Mengenal Headless CMS

 

Siapa yang tak tahu tentang CMS? Mungkin semua akan sepakat bahwa mulai dari web developer hardcore yang harus menulis kode di mana pun dan kapan pun sampai ke penulis blog romantis yang harus minum kopi di saat senja dan turun hujan saat menuangkan idenya dalam tulisan membutuhkan content management system dalam mengelola suatu website. Terima kasih kepada WordPress sebagai platform CMS open source yang mempopulerkan blogging kepada siapa saja.

CMS dan Content Management System adalah sebuah sistem yang dibuat untuk mendukung penerbitan (dalam hal ini penerbitan di web) mulai dari penulisan, editing, modifikasi, dan publikasi konten. Tujuan CMS dibuat sebenarnya adalah untuk memudahkan penulis dalam mempublikasikan artikelnya. CMS juga mendukung iklim kolaboratif sehingga satu media bisa memiliki beberapa koresponden sekaligus yang bisa mengunggah artikelnya di mana saja dan kapan saja karena umumnya CMS dibuat dengan memanfaatkan teknologi Web.

 

CMS Tradisional

Sebelum kita membahas tentang headless CMS, mari kita mengingat kembali tentang karakteristik dan metode dari CMS tradisional seperti WordPress atau Joomla. Pada CMS tradisional, seorang user (dalam hal ini kreator konten) menulis konten di dalam sebuah editor baik WYSIWYG (What You See Is What You Get) di mana tampilan yang dituliskan hampir menyerupai tampilan ketika konten terpublikasi di halaman web, walaupun ada beberapa CMS yang hanya memiliki HTML editor di mana penulis harus memiliki pengetahuan tentang kode HTML. Konten yang ditulis ini kemudian disimpan dalam database dan kemudian disajikan oleh template tampilan yang dimiliki oleh CMS tersebut menjadi sebuah halaman web. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari gambar berikut.

 

Mengenal Headless CMS 1

 

Jika kita menggunakan CMS, dalam mengubah tampilan akhir web yang bisa kita lakukan hanyalah mengganti template yang sudah disediakan oleh platform CMS tersebut. Lalu bagaimana jika ingin melakukan kustomisasi pada tampilan tampilan akhir halaman web? Ada dua cara yaitu menginstall plugin web builder pada CMS kita dan yang kedua adalah membuat mengedit file template yang ada di dalam CMS. Kedua solusi ini sama-sama mendatangkan problem baru. Website builder plugin dapat membuat performa web kita menurun karena banyak sekali proses yang berjalan sebelum halaman web berhasil ditampilkan. Sedangkan, jika kita memilih untuk mengedit sendiri file template yang berada di dalam CMS dapat dibayangkan berapa banyak waktu yang harus diperlukan untuk mempelajari ribuan baris kode yang dimiliki CMS tersebut dan tentu saja kita juga harus berada dalam batasan logic dari CMS tersebut.

Kekurangan dari CMS tradisional adalah banyak front-end developer yang tidak bisa mengembangkan bakat terpendamnya karena biasanya klien sebagai user dari CMS ingin sesuatu yang mudah digunakan dan sang back-end juga agaknya keberatan jika harus membuat CMS sendiri dengan deadline yang alakadarnya.

 

Headless CMS

Berbeda dari CMS tradisional memiliki komponen yang bisa langsung menyajikan tampilan front-end ke audience, headless CMS sama sekali tidak bisa men-generate halaman web secara otomatis. Inilah mengapa model CMS ini kemudian disebut ‘headless’ atau tanpa kepala yang berarti tak memiliki wajah. Kami sempat penasaran kenapa tidak disebut faceless saja agar tidak menimbulkan aura horor dan masih belum menemukan jawabannya.

Headless CMS tidak memliki sistem front-end secara default seperti CMS tradisional sehingga CMS ini sering disebut dengan front-end agnostic. Headless CMS menyajikan konten secara mentah melalui API. Hal ini menjadikan headless CMS dapat digunakan di berbagai macam framework. Untuk perbedaan lebih jelasnya bisa dilihat di gambar berikut.

