[Workshop] Membuat REST API dengan SLIM Micro Framework

[Workshop] Membuat REST API dengan SLIM Micro Framework

Teknologi web service merupakan salah satu cara setiap fungsi bisnis untuk berkomunikasi. Web service menyediakan business logic, proses, dan data dalam antarmuka pemrograman antar jaringan

RESTful API atau REST API merupakan implementasi dari API (Application Programming Interface). REST (Representional State Transfer) adalah suatu arsitektur metode komunikasi yang menggunakan protokol HTTP untuk pertukaran data dan sering diterapkan dalam pengembangan aplikasi.

Slim sebagai micro framework fokus kepada kebutuhan pokok yang diperlukan sebuah aplikasi web dan sering dipakai di industri. Kita bisa membangun sebuah API yang lebih cepat, ringan, dan efisien dengan menggunakan Slim.

Waktu & Pelaksanaan Event

Waktu          : Kamis, 19 April 2018 (14.00 – selesai)
Tempat       : Inixindo Jogja (Jalan Kenari No. 69, Mujamuju, Yogyakarta)
Biaya           : Gratis*

*Tempat terbatas

This form does not exist

Poster

[Workshop] Membuat REST API dengan SLIM Micro Framework 1

Materi Praktek

[wpdm_package id=’14749′]

Microsoft Membuat OS Berbasis Linux untuk IoT

Microsoft Membuat OS Berbasis Linux untuk IoT

Pada tahun 2001, Steve Ballmer CEO perusahaan software raksasa Microsoft saat itu pernah mengeluarkan pernyataan yang dianggap sebagai penabuh genderang perang antara Microsoft dan Linux. Dia mengatakan bahwa Linux itu bagaikan kanker yang menggerogoti sistem hak kekayaan intelektual di setiap hal yang berhubungan dengan kernel tersebut. Kalimat inilah yang kemudian menimbulkan sentimen negatif pada pengguna masing-masing OS.

Hampir dua dekade berlalu dan kita dikejutkan dengan peluncuran Microsoft Azzure Sphere pada hari Senin kemarin. Microsoft Azure Sphere adalah sebuah chip Micro Controller Unit (MCU) yang didesain sendiri oleh Microsoft untuk peralatan-peralatan Internet of Things (IoT). Microsoft Azure Sphere sendiri akan menggunakan Azure Sphere OS yang menggunakan kernel Linux yang telah dikustomisasi.

“Memang kita adalah perusahaan yang membuat Windows, tapi kita menyadari bahwa solusi terbaik untuk komputer seukuran mainan anak-anak bukanlah versi penuh dari Windows,” kata Brad Smith, presiden dan sekaligus Chief Legal Officer (CLO) Microsoft saat diwawancarai CNBC di acara tersebut.

Jika kita mengikuti berita teknologi, keputusan Microsoft untuk menggunakan kernel Linux sebenarnya tidak seberapa mengagetkan lagi. Tahun 2016 lalu Microsoft resmi terdaftar dalam Linux Foundation, sebuah organisasi pendanaan untuk proyek open source Linux. Selain itu, Microsoft juga mengubah nama layanan cloud yang semula dinamai Windows Azure menjadi Microsoft Azure dan mengeluarkan versi Linux untuk software database SQL Server mereka.

Selain itu, bulan lalu telah terjadi reorganisasi besar-besaran di tubuh Microsoft yang menyebabkan beberapa petinggi dari divisi Microsoft’s Windows kehilangan kursi di tim senior leadership. Hal ini bisa dijadikan pertanda bahwa visi Microsoft ke depannya lebih terfokus pada layanan cloud.

Microsoft Membuat OS Berbasis Linux untuk IoT 2

Microsoft sendiri ‘menggratiskan’ lisensi desain arsitektur dari chip Azure Sphere ini. Microsoft juga menggandeng MediaTek untuk menjadi produsen pionir chip Azure Sphere ini. Fokus Microsoft Azure Sphere beserta OS-nya ini adalah keamanan karena Microsoft Azure Sphere akan memungkinkan setiap peralatan elektronik terhubung dengan jaringan internet.

