Benarkah Belajar Coding Saat Ini Lebih Mudah Dibanding Dulu?

Benarkah Belajar Coding Saat Ini Lebih Mudah Dibanding Dulu?

Minat orang-orang untuk belajar pemrograman atau yang sekarang lebih ngetren disebut dengan belajar coding meningkat pesat belakangan ini. Selain karena kebutuhan industri dan sumber daya manusia untuk bidang tersebut memang meningkat, banyak di antara anak-anak muda yang menjadikan pemrograman sebagai hobi. Bisa menciptakan suatu program untuk memecahkan masalah yang dialami sendiri atau orang lain tentu menjadi tantangan sendiri bagi mereka.

Banyak orang yang bilang anak-anak sekarang hidupnya lebih enak apalagi kalau mau belajar sesuatu hal yang baru terutama belajar yang agak-agak berbau teknologi informasi atau IT. Sudah ada Google dan Wikipedia yang bisa menjelaskan semua hal yang ingin diketahui. Tinggal ketik kata kuncinya, ribuan halaman web tersedia dari institusi resmi maupun blog personal.

Lalu benarkah belajar coding sekarang lebih gampang bila dibandingkan dengan dulu? Belum tentu! Banyak juga hal-hal yang ada sekarang justru membuat kita semakin susah untuk belajar pemrograman. OK, mari kita bandingkan kondisi yang mempermudah dan yang mempersulit belajar coding saat ini.

 

Kondisi Yang Mempermudah Belajar Coding

 

Hadirnya Internet

Sebenarnya alasan ini sudah dibahas di awal artikel. Yup! Dengan kehadiran internet, kita dengan mudah bertanya apa saja ke mesin pencari seperti Google. Bahkan jika kita aktif di forum seperti Stack Overflow seringkali kita disuguhkan dengan kode yang sudah jadi. Cukup tekan “ctrl+C” dan “ctrl+V” saja untuk menyalin kode tersebut ke text editor yang kita gunakan seperti Sublime, Atom, atau Visual Studio.

Adanya internet juga mempermudah kita untuk mendapatkan tools dan dependencies yang dibutuhkan. Cuma butuh kesabaran dalam mengunduh file-file yang dibutuhkan dengan koneksi di negara kita yang alakadarnya ini.

 

Lahirnya Bermacam-macam Framework

Adalah sebuah kodrat jika manusia suka dengan hal yang cepat dan instan, seperti mie kardus yang laris dimana-mana. Begitu juga dengan bahasa pemrograman. Jangan mengaku gaul di dunia coding kalau belum pernah mencoba framework yang dibuat di atas bahasa pemrograman tertentu seperti Laravel, Vue.js, Spring, .NET, dan lain sebagainya.

Framework memang dibuat untuk memudahkan para developer untuk menuliskan kode pemrogramannya. Dengan framework, beberapa baris kode bisa disingkat menjadi satu baris kode saja. Selain memudahkan para developer, framework ini juga dianggap sebagai dewa penyelamat bagi orang yang sedang belajar coding tapi juga ingin langsung praktek membuat suatu project sendiri.

 

Coding Bootcamp yang Kian Menjamur

Bagi yang belum mengetahui istilah yang digunakan pada sub judul di atas, coding bootcamp adalah program pelatihan intensif belajar pemrograman. Biasanya yang sering kali diajarkan dalam coding bootcamp ini adalah pemrograman web dan mobile. Mungkin karena memang dua hal tersebut lebih sederhana daripada membuat aplikasi desktop.

Ada bermacam-macam metode coding bootcamp. Ada metode online yang tidak mewajibkan peserta datang ke tempat pelatihan dan ada metode offline yang mewajibkan pesertanya hadir ke ruang kelas. Seringnya penyedia layananan coding bootcamp ini tidak mematok syarat yang tinggi untuk menjadi pesertanya. Minimal paham caranya menggunakan komputer dan internet, walaupun ada beberapa bootcamp yang menyeleksi ketat pesertanya karena keterbatasan tempat.

Adanya coding bootcamp ini membuat orang-orang tidak harus kuliah di jurusan IT untuk bisa membuat aplikasi web atau mobile. Dan mengingat bahwa banyak tech start up yang tidak mensyaratkan ijazah dari Teknik Informatika dalam menerima karyawan baru, semakin menambah semangat kita yang ingin atau sedang belajar coding.

(Jika Anda tertarik dengan coding bootcamp dari Inixindo Jogja silakan menuju laman full-stack web programming bootcamp.)

