWS yang lebih spesifik di masa mendatang.
Dengan semakin tingginya permintaan manajemen cloud selama beberapa tahun terakhir, jumlah sertifikat AWS Certified Cloud Practitioner juga mungkin akan terus meningkat.
Tentunya ini juga akan sangat menarik bagi bisnis yang mempertimbangkan untuk pindah ke desktop-as-a-service (DaaS) sebagai pekerjaan hybrid, karena AWS merupakan salah satu pemain yang diperhitungkan pada bidang tersebut dengan platform Amazon WorkSpaces-nya.
AWS Cloud Practitioner menjadi bukti kemampuan Anda untuk menentukan infrastruktur cloud dasar dan prinsip arsitektur, serta layanan utama pada platform AWS.
Seorang profesional bersertifikat, juga harus mampu menjelaskan berbagai dasar keamanan dan aspek dasar platform yang harus terpenuhi.
Umumnya, seseorang dengan sertifikat ini bisa mengantongi hingga rata-rata USD131.465 per tahun.
The VCP-DCV: VMware Certified Professional – Data Center Virtualization, membuktikan keterampilan yang diperlukan untuk membangun infrastruktur virtual yang bisa diukur menggunakan VMware vSphere.
Para peserta bisa memilih dari beberapa sumber belajar online, dan akan belajar bagaimana mengelola, mengkonsolidasikan, dan menerapkan teknologi virtualisasi VMware, seperti vSphere High Availability dan Distributed Resource Scheduler clusters.
Profesional di bidang IT yang sudah memiliki sertifikasi ini memperoleh gaji rata-rata USD130.226 per tahun.
Kemudian, sertifikasi IT internasional yang paling populer di bidang IT Service Management (ITSM) adalah ITIL, yang merupakan kependekan dari Information Technology Infrastructure Library.
ITIL sendiri saat ini memiliki versi terbaru, yaitu sertifikasi ITIL 4.
Sertifikasi ITIL 4 sangat dibutuhkan bagi perusahaan besar, terutama yang memang mengimplementasi layanan berbasis IT.
Di sisi lain, para akademisi pun perlu belajar untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswanya.
Sertifikasi ITIL 4 sendiri dimiliki dan dikelola oleh Kantor Pemerintah Commerce di UK, yaitu sertifikasi manajemen layanan yang diakui secara global.
Sertifikasi ITIL 4 juga dianggap sebagai kualifikasi entry level di bidang IT Service Management.
Rata-rata gaji untuk pemegang sertifikasi ITIL 4 adalah USD129,402 per tahun.
Jadi, mana sertifikasi IT yang akan segera Anda ambil? Segera sertifikasi IT sekarang dan jangan sampai menyesal di masa depan.
Sejak dirilis, mungkin Anda belum paham apa sebenarnya perbedaan COBIT 5 dan COBIT 4.1 yang merupakan generasi baru dari COBIT itu sendiri.
COBIT sebenarnya sudah sangat dikenal luas sebagai standard defacto, di mana COBIT ini menjadi framework tata kelola TI (IT Governance) dan yang terkait dengannya.
Framework ini, terus berevolusi sejak pertama kali diluncurkan tepatnya pada tahun 1996, hingga dirilisnya generasi terakhir yaitu COBIT 5 yang diluncurkan pada Juni 2012 silam.
Namun, yang menjadi dasar perbedaan COBIT 5 dan COBIT 4.1, karena framework ini melakukan pergeseran-pergeseran beberapa paradigma.
Lantas di sinilah muncul pertanyaan, kenapa harus selalu berubah terus-menerus? Bukankah perubahan tersebut, justru membingungkan pihak yang akan mengadopsinya?
Ya, mungkin perubahan penyebab adanya perbedaan COBIT 5 dan COBIT 4.1 tersebut akan menyulitkan pihak yang mengadopsinya.
Namun perlu disadari, bahwa segala hal di dunia ini akan selalu terus menerus berubah.
Terutama jika kita berbicara mengenai teknologi Informasi, dan pemanfaatannya yang sangat berkembang dengan cepat.
Pastinya perubahan di bidang teknologi informasi, akhirnya menuntut adanya perubahan dalam tata cara pengelolaannya juga.
