Cara Merawat Baterai di Perangkat yang Kita Miliki

Tahukah Anda kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang dan jarang atau tidak pernah dilakukan sebelumnya pada 10 tahun yang lalu? Yup! Mencari colokan listrik untuk mengisi daya baterai pada smartphone dan kebiasaan ini tentu saja kita lakukan minimal satu kali sehari. Tuntutan ‘kemajuan teknologi’ justru sedikit merepotkan kita. “Dasar anak zaman sekarang, sedikit-sedikit cari colokan,” begitu kata para orang tua kepada anak millenial-nya.

Sebenarnya ‘mencari colokan’ itu bukan kemauan anak zaman sekarang. Banyak di antara mereka yang menyebutkan kata kopi, senja, dan puisi di profil sosial media yang mereka miliki, tapi sepertinya jarang yang menyebutkan colokan, stop kontak, apalagi power socket. Ini merupakan tanda bahwa mencari colokan bukanlah hobi melainkan sebuah keterpaksaan.

Penyebab perbudakan manusia oleh colokan ini disebabkan karena perkembangan teknologi baterai sebagai penyimpan energi tidak secepat perkembangan chipset, layar, atau komponen lain yang mengkonsumsi energi. Samsung pernah nekat memasukan kapasitas baterai yang besar pada perangkat andalannya yaitu Galaxy Note 7. Langkah ini berujung pada ditariknya perangkat tersebut dari pasaran karena banyak kasus baterai meledak. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa kapasitas penyimpanan baterai akan menurun seiring dengan masa pakai.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai pengguna? Tentu saja kita hanya bisa merawat agar kapasitas baterai di perangkat kita tidak cepat menurun dan panjang umur.

 

Mitos Seputar Bagaimana Merawat Baterai

Tidak dipungkiri bahwa keinginan kita agar baterai awet melebihi keinginan kita untuk ganti perangkat 6 bulan sekali. Tapi tingginya keinginan ini terkadang tidak dibarengi dengan pengetahuan tentang baterai itu sendiri. Akibatnya, banyak spekulasi tentang cara merawat baterai yang bahkan bisa disebut disebut suatu mitos.

 

Mencharge Baterai di Atas 100% Akan Menambah Kapasitas Baterai

Ini adalah mitos yang paling tidak masuk akal tapi tetap saja ada yang percaya. Entah datang dari mana anjuran charge delapan jam untuk perangkat baru sempat berkeliaran beberapa tahun lalu. Faktanya tetap mencharge baterai kita walau sudah penuh justru akan semakin mengurangi umur baterai kita.

 

Usahakan Menunggu Daya Baterai Benar-Benar Habis Sebelum Men-charge

Mitos ini dapat dimaklumi karena dapat ditelusuri asal-usulnya. Mitos ini berasal dari baterai berbahan metal seperti nickel cadmium atau nickel-metal hydride yang bisa ‘lupa’ dengan berapa kapasitas baterainya jika arus yang ada di dalamnya tidak dimanfaatkan secara maksimal. Sekarang hampir semua perangkat menggunakan baterai lithium ion atau lithium polymer yang justru akan mempercepat penurunan kapasitas jika sering-sering ‘dikuras’.

 

Selalu Gunakan Adaptor Original dari Manufaktur Perangkat Agar Tidak Merusak Baterai

Mitos ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Hanya saja bahasa yang digunakan merupakan bahasa pemasaran yang tentu saja bertujuan mendatangkan keuntungan bagi produsen perangkat. Poin utama yang diperhatikan sebenarnya bukan merk dari charger tersebut melainkan besarnya tegangan dan arus keluarannya. Tidak sedikit merek-merek charger di pasaran yang memiliki kualitas yang bagus dan bahkan mungkin lebih bagus daripada charger bawaan perangkat. Lagipula smartphone sekarang sudah memiliki chipset yang dapat mengatur arus masuk ke baterai.

 

Terdapat Aplikasi yang Dapat Memperpanjang Umur Baterai

Faktanya awet tidaknya baterai tergantung dari pemakaian kita. Yang ada hanya aplikasi untuk memonitor baterai seperti suhu serta arus keluar atau arus masuk. Menutup aplikasi yang ada di ‘recent apps’ juga percuma karena aplikasi tersebut tersimpan di RAM yang tidak seberapa membutuhkan daya. Justru jika kita membuka aplikasi tersebut otomatis prosesor sebagai komponen yang paling haus daya akan bekerja memindahkan ribuan baris kode kembali dari internal storage ke RAM.