 

Orang Yang Mengerti IT Jauh Lebih Banyak

Setidaknya di zaman sekarang, pemahaman IT masyarakat Indonesia sudah cukup lumayan. Hampir setiap orang yang kita jumpai paling tidak memiliki komputer kecil berwujud smartphone di sakunya. Hampir setiap universitas pun punya jurusan IT. Kenapa hal ini membantu? Ya paling tidak semakin besar jumlah orang yang paham IT semakin besar pula kemungkinan orang yang kita kenal bisa kita jadikan Google berjalan yang siap ditanya-tanya saat mengobrol di warung kopi atau di warteg.

Selain untuk ditanya-tanya, kehadiran teman yang memiliki minat dan keahlian di bidang yang sama tentu saja akan memberikan dukungan psikologis. Itulah kenapa komunitas sering berkumpul untuk sekedar sharing.

 

Kondisi Yang Mempersulit Belajar Coding

 

Teknologi Yang Berkembang Terlalu Cepat

Semakin canggih teknologi tentu saja juga mendatangkan masalah baru yaitu perubahan yang sangat cepat. Masalah ini sering dialami oleh mahasiswa IT yang baru saja lulus dari perguruan tinggi. Materi-materi kuliah yang diajarkan pada awal semester terkadang sama sekali berbeda dengan kondisi saat mereka lulus. Satu per satu framework lahir menggantikan framework populer yang dipakai sebelumnya.

Repotnya lagi, industri saat ini menuntut para calon karyawannya untuk menguasai framework baru. Tidak sedikit dari mahasiswa yang belum sempat istirahat sambil kipas-kipas setelah wisuda harus belajar lagi agar bisa diterima di perusahaan tempat incarannya untuk bekerja. Kondisi inilah yang kadang-kadang membuat bingung orang yang akan belajar coding. Mereka takut pembelajarannya akan sia-sia setelah setahun atau dua tahun lagi.

 

Distraksi

Sebenarnya ini adalah hambatan yang muncul dari faktor internal diri kita sendiri. Pernakah Anda mencari-cari tutorial di internet dan tanpa Anda sadari Anda tiba-tiba menonton video musik yang sedang populer saat ini? Jika pernah, Anda tidak sendirian.

Jika dulu hanya ada komputer, buku teknis tentang pemrograman, dan cemilan saat kita belajar. Sekarang kita diberikan pilihan konten yang dapat mendistraksi fokus kita dalam belajar coding. Tentunya hal ini akan mengurangi efisiensi waktu yang dibutuhkan untuk mendalami dan mempraktikkan setiap baris kode yang kita dalami.

 

Project Dengan Skala Besar

Hadirnya platform kolaborasi dalam pemrograman seperti Git membuat suatu project berkembang dari skala kecil hingga ke skala besar dengan sangat cepat. Lalu? Jika Anda baru belajar coding dan belum punya pengalaman mengerjakan project dengan skala besar, bersiaplah untuk ternganga melihat ribuan baris kode yang dibuat oleh puluhan orang. Tentu saja dengan alur logika mereka masing-masing.

Satu hal yang lebih susah daripada coding itu sendiri adalah memahami kode yang dibuat oleh developer lain. Hal ini akan terasa mudah saat dulu procedural programming masih berjaya dan belum diserang oleh “negara api” (object-oriented programming, Red.).  Memang secara garis besar OOP (object-oriented programming) memang dibuat untuk memudahkan developer dalam mengembangkan aplikasi dengan skala besar, tapi beda ceritanya jika kita masuk saat project berjalan ditengah-tengah dan kita harus melakukan reverse engineering terhadap aplikasi yang dibuat oleh banyak orang.

 

Telah sampailah kita pada penghujung artikel yang tidak memberikan kesimpulan dan agak berbau click bait ini. Lalu bagaimana tips dan trik agar belajar coding atau pemrograman bisa berjalan efektif dan menyenangkan? Baca artikel dari kami tentang 7 jurus (tips & trik) belajar coding secara otodidak!

[Workshop] Membuat REST API dengan SLIM Micro Framework

[Workshop] Membuat REST API dengan SLIM Micro Framework

Teknologi web service merupakan salah satu cara setiap fungsi bisnis untuk berkomunikasi. Web service menyediakan business logic, proses, dan data dalam antarmuka pemrograman antar jaringan

RESTful API atau REST API merupakan implementasi dari API (Application Programming Interface). REST (Representional State Transfer) adalah suatu arsitektur metode komunikasi yang menggunakan protokol HTTP untuk pertukaran data dan sering diterapkan dalam pengembangan aplikasi.

