Machine Learning Yang Mencoba Mengubah Teori Chaos

 

Pernahkah kita melihat langit di malam hari apapun alasannya, baik itu gara-gara kurang kerjaan, sedang melakukan penelitian di bidang astronomi, atau pun sedang berbasa-basi pada kencan pertama karena grogi. Jika kita perhatikan susunan bintang di angkasa tampak seperti titik-titik terang acak yang tersebar di angkasa. Tapi terkadang ada satu pertanyaan konyol tiba-tiba saja muncul dalam pikiran ‘kenapa letak Alpha Centauri di sini dan Proxima Centauri di situ?’

 

Kita Hidup di Dunia yang Tak Beraturan

Pertanyaan macam itu sebenarnya tak hanya muncul, saat kita melihat bintang saja. Pada masa di mana manusia masih belum bisa memprediksi cuaca, turunnya hujan pun dianggap sesuatu yang acak. Memang dari dulu kita sudah bisa menentukan kapan pergantian musim akan terjadi tapi jam berapa dan berapa lama akan turun hujan kita sama sekali tidak memiliki gambaran. Berbeda dengan sekarang, di mana kita bisa mengetahui jam berapa dan seberapa deras hujan yang akan turun.

Tak hanya masalah cuaca, di dunia indah yang kita tinggali ini banyak pola-pola acak yang membuat manusia kehabisan akal untuk bisa memprediksinya termasuk perilaku manusia itu sendiri. Itulah mengapa dunia pemasaran yang sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia dianggap sebagai kawin silang antara ilmu ekonomi dan seni.

 

Teori Chaos

Walaupun disebut sebagai sesuatu yang tak beraturan, sebenarnya pola-pola acak memiliki teorinya sendiri yang terkenal dengan sebutan chaos theory. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Edward Lorenz seorang matematikawan dan meteorologis dari Amerika Serikat. Saat dia hendak memasukkan angka variabel dalam program komputernya, Lorenz terburu-buru mengambil kopi sehingga angka yang dia masukan tak lengkap selisih 3 angka di belakang koma dari yang seharusnya 0,506127 menjadi 0,506 . Selisih angka yang tak seberapa ini ternyata merubah seluruh pola perkiraan cuaca.

Kejadian ini kemudian dimetaforakan oleh Lorenz bahwa satu kepakan kupu-kupu di Amazon dapat menyebabkan badai di New York yang kemudian disebut dengan ‘butterfly effect’.  Butterfly Effect merupakan lahirnya teori chaos. Pada tahun 2007 Lorenz mengatakan bahwa teori chaos membuktikan bahwa cuaca tak bisa diprediksi jauh-jauh hari sebelumnya. Teknologi paling canggih yang digunakan sekarang hanya bisa memprediksi cuaca paling lama 2 minggu ke depan.

Jika kita berpikir secara mendalam lagi, chaos atau ketidakteraturan dialami oleh hal yang paling mendasar di alam semesta kita yaitu pergerakan atom yang masih menjadi misteri. Bahkan umat manusia tercatat telah membangun terowongan sepanjang 27 KM (Large Hadron Collider)  hanya untuk meneliti pergerakan partikel penyusun atom ini.

 

Bagaimana Machine Learning Memprediksi ‘Ketidakteraturan’.

Machine learning merupakan teknologi baru yang mencoba untuk menyelesaikan permasalahan teori chaos ini. Machine learning menggunakan teknik statistik dalam sebuah sistem komputer yang menganalisis data di mana data tersebut masih terus berkembang. Untuk memahami machine learning secara fundamental, Anda dapat mengunjungi artikel Mengenal Machine Learning dari kami sebelumnya.

Machine learning sebenarnya dituntut untuk menciptakan model dari sebuah sistem chaos yang masih sama sekali belum diketahui rumus persamaannya seperti menentukan gerakan api dari kayu yang terbakar. Memang tugas yang diberikan oleh machine learning terdengar tidak mungkin untuk diselesaikan. Akan tetapi dengan data yang cukup, machine learning dapat menentukan cluster data yang digunakan untuk mengklasifikasikan data. Metode ini adalah metode yang digunakan dalam mekanika kuantum di mana pergerakan elektron memiliki suatu pola yang sebenarnya tidak terlalu acak jika kita memiliki mengamati pergerakannya sebanyak satu juta kali misalnya.