 

Faktor-faktor yang Dapat Memperpendek Umur Baterai

Sebelum kita beranjak ke bagian tips memperpanjang umur baterai, mari kita pahami dulu apa faktor yang dapat mengikis kapasitas sel yang ada dalam baterai itu sendiri. Karena sekali lagi, kita tidak dapat membuat baterai dapat dipakai selama-lamanya yang bisa kita lakukan hanya memperpanjang umurnya.

 

Panas

Faktor yang paling berpengaruh sebenarnya adalah panas. Sel lithium merupakan sel baterai yang paling sensitif terhadap panas bila dibandingkan dengan jenis sel baterai yang lain. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Battery University, baterai yang digunakan dengan suhu maksimal antara 25 derajat celcius dapat mempertahankan 80% dari kapasitasnya setelah pemakaian 1 tahun walaupun di-charge dengan siklus penuh (0-100%). Kapasitas ini akan lebih besar lagi jika kita dapat mempertahankan suhu di bawah 25 derajat tapi akan sangat sulit karena kita tinggal di negara tropis.

 

Ion yang Bergerak

Sama seperti komponen mekanik yang aus karena pemakaian, proses charge atau discharge (menggunakan daya yang tersimpan dalam baterai) membutuhkan perpindahan ion yang membuat sel di baterai ‘aus’. Inilah mengapa tadi disebutkan kita tidak bisa mencegah proses penuaan baterai tapi hanya bisa memperlambatnya saja. Kita akan membahas tentang ini di bagian selanjutnya.

 

Cara yang Bisa Kita Lakukan Untuk Memperpanjang Umur Baterai

Partial Charge

Partial charge adalah mencharge baterai sebentar saja dan tidak dalam satu siklus penuh (0-100%). Masih ingat tentang masalah sel yang bisa ‘aus’ di atas? Jika menerapkan partial charge kita hanya memakai sebagian sel dari baterai. Menggunakan penelitian yang sama dari Battery University, semakin sedikit tambahan persentase yang kita naikkan setiap kali charge semakin awet baterai kita. Tapi hal ini tidak mungkin kita lakukan karena jika kita hanya menambah daya 10% saja tak akan terbayang betapa sibuknya kita dengan urusan colok-mencolok ini.

Partial charge akan lebih efektif jika dilakukan di tengah siklus. Misal kita inigin mengisi daya sebesar 20%, mulai mencharge saat daya di baterai 40% dan cabut di 60%. Yang paling ideal untuk pengguna biasa adalah mencharge antara 30-70%. Dalam rentang tersebut kita hanya butuh mencharge sekali setiap hari. Apalagi jika kita menggunakan perangkat yang sudah mendukung Quickcharge di mana pada rentang tersebut kita bisa mencharge baterai kita secara lebih singkat.

 

Melepas Soft/Hard Case saat Mencharge

Seperti yang telah disebutkan di atas, panas merupakan musuh bagi sel lithium. Maka dari itu melepas case atau cover yang kita pasang akan membuat perangkat kita lebih mudah melepaskan panas. Bagi yang memakai kipas angin di rumah mungkin bisa mendekatkan perangkat ke kipas angin tersebut saat di-charge. Memasukkan perangkat ke dalam kulkas mungkin bisa menjadi opsi, tapi tampaknya solusi tersebut terlalu ekstrim untuk dilakukan.

 

Tidak Melakukan Aktivitas Berat Saat Mencharge

Selain dapat menimbulkan panas yang berlebihan pada perangkat, menonton video secara streaming atau bermain game saat melakukan proses charging dapat menimbulkan sesuatu yang disebut parasitic loads. Parasitic loads adalah kondisi di mana arus masuk masuk ke dalam baterai tapi juga terdapat arus keluar yang besar untuk memenuhi kebutuhan perangkat. Hal ini dapat mendistorsi siklus pengisian, sama halnya dengan mencolokkan dan mencabut charger dari stop kontak secara terus menerus dan cepat.