Dengan begitu, framework tata kelola seperti COBIT juga perlu penyesuaian dengan berbagai perubahan yang terjadi.
Tidak hanya itu, munculnya perbedaan COBIT 5 dan COBIT 4.1 ini, tidak lain karena konsep awal yang sudah sedemikian rupa dibangun, tapi masih terdapat kelemahan saat praktik dan adanya celah yang masih mungkin untuk diperbaiki serta disempurnakan.
Ada beberapa perbedaan COBIT 5 dan COBIT 4.1 yang ternyata cukup penting. Apa saja perbedaan COBIT 5 dan COBIT 4.1 tersebut?
Prinsip Baru dalam Tata Kelola TI
Perbedaan COBIT 5 dan COBIT 4.1 yang pertama, ada pada prinsip baru dalam tata kelola TI untuk organisasi, yaitu Governance of Enterprise IT (GEIT).
Dalam COBIT 5 lebih berorientasi pada prinsip, dibanding pada proses.
Alasan dari orientasi pada prinsip, karena penggunaan prinsip-prinsip itu sendiri lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam konteks enterprise dengan lebih efektif.
Penekanan pada Enabler
Selanjutnya, perbedaan COBIT 5 dan COBIT 4.1 yaitu diberinya penekanan lebih kepada Enabler.
Memang, sebenarnya dalam COBIT 4.1 juga telah menyebutkan adanya enabler–enabler.
Akan tetapi, dalam COBIT 4.1 tidak menyebutnya secara gamblang dengan enabler.
Sementara perbedaan COBIT 5 dan COBIT 4.1, yaitu disebutkannya secara gamblang dan spesifik mengenai keberadaan 7 enabler dalam implementasinya.
Di bawah ini terdapat tujuh enabler COBIT 5 dan perbandingannya dengan di dalam COBIT 4.1:
Di dalam COBIT 4.1, poin-poin ini tersebar ke dalam beberapa proses-proses COBIT 4.1.
Proses sendiri, menjadi hal yang sentral di dalam COBIT 4.1.
Beda dengan COBIT 5, di dalam COBIT 4.1 struktur organisasi tercermin dalam RACI chart yang mendefinisikan peran serta tanggung-jawab para pihak di dalam setiap proses.
Perihal kultur, etika, serta perilaku, poin ini hanya terselip di beberapa proses COBIT 4.1.
Di dalam COBIT 4.1 sendiri, informasi adalah salah satu sumber daya TI (IT resources).
Kemudian, di dalam COBIT 4.1, infrastruktur dan aplikasi, keduanya disatukan dengan layanan, kemudian dijadikan salah satu sumber daya TI juga.
Dalam COBIT 4.1, hanya disebutkan “orang” sebagai salah satu sumber daya. Meskipun, pada dasarnya mencakup juga keterampilan serta kompetensinya.
Model Referensi Proses yang Baru
Kemudian perbedaan COBIT 5 dan COBIT 4.1 yang ke tiga, dalam COBIT 5 mendefinisikan model referensi proses yang baru, kemudian diberi tambahan domain governance serta beberapa proses, baik yang benar-benar baru atau yang dimodifikasi dari proses lama.
Selain itu, mencakup juga aktivitas organisasi secara end-to-end.
Selain menggabungkan dan menyempurnakan COBIT 4.1, Val IT, dan Risk IT ke dalam sebuah framework, COBIT 5 juga sengaja di jadikan lebih mutakhir.
Tujuannya untuk menyelaraskan dengan best practices yang ada, seperti misalnya ITIL v3 2011 maupun TOGAF.
Ada Proses-proses Baru di COBIT 5
Tidak sampai situ saja, perbedaan COBIT 5 dan COBIT 4.1 sebenarnya sudah disinggung sebelumnya, bahwa di dalam COBIT 5 terdapat proses-proses baru, yang sebelumnya belum pernah ada di COBIT 4.1.
Selain itu, terdapat juga beberapa modifikasi di dalam proses-proses yang sudah ada pada COBIT 4.1.
Proses COBIT 5 Lebih Holistik
Dari beberapa hal tadi, sebenarnya secara sederhana dapat dikatakan, bahwa model referensi proses di dalam COBIT 5 ini sebenarnya mengintegrasikan konten dati COBIT 4.1, Risk IT dan Val IT.