Metode data clustering ini termasuk dalam kategori unsupervised learning di mana kita sama sekali tidak memprogram “mesin yang sedang belajar” ini untuk memberi label terhadap input data. Si mesin hanya membuat grup data berdasarkan kemiripan antara satu data dengan data yang lain. Jika Anda pernah beriklan di FB Ads atau Google Ads, Anda tentunya familiar dengan istilah ‘look alike’ atau ‘similar user’. Istilah tersebut digunakan dalam menentukan target audience dari iklan yang akan kita tayangkan di media sosial atau pun di search engine. Look a Like (digunakan oleh Facebook) atau Similar User (digunakan oleh Google) merupakan kelompok audience memiliki kesamaan atribut data dengan pengguna apps atau pengunjung website yang kita miliki. Tentunya metode ini hanya bisa digunakan jika kita telah melakukan pengumpulan data (data mining) bisa dengan Google Analytics maupun Facebook Pixel. Lalu apa saja kesamaan data yang dimiliki target audience tersebut dengan pengguna apps atau pengunjung website kita? Kita tak akan pernah tahu dan mungkin si pembuat machine learning milik Google atau Facebook juga tak seberapa tahu.

 

Dengan Adanya Machine Learning Apakah Masih Ada Yang Disebut Dengan Ketidakteraturan?

Sebenarnya masih banyak persoalan yang masih belum terpecahkan walaupun kita menggunakan machine learning. Akan tetapi jika kita memberi kesempatan kepada machine learning untuk terus belajar siapa tahu machine learning akan mengalahkan manusia di segala bidang. Bahkan belakangan perusahaan search engine terbesar di dunia sedang mengembangkan machine learning dalam Artificial Intelligence yang bisa membuat Artificial Intelligence sendiri.

Perkembangan machine learning yang semakin cepat ini kemudian memunculkan pertanyaan di atas, apakah masih ada yang disebut dengan ketidakteraturan? Apakah semua hal di semesta ini cuma sebuah algoritma hukum sebab-akibat?

 

****

 

Jika Anda tertarik untuk mempelajari machine learning lebih dalam lagi, Anda dapat mengikuti Kelas Machine Learning yang diselenggarakan oleh Inixindo Jogja.

Infografis Tentang Informasi & Data Mengenai Infografis

Infografis Tentang Informasi & Data Mengenai Infografis

 

Meme di atas mungkin adalah gambar ilustrasi yang memiliki tingkat relevansi paling tinggi terhadap judul dari puluhan artikel yang ada di Inixindo Jogja. Agak berbeda dari artikel-artikel sebelumnya, artikel tentang infografis kali ini akan disampaikan dalam bentuk infografis. Kami berpendapat bahwa jika disampaikan dalam bentuk tulisan akan menjadi hal yang kontra produktif. Itulah alasan kami menyampaikan informasi tentang infografis dengan infografis. Agar keren Anda juga boleh menyebutnya sebagai infographiception.

 

“Infografis menjadi populer sejak beberapa dekade lalu, bahkan sebelum adanya internet booming”

Infografis Tentang Informasi & Data Mengenai Infografis 1
Infografis Tentang Informasi & Data Mengenai Infografis 2
Infografis Tentang Informasi & Data Mengenai Infografis 3

“Secara alami, sinyal visual lebih cepat dan mudah ditangkap oleh manusia”

Infografis Tentang Informasi & Data Mengenai Infografis 4
Infografis Tentang Informasi & Data Mengenai Infografis 5
Infografis Tentang Informasi & Data Mengenai Infografis 6

“Terlebih lagi sekarang manusia terpapar dengan jumlah informasi yang lebih banyak dibanding sebelumnya”

Infografis Tentang Informasi & Data Mengenai Infografis 7

“Infografis lebih menarik perhatian audiens bila dibandingkan dengan informasi berupa teks biasa”