 

Tidak Mencharge Semalaman Penuh

Men-charge semalaman penuh menimbulkan potensi terjadinya overcharge. Kondisi di mana kita mencharge baterai yang sudah terisi penuh. Hal ini dapat menimbulkan tekanan pada sel baterai yang dapat mengurangi umur baterai tersebut. Beberapa perangkat memang sudah bisa mengatur arus masuk, tapi hanya beberapa perangkat flagship yang dapat mengecilkan arus hingga menjadi sekitar 20 mA sedangkan rata-rata perangkat tetap memasukkan arus antara 200 – 500 mA. Solusi agar kita dapat mencharge saat tidur adalah dengan memakai powerbank yang dilengkapi dengan fitur auto-power-cut yang dapat memutus arus saat baterai sudah terisi penuh.

***

Itulah tadi hal yang dapat kita lakukan untuk merawat baterai. Dengan langkanya perangkat yang memudahkan pengguna untuk mengganti sendiri baterainya, tentu saja merawat lebih baik daripada datang ke tempat servis smartphone.

Seminar & Diskusi – Digital Leadership : Menyusun Strategi Menghadapi Era Transformasi Digital

Seminar & Diskusi – Digital Leadership : Menyusun Strategi Menghadapi Era Transformasi Digital

Disrupsi digital adalah sebuah tuntutan bagi sebuah organisasi atau perusahaan agar dapat bertahan di era digital yang sedang berlangsung saat ini. Start up baru berbasis teknologi bermunculan mengancam keberadaan bisnis yang sudah ada. Di bawah seorang pemimpin yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan digital (digital leadership),  bisnis atau organisasi yang dipimpinnya akan susah payah beradaptasi. Perubahan yang dilakukan pun terkesan latah karena sekedar ikut-ikutan membuat apps yang belum tentu terpakai.

Digital leadership adalah bekal bagi seorang pemimpin dan calon pemimpin agar bisa mengarahkan organisasi atau bisnis yang mereka pimpin untuk bertransformasi ke arah digital. Sebuah transformasi yang dapat disebut sebagai inovasi dan bukan sekedar ‘paksaan situasi’. Digital leadership juga dibutuhkan bagi mereka yang ingin mengembangkan bisnis di era revolusi industri 4.0 ini

Jika Anda ingin mengenal lebih dalam lagi tentang digital leadership dan bagaimana menyusun strategi dalam menghadapi digital transformasi, Anda bisa mengikuti seminar dan diskusi “Digital Leadership: Menyusun Strategi Menghadapi Era Transformasi Digital”. Ada 2 topik yang akan dibahas dalam seminar dan diskusi ini, yaitu:

  • Transformasi Digital
  • Business Model Canvas

Ikuti seminar dan diskusi “Digital Leadership: Menyusun Strategi Menghadapi Era Transformasi Digital” dengan mendaftarkan diri Anda terlebih dahulu!

This form does not exist

Biaya

Free (tempat terbatas)

DATE AND TIME

Kamis, 17 Januari 2019
14.00 WIB – Selesai

LOCATION

Eduparx – Inixindo Jogja
Jalan Kenari No 69 Yogyakarta
View Maps

2020 – Ready for Digital Transformation

Are you Ready?

Digital Transformation

Transformasi Digital akan mengubah banyak peran dan pekerjaan di semua aspek kehidupan mulai dari industri hingga pelayanan publik. Pengembangan Sumber Daya yang tanggap teknologi akan dilakukan setiap organisasi untuk beradaptasi.

2020 - Ready for Digital Transformation 1
2020 - Ready for Digital Transformation 2

Information Technology Infrastructure Library (ITIL) 4

ITIL 4 berfokus pada meningkatkan kolaborasi, memfasilitasi komunikasi di seluruh organisasi, dan integrasi Agile dan DevOps ke dalam strategi ITSM. ITIL 4 dirancang agar lebih fleksibel berfokus pada inovasi baru dan berdasarkan best practice.

20 -22 Januari 2020

2020 - Ready for Digital Transformation 3

Pengembangan Peta Proses Bisnis

Peta Proses Bisnis adalah diagram yang menggambarkan hubungan kerja yang efektif dan efisien antar unit organisasi atau rangkaian aktivitas dalam organisasai sehingga menjadikan rangakain proses pekerjaan tergambar dengan jelas. Proses secara sederhana dapat didefinisikan sebagai rangkaian aktivitas yang merubah input menjadi out put yang bernilai tambah bagi organisasi.