Maka tidak heran, apabila keseluruhan proses-proses pada CobiT 5 ini jadi lebih holistik, lengkap dan dapat mencakup aktivitas bisnis dan IT secara end-to-end.
Dengan berbagai perbedaan COBIT 5 dan COBIT 4.1 di atas, bisa disimpulkan bahwa COBIT 5 jelas menjadi sebuah inovasi dan penyempurnaan dari pendahulunya.
Maka tidak ada alasan untuk tidak segera migrasi dari COBIT 4.1 ke COBIT 5, agar Anda lebih siap menghadapi perubahan-perubahan di masa yang akan datang.
ITIL 4 adalah versi terbaru dari ITIL (Information Technology Infrastructure Library). ITIL 4 sendiri, tepatnya merupakan evolusi dari ITIL versi 3.
ITIL 4 memberikan transisi yang praktis dan fleksibel bagi organisasi, untuk mengadopsi cara kerja baru yang dibutuhkan oleh dunia digital modern.
Sebagai sebuah framework terkemuka untuk Manajemen Layanan TI, ITIL 4 tentunya perlu untuk Anda gunakan.
Dengan menggunakan ITIL 4, organisasi Anda bisa mengikuti perubahan dalam teknologi, bahkan bisa juga memberikan produk dan layanan inovatif, dengan lebih efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhan pasar.
ITIL 4 sendiri dibangun berdasarkan kemajuan ITIL selama beberapa dekade, perkembangan praktik-praktik IT service management, customer experience, value, dan transformasi digital, serta melalui keselarasan yang lebih besar dengan cara kerja baru, seperti Lean, Agile, dan DevOps.
Tapi, mengapa ITIL 4 diperlukan dalam sebuah perusahaan?
Ini tidak lepas, karena ITIL 4 memiliki pendekatan yang paling baik untuk layanan manajemen TI di dunia.
ITIL 4 sendiri menawarkan pendekatan, berdasarkan best practice yang diadopsi dari sektor publik dan swasta internasional.
ITIL 4 telah banyak digunakan dan diadopsi banyak organisasi di dunia, baik dari pemerintahan, swasta, maupun pendidikan.
Di bawah ini ada beberapa organisasi yang sudah mengadopsi ITIL 4 dan versi pendahulunya:
Daftar di atas hanya sebagian kecil perusahaan yang sudah menggunakan ITIL 4.
Tentunya, masih banyak lagi organisasi yang mengadopsi ITIL 4 maupun versi pendahulunya, sebagai kerangka kerja IT Service Management mereka.
Sebagai gambaran, di Telkomsel sendiri adopsi ITIL nyatanya berdampak baik pada kinerja perusahaan.
Hal tersebut terbukti pada setiap tahun, Telkomsel menjadi penyumbang terbesar dari profit Telkom selama satu dekade terakhir.
ITIL 4 sebenarnya menggunakan dasar pendekatan yang sistematis, terutama untuk manajemen layanan TI.
Di sisi lain, adanya ITIL 4 juga bisa memberi manfaat bagi sebuah perusahaan, seperti:
1. ITIL 4 bisa meningkatkan Return on Investment (ROI) pada TI.
2. Selanjutnya, ITIL 4 juga bisa meningkatan kapabilitas dan produktivitas.
3. Tidak sampai situ saja, ITIL 4 ternyata mampu meningkatkan kepuasan pelanggan maupun pengguna.
4. Kemudian, ITI 4 juga bisa meningkatkan hasil pemanfaatan aset.
5. ITIL 4 juga bisa meningkatkan hubungan dan interaksi, antara penyedia layanan TI dengan pengguna maupun pelanggan.
6. Lalu, ITIL 4 akan membantu organisasi Anda untuk mengimbangi perubahan zaman, yang menuntut organisasi untuk terus berkembang.
7. Terakhir, ITIL 4 bisa membantu integrasi layanan TI.
Tentunya, manfaat-manfaat penggunaan ITIL 4 sendiri, secara nyata sudah dibuktikan oleh banyak organisasi di dunia yang mengadopsi ITIL 4 sebagai kerangka kerja layanan TI mereka.