 

Mengenal Headless CMS 2

 

Banyak dari developer headless CMS ini menyebut produknya sebagai CaaS (Content as a Service) hasil dari modifikasi SaaS (Software as a Service). Jika sebelumnya developer CMS versi komersial tradisional menjual secara bundling (domain, platform CMS, dan hosting). Untuk developer headless CMS komersial biasanya menerapkan tarif sesuai dengan besarnya konten. Tapi jangan khawatir dulu, banyak juga headless CMS open source gratis yang bisa kita deploy sendiri di cloud VPS milik kita.

Hadirnya headless CMS ini tidak langsung serta-merta menyelesaikan masalah yang dibahas dalam CMS tradisional sebelumnya. Sama seperti sistem-sistem yang lain, headless CMS ini memiliki pro dan kontra.

Pro

Inilah beberapa kelebihan headless CMS bila dibandingkan dengan CMS tradisional:

  • Front-end agnostic
    Ini merupakan alasan kenapa headless CMS diciptakan. Konten yang berada dalam headless CMS dapat disesuaikan dengan platform framework front-end seperti React, Vue, atau Angular.
  • API
    Headless CMS menggunakan API sebagai penghubung antara back-end dan front-end yang pada dasarnya merupakan dua sistem yang terpisah dan juga memungkinkan berada dalam 2 server yang berbeda. Hal ini berarti menurunkan resiko kehilangan seluruh konten jika ada yang berhasil menembus keamanan web server kita.
  • Future proof
    Karena headless CMS pada dasarnya hanya menyajikan data mentah, jika ada inovasi teknologi baru maka konten-konten yang ada di dalam CMS ini dapat dengan cepat disesuaikan. Sebagai contoh, jika ada platform voice assistant baru di device tanpa layar seperti smartwatch atau smart speaker maka kita akan dengan mudah memasukkan konten kita di platform tersebut.

Kontra

Selain kelebihan-kelebihan di atas, headless CMS juga memiliki beberapa kekurangan sebagai berikut :

  • Tidak Untuk Semua Orang
    Sebagian besar orang yang menggunakan CMS tradisional seperti WordPress tidak memiliki pengetahuan tentang pemrograman. Sementara headless CMS ini menuntut seseorang untuk memiliki pengetahuan tentang pemrograman web. Hal ini membuat para blogger dan pemasar digital enggan menggunakan headless CMS.
  • Memiliki 2 Stack Yang Terpisah
    Selain jadi kelebihan yang sudah terlebih dahulu dibahas, memiliki 2 stack terpisah antara front-end dan back-end juga bisa menjadi kekurangan bagi headless CMS. Bayangkan berapa besar effort maupun waktu yang kita butuhkan untuk membuat dua stack yang terpisah demi membuat blog pribadi.
  • Tidak Ada Preview
    Para kreator konten selaku pengguna sebuah CMS sering mem-preview konten yang mereka buat agar sesuai dengan yang mereka inginkan. Masalahnya, di dalam headless CMS tidak ada preview terlebih dahulu kecuali kita memisahkan antara fase staging dan production yang mana akan lebih menghabiskan waktu dan effort.

 

***

 

Bagaimana? Sudah mempertimbangkan apakah headless CMS merupakan solusi yang tepat untuk kalian? Jika kalian adalah seorang yang sudah terbiasa membuat website dan sudah cinta mati dengan yang namanya headless CMS, kalian bisa tunggu artikel kami selanjutnya yang akan membandingkan satu per satu platform headless CMS seperti Directus, Strapi, ataupun Butter.

#Comday – Mengembangkan Microservices Menggunakan Docker

#Comday - Mengembangkan Microservices Menggunakan Docker 3

#Comday – Mengembangkan Microservices Menggunakan Docker

Perkembangan teknologi dan bisnis yang mengarah ke Digitalisasi telah membuat Teknologi Informasi berganti peran dari sekedar sebagai Support menjadi Enabler dan bahkan Driver bagi bisnis. Perubahan ini menuntut pembuatan aplikasi yang semakin banyak dalam waktu yang singkat sehingga memunculkan praktek pengembangan aplikasi  secara DevOps (Development & IT Operations) yang terbukti mengurangi beban pengembang dalam menyelesaikan banyaknya project IT.