Infografis Tentang Informasi & Data Mengenai Infografis 8

“Tulisan yang disertai gambar lebih mudah dipahami”

Infografis Tentang Informasi & Data Mengenai Infografis 9

“Informasi visual dapat membantu untuk mempersuasi”

Infografis Tentang Informasi & Data Mengenai Infografis 10

“Jika Anda ingin mempelajari lebih dalam tentang Infografis,

Anda dapat mengikuti kelas ‘Boost Your Data Visualization with Infographic’

di Inixindo Jogja”

Untuk informasi dan pendaftaran kunjungi tautan berikut!

Infografis Tentang Informasi & Data Mengenai Infografis 11

Kiat-Kiat Menjadi Programmer Freelance

Beberapa bulan lalu kita telah sempat membahas tentang tips belajar coding secara otodidak. Siapa tahu setelah beberapa bulan membaca artikel itu kalian sudah menjadi seorang programmer yang siap tempur di dunia nyata. Inilah saatnya kalian memutuskan apakah ingin bekerja di perusahaan atau menjadi programmer freelance. Tentu keduanya ada plus minusnya. Bagi programmer ‘kantoran’ yang sudah ngebet ingin jadi programmer freelance gara-gara iri melihat teman seperjuangan yang berstatus pekerja lepas bisa kerja sambil jalan-jalan, tahan dulu hasrat kalian yang sudah memucuk itu karena kita akan membahas kelebihan dan kekurangan dari masing-masing model kerja antara freelance dan employee terlebih dahulu.

 

Programmer Kantoran

Programmer kantoran biasanya dibagi lagi menurut perusahaan yang merekrutnya, jika berada di perusahaan yang sudah bertransformasi ke arah digital apalagi tech start up, kalian akan lebih diarahkan untuk menjadi seorang spesialis. Akan tetapi, jika kalian bekerja di perusahaan kecil apalagi yang belum melek digital siap-siap saja disuruh untuk menjadi programmer setengah dewa, single fighter, atau apapun istilahnya karena semua yang berhubungan dengan software diserahkan oleh programmer. Bahkan tak jarang programmer yang memiliki sambilan sebagai IT support.

Secara umum programmer kantoran tidak jauh berbeda dengan pekerja kantoran yang lainnya, jam kerja yang rutin, fasilitas-fasilitas yang sudah disediakan seperti tempat kerja, perlengkapan dan alat-alat kerja, bahkan mungkin asuransi yang ditanggung oleh perusahaan. Tak perlu mengeluarkan modal kecuali badan dan otak.

 

Programmer Freelance

Programmer freelance memiliki keuntungan di jam kerja yang suka-suka, tempat kerja yang suka-suka, dan workflow yang tentunya juga suka-suka. Maka tak heran jika banyak freelancer yang bisa berpelesir ke luar negeri dan masih bisa meneruskan project yang sedang ditanganinya. Selain itu, freelancer juga bisa memilih project seperti apa yang akan dia terima. Hal ini jarang bisa dilakukan oleh programmer kantoran karena mau tak mau dia harus mengikuti alur kerja yang sudah ditetapkan oleh perusahaan.

Akan tetapi, menjadi seorang programmer freelance memiliki sebuah resiko yang besar yaitu tidak mendapatkan klien sama sekali. Bahkan ada beberapa programmer kantoran yang memutuskan untuk jadi freelance tapi akhirnya memutuskan untuk kembali bekerja sebagai programmer kantoran. Sama seperti seorang pengusaha, jika kalian ingin menjadi programmer freelance kalian tidak hanya harus memikirkan tentang kode yang kalian tulis, tapi kalian juga diwajibkan untuk memikirkan bagaimana memasarkan dan mengelola diri kalian sendiri.

Jika sudah memikirkan masak-masak dan yakin bahwa menjadi programmer freelance adalah jalan hidup kalian, kita akan bahas bagaimana kiat-kiat agar menjadi programmer freelance yang sukses.