Mungkin Anda sedikit penasaran mengenai apa saja yang akan dipelajari di dalam pelatihan ITIL 4.
Nah, Inixindo Jogja sebagai lembaga resmi pelatihan ITIL 4, akan memberikan sedikit gambaran mengenai outline pelatihan ITIL 4 tersebut, antara lain:
1. Pengenalan Kerangka Kerja ITIL 4.
2. Perbedaan ITIL 3 dengan ITIL 4.
3. Pengelolaan Layanan TIK (IT Service Management / ITSM).
4. Empat Dimensi Pengelolaan Layanan TIK
5. Service Value System.
6. Prinsip-Prinsip Panduan (Guiding Principles)
7. Service Value Chain
8. Continual Improvement Model.
9. 14 Praktik Pengelolaan Umum (General Management Practices).
10. 17 Praktik Pengelolaan Layanan (Service Management Practices).
11. 3 Praktik Pengelolaan Teknis (Technical Management Practices).
12. Persiapan dan Latihan Soal Ujian Sertifikasi ITIL 4 Foundation.
Setelah Anda berhasil mendapatkan sertifikasi ITIL 4 tersebut, tentu bisa Anda gunakan dalam menunjang karir Anda.
Ini tidak lain, karena sertifikasi ITIL 4 sendiri telah diakui secara internasional. Tidak sampai situ saja, bukan tidak mungkin, dengan memiliki sertifikasi ITIL 4, banyak perusahaan semakin tertarik untuk merekrut Anda.
Sebab, dengan memegang lisensi ITIL 4, Anda akan diakui secara resmi bisa dan mampu membawa perusahaan ke tujuan yang diharapkan.
COBIT 5 telah hadir dan menjadi sebuah revolusi, terutama dalam bagaimana memandang manajemen serta tata kelola TI yang ada di dalam sebuah organisasi.
Di dalam COBIT 5, terdapat sejumlah perubahan yang cukup penting apabila dibandingkan dengan versi sebelumnya.
Lantas, terdapat pertanyaan yang muncul, yaitu apakah organisasi yang sudah mengeluarkan sejumlah investasi untuk mengimplementasikan COBIT versi sebelumnya, harus segera bermigrasi ke COBIT 5?
Tentu jawabannya “iya”. Sebab, zaman akan terus berkembang, begitu juga ilmu pengetahuan. Tentu, dengan begitu ada baiknya segera migrasi ke COBIT 5.
Jika dilihat lebih jauh, memang, migrasi menuju COBIT 5 tidak seperti migasi software dan hardware.
Hal ini sejalan dengan pendapat dari Sudarsan Jayaraman dalam sebuah artikel yang dia tulis dan telah dimuat di dalam bulletin Cobit Focus dari ISACA volume 3, pada Juli 2013 lalu.
Dirinya menyatakan, bahwa untuk berpindah ke COBIT 5 itu tidak seperti migrasi software, hardware atau platform tertentu.
Akan tetapi, proses migrasi tersebut perlu dilihat sebagai sebuah transisi dari bagaimana aktifitas dilakukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari para para pemangku kepentingan.
Namun, akan muncul pertanyaan pastinya, apakah apa yang dilakukan dalam COBIT 5 ini tidak dilakukan pada COBIT versi sebelumnya?
Lalu, apa sebenarnya yang menjadi faktor pembeda antara COBIT 5 dari COBIT 4.1, dan apa saja manfaat yang bisa diambil dari COBIT 5 ini?
Nah, untuk membahasnya satu persatu, simak penjelasannya di bawah ini.
Meski COBIT 4.1 menjadi sebuah framework yang sangat populer, akan tetapi framework ini sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai framework TI, bukan framework bisnis organisasi.
Dalam COBIT 4.1 lebih menjelaskan kebutuhan TI sebagai sebuah model operasi dan pedoman praktik-praktik bagus dalam proses-proses TI.
Akan tetapi, di dalam COBIT 4.1 kurang memiliki perspektif tata kelola secara organisasi karena lebih berorientasi kepada proses TI.
Kendati COBIT 4.1 juga melakukan penyelarasan bisnis TI, yaitu dengan memetakan tujuan bisnis ke tujuan TI.