Kehadiran Azure Sphere ini melengkapi portfolio Microsoft di platform infrastruktur layanan cloud yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Microsoft juga membebaskan penyedia layanan cloud yang lain seperti Google, IBM, dan Amazon untuk memanfaatkan teknologi ini.

Dalam waktu dekat memang belum ada produk yang bisa dinikmati oleh end-user tapi banyak perwakilan dari produsen elektronik yang menyatakan tertarik untuk menerapkan konsep IoT ke peralatan yang dibuatnya.

Event Story : Workshop Membuat REST API Dengan Menggunakan SLIM Micro Framework

Event Story : Workshop Membuat REST API Dengan Menggunakan SLIM Micro Framework

Tempat apa yang selalu ramai pada hari Kamis? Kuburan? Tentu bukan. Jawaban yang tepat adalah EduparX yang ada di Inixindo Jogja. Dan pada hari Kamis kemarin tanggal 19 April 2018, Inixindo Jogja kembali mengadakan workshop dengan tema “Membuat REST API Dengan Micro Framework.” Di workshop kali ini tidak begitu banyak peserta yang hadir tapi justru membuat workshop ini semakin terasa intensif.

Event Story : Workshop Membuat REST API Dengan Menggunakan SLIM Micro Framework 3

Miftakh, programmer di Inixindo Jogja adalah orang yang berkesempatan mengisi workshop kali ini. Dengan semangat, pria berkacamata ini menjelaskan mulai dari pemahaman mendasar tentang API itu sendiri hingga kelebihan SLIM sebagai micro framework. Dia juga telah mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari materi yang mudah dipahami beserta source code bila ada yang membutuhkan.Setelah menjalaskan secara fundamental apa itu API, REST API, dan SLIM micro framework, Miftakh pun mengajak peserta ‘mengotori tangan’ mereka untuk langsung menulis kode pemrograman.

Event Story : Workshop Membuat REST API Dengan Menggunakan SLIM Micro Framework 4

Setelah acara yang berakhir terlihat ada beberapa peserta yang masih tinggal di EduparX untuk mendalami materi tentang SLIM micro framework ini. Jika Anda sudah mendaftar tapi melewatkan acara ini Anda bisa mengunduh materi workshop di link di bawah ini serta nantikan obrolan IniXTalks bersama Miftakh di channel Youtube kami.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=EliJoAwukK4[/embedyt]

[wpdm_package id=’14746′]

[SharingSession] Ramadhan Bulan Penuh Insight

[SharingSession] Ramadhan Bulan Penuh Insight

Ramadhan, bulan penuh hikmah bagi umat muslim di seluruh dunia. Di Indonesia, Bulan Ramadhan tidak hanya membawa hikmah tapi juga berkah. Tingkat konsumsi masyarakat Indonesia selalu naik di bulan ini. Mulai dari makanan, pakaian, hingga barang elektronik dan gadget selalu menjadi buruan orang-orang di saat Bulan Ramadhan terutama saat mendekati Hari Raya Idul Fitri.

Bagi pemasar dan pemilik bisnis, hal tersebut tentu merupakan suatu kesempatan yang besar. Tapi kesempatan yang besar tersebut akan lewat begitu saja jika kita tidak bisa menentukan strategi pemasaran yang tepat. Oleh karena itu, pemasar dan pemilik bisnis harus bisa membaca serta menganalisis perilaku dan selera konsumen di Bulan Ramadhan ini. Apakah perilaku konsumen di Bulan Ramadhan ini memiliki pola? Dan apakah kanal-kanal digital seperti jejaring sosial dapat digunakan sebagai media untuk menganalisis perilaku dan minat konsumen di Bulan Ramadan?

Ikuti sharing session dengan pembicara Samsul Arifin seorang digital chairman di salah satu agensi di Yogyakarta yang akan dilaksanakan pada :

Hari & Tanggal : Kamis, 26 April 2018
Pukul : 14.00 WIB
Tempat : Inixindo Jogja, Jl. Kenari No. 69 Yogyakarta.

Sharing session ini bersifat gratis. Karena tempat kami terbatas, silakan registrasi dengan mengklik tombol link di bawah ini.

This form does not exist

Benarkah Belajar Coding Saat Ini Lebih Mudah Dibanding Dulu?