20 – 21 Februari 2020

2020 - Ready for Digital Transformation 4

GCIO (Government Chief Information Officer)

Pelajari bagaimana mengelola sebuah lembaga yang memanfaatkan teknologi informasi dengan efektif di masa transformasi digital dan pelayanan publik yang penuh dengan pemanfaatan teknologi.

16 – 18 Maret 2020

2020 - Ready for Digital Transformation 5

Building Web Application with Laravel

Laravel sekarang ini menjadi salah satu framework populer di dunia. Laravel mengubah pengembangan website menjadi lebih elegan, ekspresif dan menyenangkan, sesuai dengan jargonya “The PHP Framework For Web Artisans”

20 – 23 April 2020

2020 - Ready for Digital Transformation 6

Big Data with Hadoop

Big data menjadi kebutuhan pengelolaan data yang semakin hari semakin besar dan susah untuk dimanage. kebutuhan data semakin besar tentu perlu pengelolaan yang baik, hadoop merupakan salah satu solusinya.

11 – 14 Mei 2020

2020 - Ready for Digital Transformation 7

Data Science

Penggunaan data pada level selanjutnya setelah dikumpulkan adalah diolah menjadi sesuatu yang berguna bagi pertimbangan keputusan organisasi. Pada level ini kita akan fokus pada penggalian atau analisis prediktif suatu data untuk difilter dan ditemukan data yang benar agar menghasilkan suatu data yang akurat sesuai dengan data yang sebenarnya

22 – 25 Juni 2020

Disaster Recovery Plan

Disaster Recovery Plan

Mengacu pada PBI nomor 9/15/PBI/2007 ruang lingkup audit penggunaan TI oleh bank juga meliputi Disaster Recovery Plan (DRP). DRP adalah salah satu persyaratan yang wajib dimiliki perbankan untuk mengurangi kerugian yang mungkin timbul akibat bencana. Dengan adanya...

Pengelolaan Data Center Perbankan

Pengelolaan Data Center Perbankan

Solusi layanan Data Center adalah solusi yang digunakan untuk menempatkan sistem elektronik dan komponen terkaitnya untuk keperluan penempatan, penyimpanan, dan pengolahan data. Dalam implementasinya, OJK mengatur pemanfaatan Data Center sebagai penerapan manajemen...

Implementasi Peraturan OJK Nomor : 38/POJK.03/2016

Implementasi Peraturan OJK Nomor : 38/POJK.03/2016

  Perkembangan teknologi informasi dapat dimanfaatkan oleh dunia perbankan sebagai cara untuk meningkatkan efisiensi dan mutu pelayanan. Di sisi lain pemanfaatan teknologi informasi juga akan memunculkan resiko yang menyertainya. Sesuai dengan Peraturan Otoritas...

Ayo, Membangun Sinergi antar OPD untuk Mewujudkan Smart City

Ayo, Membangun Sinergi antar OPD untuk Mewujudkan Smart City

  Seminar dan talk show bertajuk Membangun Sinergi antar OPD dalam Mewujudkan Smart City digagas oleh Inixindo Jogja dan dilaksanakan pada hari Kami, 4 Mei 2017 di Crystal Lotus Hotel Yogyakarta. Acara ini menjadi wadah untuk menyatukan persepsi dari setiap OPD...

Seminar, Talk Show, dan Pelatihan GCIO Level 2

Seminar, Talk Show, dan Pelatihan GCIO Level 2

Mewujudkan smart city di daerah membutuhkan peran dari seluruh pihak. Termasuk perlunya sinergi antar OPD yang dalam hal ini terutama adalah Dinas Kominfo, BKD , dan Bappeda. Smart city bukan hanya mengenai penggunaan teknologi yang canggih, namun adanya kesiapan...

Serangan Ketiga IT : Internet of Things

Serangan Ketiga IT : Internet of Things

Dua kali selama 50 tahun terakhir, perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi mengubah cara pandang dan aktivitas terhadap bisnis secara radikal dan saat ini kita berada di ambang transformasi ketiga. Sebelum munculnya teknologi informasi, kegiatan bisinis...

Informasi & Registrasi, Hubungi Kami.