Sedangkan di sisi lain, pada COBIT 5 melakukan perubahan lebih jauh pada model proses tersebut, dengan memberi pembeda yang lebih jelas antara proses-proses dalam lingkup tata kelola dan proses-proses dalam lingkup manajemen.
Kemudian, sudah terdapat juga domain baru dalam model referensi proses yang diperkenalkan dalam COBIT 5, yaitu domain governance.
Hal ini tentunya menjadi sebuah perubahan besar yang bisa memberi kejelasan pada fungsi-fungsi manajemen, serta tata kelola di dalam sebuah organisasi.
Inovasi lain besar lainnya yang ada di COBIT 5 adalah diperkenalkannya lima prinsip utama, serta tujuh enabler yang menjadi pilar penyokong framework COBIT 5 ini.
Dengan adanya penambahan ini, maka COBIT 5 sendiri sudah mulai menyelaraskan dirinya lebih dekat dengan framework ISO 38500.
Meskipun, COBIT 5 masih mempertahankan model penurunan tujuan, seperti yang digunakan dalam COBIT 4.1.
Tapi, COBIT 5 sudah memasukkan identifikasi kebutuhan stakeholder sebagai titik awal dalam proses pemetaan tersebut.
Maka, berdasar kebutuhan stakeholder tersebut, kemudian diturunkan lebih jauh menjadi tujuan organisasi, tujuan TI, hingga akhirnya tujuan dari enabler.
Cukup berbeda dengan COBIT 4.1, di mana ujungnya adalah tujuan proses TI. Sementara dalam COBIT 5 penurunannya kepada tujuan dari enabler yang memiliki tujuh poin.
Selanjutnya, ada juga perbedaan signifikan lainnya yaitu dalam hal model asesmen proses yang dibawa oleh COBIT 5.
Model asesmen yang dibawa oleh COBIT 5 ini selaras dengan kebutuhan standard ISO 155004.
Ini mengartikan, bahwa asesmen yang dilakukan akan menjadi lebih ketat dan juga lebih akurat terhadap proses-proses yang relevan.
Pada dasarnya, dengan migrasi menggunakan COBIT 5, organisasi akan merasakan manfaat yang tentunya cukup siginifikan.
Beberapa manfaat dari COBIT 5 bagi organisasi antara lain adalah sebagai berikut:
Jika sebuah organisasi sudah implementasi COBIT 4.1 dan dirasa sudah mencapai tujuan organisasi itu sendiri, maka ada baiknya segera mempertimbangkan migrasi ke COBIT 5.
Sebab, dengan migrasi ke COBIT 5, artinya juga mengubah pengaturan tata kelola TI (IT Governance) menjadi tata kelola orgnisasi terhadap TI (Governance of Enterprise IT/GEIT).
Hal ini menyebabkan keterlibatan stakeholder organisasi memiliki peran yang amat sangat penting di dalam COBIT 5.
Namun, jika dijabarkan secara rinci, terdapat beberapa faktor yang mendukung keputusan organisasi untuk segera migrasi ke COBIT 5, antara lain:
– Langkap pengawasan yang diimplementasikan lebih berorientasi TI, dan cenderung tidak mencakup keseluruhan organisasi.
– Terjadinya kegagalan berulang dari proses-proses TI. Di mana hal tersebut disebabkan oleh permasalahan pada sisi layanan yang seharusnya dilakukan oleh sisi bisnis.
– Selanjutnya, penting juga mempertimbangkan migrasi ke COBIT 5 jika risiko yang bisa menjadi hambatan bisnis, masih saja tidak berkurang secara signifikan dan risiko TI tidak selaras dengan risiko organisasi.
Tentu saja terdapat pemicu-pemicu lainnya yang dapat mengarah kepada keputusan untuk migrasi ke COBIT 5.
Itulah mengapa, bagi organisasi yang sudah mengimplementasikan COBIT 4.1, pilihan untuk migrasi ke COBIT 5 adalah langkah yang diambil jika organisasi ingin berkembang.
Selain itu, dengan COBIT 5, organisasi bisa memperluas lingkup yang hanya inisiatif tata kelola TI, menjadi inisatif tata kelola organisasi secara lebih luas.