Untuk mendukung DevOps dan meningkatkan kemampuan skalabilitas di masa yang akan datang, Teknologi Informasi pun terpaksa mengubah arsitekturnya dari Monolitik menjadi Microservices. Microservices sendiri merupakan arsitektur web service yang harus dapat dapat dijalankan di banyak platform, dan Docker lah yang akan membungkus mesin microservices ini agar dapat berjalan diberbagai platform.

 

Comday yang akan datang kita akan membahas apa itu Microservices dan  Docker dan bagaimana cara mengimplementasikan keduanya dalam praktek pengembangan DevOps

 

Ikuti Community Day dengan tema “Mengembangkan Microservices Menggunakan Docker” pada hari Kamis tanggal 11 April 2019. Dalam acara ini akan dibahas apa itu Microservices dan  Docker dan bagaimana cara mengimplementasikan keduanya dalam praktek pengembangan DevOps

 

Klik tombol ‘Registrasi’ di atas untuk pendaftaran!

Registrasi telah ditutup This form does not exist

Biaya

Free (tempat terbatas)

DATE AND TIME

Kamis, 11 April 2019
14.00 WIB – Selesai

LOCATION

Eduparx – Inixindo Jogja
Jalan Kenari No 69 Yogyakarta
View Maps

Workshop Web Application Penetration Testing

21-22 Mei 2019

Web Application Penetration Testing

Workshop ini membahas tentang berbagai seluk beluk celah keamanan serta standar keamanan yang harus dipenuhi oleh sebuah aplikasi web sehingga lebih memenuhi standar kelayakan keamanan sebuah aplikasi web.

Workshop Web Application Penetration Testing 4

Materi Workshop

Dasar keamanan aplikasi web

Keamanan atau security pada sebuah situs bisa dikatakan merupakan sesuatu hal yang sangat wajib hukumnya bagi setiap perusahaan, pasalnya semua kegiatan yang berkaitan dengan akses data dan lain sebagainya hingga pada akhirnya bisa menjadi materi terjadi pada akses web tersebut.

Asesmen kelemahan aplikasi web

Para penyedia informasi digital berbasis teknologi web harus mampu memberikan layanan yang aman dan handal bagi masyarakat agar bisnis dapat berjalan tanpa gangguan.

Tahap uji penetrasi

Tahapan untuk mengumpulkan semua informasi mengenai sistem target. Beberapa informasi yang dibutuhkan antara lain seperti domain, server, layanan, host, ip address, firewall, dan lain sebagainya.

Form Input testing

Kelemahan terbanyak keamanan aplikasi web adalah tidak mampunya pengembang menyediakan input validasi yang baik dan memadai dari pengguna atau dari infrastruktur sebelum menggunakannya

Session Hijacking

Dengan memanfaatkan beberapa limitasi aplikasi web dan internet kita bisa melakukan session hijacking dengan mudah

SQL Injection

Teknik yang memanfaatkan celah keamanan yang ada pada lapisan basis data sebuah aplikasi. Celah ini terjadi ketika input dari pengguna tidak disaring secara benar.

Cross-site Scripting (XSS)

Teknik lain yang memanfaatkan kelemahan input dan database adalah tenik Cross-site Scripting yang sama berbahayanya dengan teknik-teknik lain

Kenapa memilih untuk mengikuti  workshop ini?

Manfaat

Dapatkan manfaat dari workshop ini

Z

Mempelajari keamanan aplikasi.

Z

Melakukan Assesmen mandiri terhadap kelayakan sebuah aplikasi utuk diakses ke public.

Z

Mempelajari cara mencari celah keamanan aplikasi

Z

Menggunakan tools keamanan untuk melakukan cheking terhadap aplikasi

Z

Dapat melakukan pengujian mandiri terhadap aplikasi berbasis web

Workshop Web Application Penetration Testing 5
Workshop Web Application Penetration Testing 6

Fasilitas

Dapatkan fasilitas terbaik dari kami

Sertifikat

Coffee Break

Lunch

Biaya Workshop

Daftar Sekarang!

Daftar sekarang juga dan dapatkan harga terbaik dari kami. Kuota terbatas!

This form does not exist

Workshop Analisa Data dengan Data Science

27-28 MEI 2019

Analisa Data dengan Data Science

Praktekkan bagaimana menggunakan machine learning untuk mengidentifikasi paket produk yang efektif dengan teknik MBA (Market Basket Analysis) serta segmentasi customer untuk beragam kegiatan promosi yang bertarget dan berdampak pada perkembangan bisnis Anda.