Benarkah Belajar Coding Saat Ini Lebih Mudah Dibanding Dulu?

Minat orang-orang untuk belajar pemrograman atau yang sekarang lebih ngetren disebut dengan belajar coding meningkat pesat belakangan ini. Selain karena kebutuhan industri dan sumber daya manusia untuk bidang tersebut memang meningkat, banyak di antara anak-anak muda yang menjadikan pemrograman sebagai hobi. Bisa menciptakan suatu program untuk memecahkan masalah yang dialami sendiri atau orang lain tentu menjadi tantangan sendiri bagi mereka.

Banyak orang yang bilang anak-anak sekarang hidupnya lebih enak apalagi kalau mau belajar sesuatu hal yang baru terutama belajar yang agak-agak berbau teknologi informasi atau IT. Sudah ada Google dan Wikipedia yang bisa menjelaskan semua hal yang ingin diketahui. Tinggal ketik kata kuncinya, ribuan halaman web tersedia dari institusi resmi maupun blog personal.

Lalu benarkah belajar coding sekarang lebih gampang bila dibandingkan dengan dulu? Belum tentu! Banyak juga hal-hal yang ada sekarang justru membuat kita semakin susah untuk belajar pemrograman. OK, mari kita bandingkan kondisi yang mempermudah dan yang mempersulit belajar coding saat ini.

 

Kondisi Yang Mempermudah Belajar Coding

 

Hadirnya Internet

Sebenarnya alasan ini sudah dibahas di awal artikel. Yup! Dengan kehadiran internet, kita dengan mudah bertanya apa saja ke mesin pencari seperti Google. Bahkan jika kita aktif di forum seperti Stack Overflow seringkali kita disuguhkan dengan kode yang sudah jadi. Cukup tekan “ctrl+C” dan “ctrl+V” saja untuk menyalin kode tersebut ke text editor yang kita gunakan seperti Sublime, Atom, atau Visual Studio.

Adanya internet juga mempermudah kita untuk mendapatkan tools dan dependencies yang dibutuhkan. Cuma butuh kesabaran dalam mengunduh file-file yang dibutuhkan dengan koneksi di negara kita yang alakadarnya ini.

 

Lahirnya Bermacam-macam Framework

Adalah sebuah kodrat jika manusia suka dengan hal yang cepat dan instan, seperti mie kardus yang laris dimana-mana. Begitu juga dengan bahasa pemrograman. Jangan mengaku gaul di dunia coding kalau belum pernah mencoba framework yang dibuat di atas bahasa pemrograman tertentu seperti Laravel, Vue.js, Spring, .NET, dan lain sebagainya.

Framework memang dibuat untuk memudahkan para developer untuk menuliskan kode pemrogramannya. Dengan framework, beberapa baris kode bisa disingkat menjadi satu baris kode saja. Selain memudahkan para developer, framework ini juga dianggap sebagai dewa penyelamat bagi orang yang sedang belajar coding tapi juga ingin langsung praktek membuat suatu project sendiri.

 

Coding Bootcamp yang Kian Menjamur

Bagi yang belum mengetahui istilah yang digunakan pada sub judul di atas, coding bootcamp adalah program pelatihan intensif belajar pemrograman. Biasanya yang sering kali diajarkan dalam coding bootcamp ini adalah pemrograman web dan mobile. Mungkin karena memang dua hal tersebut lebih sederhana daripada membuat aplikasi desktop.

Ada bermacam-macam metode coding bootcamp. Ada metode online yang tidak mewajibkan peserta datang ke tempat pelatihan dan ada metode offline yang mewajibkan pesertanya hadir ke ruang kelas. Seringnya penyedia layananan coding bootcamp ini tidak mematok syarat yang tinggi untuk menjadi pesertanya. Minimal paham caranya menggunakan komputer dan internet, walaupun ada beberapa bootcamp yang menyeleksi ketat pesertanya karena keterbatasan tempat.

Adanya coding bootcamp ini membuat orang-orang tidak harus kuliah di jurusan IT untuk bisa membuat aplikasi web atau mobile. Dan mengingat bahwa banyak tech start up yang tidak mensyaratkan ijazah dari Teknik Informatika dalam menerima karyawan baru, semakin menambah semangat kita yang ingin atau sedang belajar coding.