Info & Registrasi

Jalan Kenari 69 Yogyakarta.
+62 274 515448 / 0274 515448
sales@inixindojogja.co.id

Bertahan di Era Digital: Digital Leadership

Dalam artikel yang ditulis beberapa hari yang lalu, kita telah membahas tentang apa yang menyebabkan terjadinya transformasi digital (digital transformation) yang bisa juga disebut sebagai revolusi industri 4.0. Dalam artikel tersebut juga disebutkan bagaimana digital skill mutlak dibutuhkan bagi setiap perangkat organisasi/perusahaan jika organisasi/perusahaan tersebut ingin bertahan hidup di era digital ini.

Kali ini kita akan membahas tentang digital leadership sebagai komponen digital skill terpenting sebagai penunjang transformasi digital. Kenapa digital leadership menjadi komponen terpenting? Jawabannya tentu saja karena setiap keputusan dalam sebuah organisasi/perusahaan datang dari pemimpinnya. Bagaimana organisasi/perusahaan mau melakukan transformasi digital jika pemimpinnya saja masih belum melek digital. Jika diibaratkan proses transformasi digital adalah sebuah proses memasak, digital leadership dapat diibaratkan sebagai kompornya.

Meskipun begitu, di era disrupsi digital ini konsep pemimpin sebagai seorang jenderal yang duduk di belakang meja tidak lagi relevan. Perusahaan pioner transformasi digital seperti Google dan Lyft justru mencari pemimpin yang bisa dan mau turun tangan langsung, saling melengkapi dan berfungsi sebagai sebuah tim. Selain kemampuan untuk memimpin sebuah tim, para pemimpin ini dituntut untuk bisa membangun tim dari awal, menjadi perantara antar anggota tim, serta menuntun tim untuk memiliki budaya inovatif, mau belajar, dan terus melakukan peningkatan secara terus menerus. Memang terdengar agak klise dan hampir sama dengan pemimpin ideal di era sebelum transformasi digital terjadi tapi kita akan tahu apa saja perbedaannya di dalam artikel ini.

Pemimpin Digital Adalah Pemimpin Yang Memiliki Latar Belakang  IT?

Walaupun para pemimpin perusahaan pioner transformasi digital seperti Mark Zuckerberg, Larry Page, dan Travis Kalanick memiliki latar belakang pendidikan di bidang teknologi informasi ataupun ilmu komputer tak sedikit pula dari para pioner transformasi digital yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan TI ataupun komputer. Salah satu contohnya adalah Jeff Bezos yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang bisnis.

Yang dimaksud dengan digital leader di sini bukanlah seseorang yang ahli dalam pemrograman komputer atau seorang engineer. Digital leader adalah seseorang yang mampu memanfaatkan teknologi informasi untuk mencapai tujuan suatu organisasi atau bisnis. Beberapa tahun yang lalu kita pernah mendengar nama posisi CIO (Chief Information Officer) yang selalu dipasrahi tanggung jawab segala sesuatu yang berhubungan dengan IT. CIO inilah merupakan satu-satunya digital leader saat sebelum transformasi digital terjadi walaupun saat itu CIO lebih sering berurusan dengan hal-hal teknis seperti server, desktop, dan kabel LAN. Bahkan tidak jarang para staff di perusahaan yang menyebut CIO sebagai “box and wire jockey” semacam DJ yang memainkan router dan kabel alih-alih turntable.

Di era transformasi digital ini semua pemimpin dan staff dituntut untuk memiliki kemampuan untuk menjadi seorang digital leader yang mana mereka memiliki satu goal yang sama yaitu membawa organisasi atau bisnis yang dia pimpin untuk melakukan transformasi digital yang tidak hanya merupakan peralihan teknologi saja tapi juga aspek lain seperti transformasi kognitif, perilaku, dan emosi. Untuk itu, digital leader harus bisa berpikir, mengambil tindakan, dan bereaksi secara berbeda

Cognitive
Transformation
(Berpikir secara berbeda)
Behavioral
Transformation
(Bertindak secara berbeda)
Emotional
Transformation
(Bereaksi secara berbeda)
Membuat konsep tentang segala kemungkinan di dunia digital Beradaptasi dengan penguasa dan orang yang berpengaruh yang silih berganti Bertoleransi terhadap lingkungan yang penuh resiko dan ketidakjelasan
Menemukan cara untuk menangani kompleksnya pemikiran yang semakin meningkat Berkolaborasi dengan tim yang berbeda dengan latar belakang yang berbeda pula Tenang dan siap dalam menghadapi perubahan yang selalu terjadi
Mengambil keputusan secara cepat walaupun jika kita tidak mempunyai informasi Memberikan banyak energi untuk sebuah keberhasilan (coba – gagal – coba lagi) Memiliki kepercayaan diri untuk memimpin dan mendorong adanya perubahan

Pemimpin Saja Atau Pemimpin Digital?