Workshop Analisa Data dengan Data Science 7
Workshop Analisa Data dengan Data Science 8

Integerasikan data and technology untuk membantu perusahaan mentranformasi marketingnya

Manfaat Workshop ini

Workshop ini akan memberikan pemahaman dan implementasi teknik pengolahan dan pemodelan data menggunakan R, yang bisa anda terapkan di instansi Anda.

9

Mampu mengetahui dasar-dasar data science menggunakan R.

9

Mampu menyiapkan data yang akan dianalisa.

9

Mampu menggunakan algoritma machine learning untuk menganalisa hubungan antar produk dan segmentasi customer

Fasilitas

Dapatkan fasilitas terbaik dari kami

9

Sertifikat

9

Coffee Break

9

Lunch

Mei 2019

Dapatkan Harga Terbaik

Untuk pendaftaran sebelum tanggal 20 Mei 2019 kami punya penawaran terbatas diskon sampai dengan 30%. Jadi jangan sampai ketinggalan!

Outline Workshop

Kami memberikan materi terbaru dan terbaik dengan instructor yang telah berpengalaman di bidangnya.

Workshop Analisa Data dengan Data Science 9

R Fundamental for Data Science

Mengetahui dasar memulai R yang merupakan bahasa yang sangat populer di data science mulai dari operasi matematika sampai visualisasi data

Workshop Analisa Data dengan Data Science 10

Data Preparation and Exploration

Mengetahui langkah-langkah dalam menyiapkan data (data wrangling) meliputi data profiling, data cleansing dan data enrichment

Workshop Analisa Data dengan Data Science 11

Market Basket Analysis

Mempelajari algoritma machine learning untuk kasus bisnis retail untuk mencari hubungan antar produk yang kuat berdasarkan data transaksi belanja

Workshop Analisa Data dengan Data Science 12

Marketing Customer Segmentation

Mempelajari teknik analisa menggunakan algoritma machine learning untuk segmentasi customer yang bermanfaat bagi marketing dan CRM

Biaya Workshop

Info, Registrasi dan Pendaftaran

Registrasi sekarang dan dapatkan harga terbaik dari kami. Kuota terbatas!

This form does not exist

Digitalisasi Pemerintahan Sebagai Katalis Smart Province

Balikpapan (04/04/19). Berdasarkan data dari we are social, diawal tahun 2019 jumlah pengguna nomor unik mobile menyentuh angka 300 juta pengguna yang ternyata lebih besar dari jumlah penduduk Indonesia, ujar Andi Yuniantoro dalam kegiatan bersama Diskominfo Provinsi Kalimantan Timur. Dari data tersebut ternyata membawa pengaruh dalam kebiasaan masyarakat yakni digitalisasi, saat ini masyarakat hanya perlu menggunakan telpon untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

Digitalisasi Pemerintahan Sebagai Katalis Smart Province 13

Dengan adanya perubahan kebiasaan masyarakat tersebut juga menuntut pemerintah untuk melakukan perubahan secara aktif. Digitalisasi pemerintahan tertuang dalam Perpres Nomor 95 tahun 2018 tentang Sistem Pemerintah Berbasis Elektronik. Pemanfataan teknologi digital dalam proses pemerintahan dapat membantu pemerintah dalam pelayanan kepada masyarakat, serta proses internal organsisasi dan model organisasi. Namun pelaksaannya tergantung bagaimana sebuah organisasi mengelola transformasi digital tersebut. Sayangnya masih banyak pemerintah yang belum mencoba menerapkan digitalisasi pemerintah, sehingga masih banyak aplikasi dan database yang belum terintegrasi, juga ada celah resiko keamanan dan validitas data pemerintahan.

Digitalisasi Pemerintahan Sebagai Katalis Smart Province 14

Namun pemerintahan yang telah menerapkan SPBE dengan mudah akan mewujudkan Smart province, karena dengan SPBE diharapkan seluruh database dan sistem kelola pemerintahan sudah terintegrasi dengan baik. Andi menambahkan, selain dengan SPBE, untuk menuju smart province pemerintah juga membutuhkan dukungan teknologi command center sebagai pusat monitoring pengaduan, sistem informasi geografis dan dashboard executive.