(Jika Anda tertarik dengan coding bootcamp dari Inixindo Jogja silakan menuju laman full-stack web programming bootcamp.)

 

Orang Yang Mengerti IT Jauh Lebih Banyak

Setidaknya di zaman sekarang, pemahaman IT masyarakat Indonesia sudah cukup lumayan. Hampir setiap orang yang kita jumpai paling tidak memiliki komputer kecil berwujud smartphone di sakunya. Hampir setiap universitas pun punya jurusan IT. Kenapa hal ini membantu? Ya paling tidak semakin besar jumlah orang yang paham IT semakin besar pula kemungkinan orang yang kita kenal bisa kita jadikan Google berjalan yang siap ditanya-tanya saat mengobrol di warung kopi atau di warteg.

Selain untuk ditanya-tanya, kehadiran teman yang memiliki minat dan keahlian di bidang yang sama tentu saja akan memberikan dukungan psikologis. Itulah kenapa komunitas sering berkumpul untuk sekedar sharing.

 

Kondisi Yang Mempersulit Belajar Coding

 

Teknologi Yang Berkembang Terlalu Cepat

Semakin canggih teknologi tentu saja juga mendatangkan masalah baru yaitu perubahan yang sangat cepat. Masalah ini sering dialami oleh mahasiswa IT yang baru saja lulus dari perguruan tinggi. Materi-materi kuliah yang diajarkan pada awal semester terkadang sama sekali berbeda dengan kondisi saat mereka lulus. Satu per satu framework lahir menggantikan framework populer yang dipakai sebelumnya.

Repotnya lagi, industri saat ini menuntut para calon karyawannya untuk menguasai framework baru. Tidak sedikit dari mahasiswa yang belum sempat istirahat sambil kipas-kipas setelah wisuda harus belajar lagi agar bisa diterima di perusahaan tempat incarannya untuk bekerja. Kondisi inilah yang kadang-kadang membuat bingung orang yang akan belajar coding. Mereka takut pembelajarannya akan sia-sia setelah setahun atau dua tahun lagi.

 

Distraksi

Sebenarnya ini adalah hambatan yang muncul dari faktor internal diri kita sendiri. Pernakah Anda mencari-cari tutorial di internet dan tanpa Anda sadari Anda tiba-tiba menonton video musik yang sedang populer saat ini? Jika pernah, Anda tidak sendirian.

Jika dulu hanya ada komputer, buku teknis tentang pemrograman, dan cemilan saat kita belajar. Sekarang kita diberikan pilihan konten yang dapat mendistraksi fokus kita dalam belajar coding. Tentunya hal ini akan mengurangi efisiensi waktu yang dibutuhkan untuk mendalami dan mempraktikkan setiap baris kode yang kita dalami.

 

Project Dengan Skala Besar

Hadirnya platform kolaborasi dalam pemrograman seperti Git membuat suatu project berkembang dari skala kecil hingga ke skala besar dengan sangat cepat. Lalu? Jika Anda baru belajar coding dan belum punya pengalaman mengerjakan project dengan skala besar, bersiaplah untuk ternganga melihat ribuan baris kode yang dibuat oleh puluhan orang. Tentu saja dengan alur logika mereka masing-masing.

Satu hal yang lebih susah daripada coding itu sendiri adalah memahami kode yang dibuat oleh developer lain. Hal ini akan terasa mudah saat dulu procedural programming masih berjaya dan belum diserang oleh “negara api” (object-oriented programming, Red.).  Memang secara garis besar OOP (object-oriented programming) memang dibuat untuk memudahkan developer dalam mengembangkan aplikasi dengan skala besar, tapi beda ceritanya jika kita masuk saat project berjalan ditengah-tengah dan kita harus melakukan reverse engineering terhadap aplikasi yang dibuat oleh banyak orang.

 

Telah sampailah kita pada penghujung artikel yang tidak memberikan kesimpulan dan agak berbau click bait ini. Lalu bagaimana tips dan trik agar belajar coding atau pemrograman bisa berjalan efektif dan menyenangkan? Baca artikel dari kami tentang 7 jurus (tips & trik) belajar coding secara otodidak!