Sampai di sini, kita telah banyak membahas tentang apa itu pemimpin digital. Dari pembahasan tersebut mungkin banyak yang bertanya “Loh, itu kan memang kriteria ideal pemimpin pada umumnya? Kenapa harus disebut sebagai pemimpin digital?”

Yang membedakan sebutan antara pemimpin biasa dan pemimpin digital selain masalah visi tentang teknologi adalah ‘aturan main’ dari kepemimpinan itu sendiri. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

‘Just’ Leader Digital Leader
Pemimpin dipilih dan diidentifikasi berdasarkan pengalaman, senioritas, dan performa kerja. Pemimpin dipilih dan diidentifikasi berdasarkan agility, kreativitas, dan kemampuan untuk menjembatani beberapa tim yang ada dalam organisasi.
Pemimpin harus memulai dari bawah dan perlahan-lahan menuju ke atas seperti menaiki tangga. Bisa menjadi pemimpin sejak dini dan mengembangkan jiwa kepemimpinan mereka sambil jalan.
Pemimpin diharapkan tahu apa yang akan dia lakukan dan membawa penilaian serta pengalamannya dalam menghadapi tantangan bisnis. Pemimpin diharapkan berinovasi, kolaborasi, dan menggunakan metode ‘client teams’, crowdsourcing, ataupun hackathon untuk menemukan solusi yang benar-benar baru.
Pemimpin dinilai dan dibentuk dari perilaku dan gaya kepemimpinan. Pemimpin dinilai dan dibentuk oleh pola pikir, dan kemampuan dalam memecahkan masalah.
Pemimpin memimpin organisasi dan fungsi. Pemimpin memimpin sebuah tim, proyek, dan hubungan antar tim


Kesimpulan yang dapat diambil dari perbedaan antara pemimpin biasa dan pemimpin digital adalah pemimpin digital merupakan pemimpin di masa depan yang diharapkan membawa keberhasilan bagi organisasinya di era yang dipenuhi ambiguitas.

Jika Anda tertarik dengan digital leadership Anda dapat mengambil kelas pelatihan digital leadership . Selain digital leadership Anda dapat mempelajari kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang digital leader

Prinsip Dasar Bagaimana Kabel Fiber Optic Bekerja

Pernahkah kita bertanya-tanya bagaimana manusia bisa berkomunikasi dan mengirimkan data ke penerima yang jaraknya bisa mencapai ribuan kilometer secara langsung? Tentu kita membayangkan bagaimana suara kita diubah menjadi gelombang elektromagnetik dan dihantarkan oleh muatan listrik melalui konduktor. Ok, mungkin bahasa kalian tidak serumit bahasa penulis yang kebingungan menerjemahkan bahasa visual ke bahasa verbal.

Telekomunikasi yang diawali oleh ditemukannya mesin telegraf hampir 200 tahun yang lalu tentunya sudah jauh berkembang bila dibandingkan saat ini. Kita tidak akan membahas bagaimana evolusi teknologi telekomunikasi dari awal hingga akhir tapi membahas peralihan teknologi dari coaxial cable ke fiber optics. Jika kita telah berlangganan internet rumahan dari  ISP (Internet Service Provider) plat merah sejak dari dulu pasti kita merasakan perbedaan kecepatan bandwidth. Hal ini disebabkan karena teknologi kabel yang digunakan beralih dari tembaga ke fiber optics.

Tidak hanya jenis bahan kabelnya saja yang berbeda tapi juga prinsip kerja juga berbeda antara kabel tembaga dan fiber optics. Setelah ini kita akan kembali mengulang pelajaran fisika saat di bangku sekolah dulu untuk membahas perbedaan prinsip kerja antara fiber optics dan kambel tembaga.