Slim sebagai micro framework fokus kepada kebutuhan pokok yang diperlukan sebuah aplikasi web dan sering dipakai di industri. Kita bisa membangun sebuah API yang lebih cepat, ringan, dan efisien dengan menggunakan Slim.

Waktu & Pelaksanaan Event

Waktu          : Kamis, 19 April 2018 (14.00 – selesai)
Tempat       : Inixindo Jogja (Jalan Kenari No. 69, Mujamuju, Yogyakarta)
Biaya           : Gratis*

*Tempat terbatas

This form does not exist

Poster

[Workshop] Membuat REST API dengan SLIM Micro Framework 1

Materi Praktek

[wpdm_package id=’14749′]

[Free Workshop] Cara Mudah Membuat Single Page Application dengan Vue.js

[Free Workshop] Cara Mudah Membuat Single Page Application dengan Vue.js

Tentang Event

Akhir-akhir ini nama Vue Js mulai banyak dibicarakan oleh kalangan developer web dan sering dibandingkan dengan Angular Js dan React Js yang sudah populer sebelumnya.

Vue adalah pendatang baru yang menggabungkan bit terbaik dari Angular and React. Hal ini bertujuan untuk menjadikan performance dan paket yang lengkap dan mudah digunakan.

Vue Js seperti di websitenya yang membawa tagline “The Progressive Javascript Framework” merupakan javascript framework yang membantu programmer dalam membuat front-end website yang membutuhkan banyak interaksi di dalamnya yang biasanya berupa Single Page Application.

Kemudahan dalam mempelajari serta fitur-fitur yang ditawarkan Vue Js, menjadikan framework javascript ini menjadi primadona baru bagi para developer.

Penasaran dan ingin tahu lebih detail tentang apa saja kemampuan Vue Js, silahkan ikuti workshop “Cara Mudah Membuat Single Page Application dengan Vue.js”

Waktu & Pelaksanaan Event

Waktu          : Kamis, 5 April 2018 (14.00 – selesai)
Tempat       : Inixindo Jogja (Jalan Kenari No. 69, Mujamuju, Yogyakarta)
Biaya           : Gratis*

*Tempat terbatas

This form does not exist

Poster

[Free Workshop] Cara Mudah Membuat Single Page Application dengan Vue.js 2

[Workshop] Kabar Telegram Untuk Si Dia

[Workshop] Kabar Telegram Untuk Si Dia

Tentang Event

Dalam memberikan informasi produk,jasa, ataupun menjawab troubleshoot, setiap bisnis ataupun layanan publik harus bergerak dengan cepat. Keterbatasan sumber daya sering kali menjadi penghambat dalam menyampaikan informasi secara cepat ke customer atau end-user.

Telegram, sebuah aplikasi chat terenkripsi end-to-end  memiliki API yang dapat dimanfaatkan sebagai business help desk. Mirip seperti mesin penjawab otomatis, Telegram API memberikan keleluasaan bagi para pengembang untuk memrogram sebuah help desk.Hal ini disebabkan karena Telegram API sendiri memiliki lisensi open-source yang dapat dikembangkan sendiri menurut kebutuhan.

Server yang dimiliki oleh Telegram juga dapat dikategorikan sebagai server yang dapat diandalkan dengan jumlah downtime yang sangat minim bila dibandingkan dengan aplikasi chat yang lain. Telegram API ini dapat digunakan ke dalam dua bahasa pemrograman yaitu Python dan PHP.

Ikuti workshop “Pemanfaatan API Telegram Untuk Proses Business Help Desk” yang akan dilaksanakan pada :

Waktu & Pelaksanaan Event

Hari           : Kamis
Tanggal    : 29 Maret 2018
Tempat    : Inixindo Jogja (Jalan Kenari No. 69, Mujamuju, Yogyakarta)
Biaya        : Rp 100.000
Benefit     : Sertifikat, souvenir, coffee break.

This form does not exist

Poster

Sebuah workshop tentang “Pemanfaatan API Telegram Untuk Proses Business Help Desk” pada tanggal 29 Maret 2018 di Inixindo Jogja.

Sebuah workshop tentang “Pemanfaatan API Telegram Untuk Proses Business Help Desk” pada tanggal 29 Maret 2018 di Inixindo Jogja.