 

Prinsip Kerja Sinyal Melalui Kabel

Pada awal penggunaannya, internet sebenarnya menumpang teknologi telepon sebagai media untuk koneksinya. Data sebenarnya merupakan sinyal digital yang terdiri 0 atau 1, ada atau tak ada arus. Sinyal digital ini mirip dengan sinyal mesin telegraf yang menggunakan sandi morse. Bedanya kode morse yang dipakai mesin telegraf hanya menerjemahkan sinyal 1 (ada arus listrik) yang agak lama dan sinyal 1 yang agak pendek serta mengabaikan sinyal 0 (tidak ada arus listrik). Sementara itu, telepon merupakan alat yang dapat mengubah gelombang suara (longitudinal) menjadi gelombang elektromagnetik (transversal). Nah, gelombang elektromagnetik ini kemudian diboncengi muatan listrik sehingga dapat dihantarkan melalui konduktor dalam hal ini kabel tembaga.

Kita dapat mengirimkan data melalui koneksi telepon dengan mengubah sinyal digital menjadi sinyal analog. Proses ini dilakukan oleh alat yang disebut modem (modulator/demodulator). Bilangan biner 1 diubah menjadi tone tertentu seperti nada saat kita menekan tombol pada telepon.  Bagi yang pernah merasakan era internet dial-up tentu tahu suara apa yang akan kita dengar jika kita mengangkat telepon saat internet sedang digunakan. Lalu pada perkembangannya kita tetap dapat menggunakan telepon dan internet secara bersamaan karena frekuensi sinyalnya sudah dipisah.

Walau secara teori elektron dapat memiliki kecepatan yang hampir menyamai kecepatan cahaya, jika melewati medium seperti tembaga kekuatan gelombang elektromagnetik sering menjadi lemah apalagi jika ada gangguan dari radiasi gelombang elektromagnetik yang lain. Maka dari itu, setiap jarak beberapa kilometer tergantung ukuran kabel. Proses inilah yang membuat bandwidth kabel tembaga terbatas dan relatif memiliki latency yang tinggi.

 

Proses Kerja Fiber Optic

Einstein mengeluarkan teori bahwa tidak ada partikel yang memiliki massa di semesta ini yang dapat melebihi kecepatan cahaya. Inilah yang menjadi landasan dibuatnya fiber optic: mengganti elektron dengan photon (partikel cahaya) sebagai alat untuk mengirimkan data. Alasannya, karena photon lebih cepat daripada elektron . Photon juga tidak terganggu dengan radiasi elektromagnetik di sekitar media penghantarnya.

Sistem kerjanya hampir mirip jika kita terdampar di pulau antah berantah lalu mengirimkan pesan S.O.S kepada kapal yang lewat dengan senter yang kita miliki. Cuma bedanya fiber optic menggunakan inti (core) serat gelas/plastik dan dibungkus dengan lapisan pemantul cahaya (cladding). Melalui serat inilah sinar laser lalu ditembakkan. Kita pasti mengira bahwa cahaya laser tersebut pasti memiliki kecepatan cahaya tapi kenyataanya kecepatan cahaya yang melewati kabel fiber optic lebih rendah karena mediumnya berupa zat padat.

 

Prinsip Dasar Bagaimana Kabel Fiber Optic Bekerja 8

Bagian-bagian penyusun kabel fiber optic

 

Meskipun begitu lebar bandwidth dan latency fiber optic memiliki nilai yang lebih tinggi bila dibandingkan kabel tembaga. Hal ini juga disebabkan karena sinar laser di dalam fiber optic dapat menempuh 80-100 Km tanpa menggunakan amplifier. Bandingkan dengan kabel tembaga yang membutuhkan amplifier setiap jarak 30-300 meter.

Kekurangan fiber optic adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk infrastrukturnya. Kabel fiber optic juga memiliki sudut terbatas untuk dapat dibelokkan. Itulah mengapa untuk di dalam ruangan kabel ethernet Cat 5e lebih relevan untuk digunakan. Fiber optic akan relevan untuk digunakan sebagai infrastruktur LAN jika ruangan tersebut memiliki radiasi elektromagnetik yang tinggi seperti di pembangkit listrik.

 

*****

 

Itulah tadi prinsip dasar kerja kabel fiber optic yang sekarang ini menjadi tulang punggung infrastruktur koneksi internet yang digunakan oleh manusia. Jika profesi Anda menuntut untuk lebih mendalami pengetahuan tentang fiber optic secara menyeluruh, Anda dapat mengikuti pelatihan Fiber Optic For Beginner di Inixindo Jogja (silabus dapat dilihat di sini).