 

Menjadi Seorang Spesialis

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa jika bekerja di perusahan besar yang melek digital atau tech startup kita diharapkan untuk menjadi seorang spesialis. Seorang spesialis ini adalah seorang yang benar-benar menguasai suatu bahasa pemrograman atau framework tertentu. Kebanyakan dari para perekrut freelancer membutuhkan programmer freelance untuk membantunya menyelesaikan project. Oleh karena itu, para perekrut tersebut sengaja mencari freelancer dengan keahlian yang tidak dimiliki oleh tim yang sudah ada.

Permasalahan yang timbul adalah seperti di bidang fashion, teknologi pun mempunyai tren yang bisa berubah sewaktu-waktu. PHP contohnya, dua tahun lalu bahasa pemrograman PHP dan framework-framework-nya masih merajai pemrograman back-end. Pada tahun ini Javascript pelan-pelan mulai mengambil alih pemrograman backend dengan Node.Js. Itulah mengapa jika kita ingin menjadi programmer freelance kita harus memiliki spesialisasi yang bisa menyesuaikan perkembangan teknologi. Intinya adalah jangan pernah lelah untuk belajar.

 

Perbanyak Portfolio

Sangat jarang atau bahkan mungkin tidak ada perekrut yang melakukan proses seleksi dengan melakukan tes terhadap programmer freelance yang hendak dia rekrut. Selain karena menghabiskan waktu, para freelancer juga biasanya enggan untuk melakukan tes mungkin karena posisi geografis yang berjauhan. Para perekrut tersebut melakukan seleksi dengan cara melihat portfolio para freelancer terlebih dahulu.

Di awal karir, kalian bisa membangun portfolio dengan mengerjakan project pribadi atau bergabung dengan project “kerja bakti” yang biasanya juga diinisiasi oleh sesama programmer freelance. Ingat, portfolio bagi programmer freelance adalah senjata utama. Kekuatannya lebih ampuh daripada ijazah S2 Teknik Informatika sekalipun.

 

Tentukan Tarif Kerja

Project pribadi dan project “kerja bakti” telah selesai. Kini saatnya menilai dan menghargai (makna sebenarnya yaitu menetapkan harga, Red) diri kita sendiri. Kita bisa membandingkan dengan harga pasaran yang ada di situs-situs crowdsourcing seperti Upwork atau Freelancer. Kunjungi profil dari freelancer yang lain. Buka portfolionya. Cari tahu keahliannya lalu bandingkan semuanya dengan apa yang kita punya. Di sinilah objektivitas dan kepercayaan diri kalian akan diuji melalui pertanyaan ‘apakah pantas saya memiliki rate sama dengan orang itu atau bahkan lebih tinggi’ dan jangan lupa sesuaikan juga dengan standar di tempat domisili kalian.

Dalam dunia freelance para programmer memiliki rate per jam kerja tapi juga ada yang menerapkan tarif per project. Sebaiknya kalian menentukan tarif di keduanya supaya bisa memberikan klien opsi lebih.

 

Jual Keahlianmu

Kata ‘menjual diri’ mungkin dianggap negatif bagi sebagian orang. Tapi jika kalian memutuskan untuk menjadi seorang programmer freelance, kalian mau tak mau melakukan proses pemasaran keahlian kalian sendiri. Programmer freelance haruslah paham mengenai konsep personal branding. Bayangkanlah nama kalian menjadi sebuah brand mirip seperti praktisi advokat hukum atau praktisi periklanan di mana nama merekalah yang menjadi merk dagang.

Selain mem-branding diri, kalian juga harus memperbanyak network dengan bergabung di berbagai macam komunitas. Seperti yang disebut di atas, banyak klien datang dari kalangan programmer sendiri karena mereka memang kekurangan tenaga. Bukan tidak mungkin antara sesama programmer freelance kemudian membentuk kongsi software house sendiri.

 

***

Bagaimana? Setelah tahu bahwa menjadi programmer freelance tidak semudah copy paste fungsi di Stack Overflow masihkah niat kalian menggebu-gebu? Tapi jangan khawatir, tantangan yang lebih besar akan membuat diri kita terus berkembang.

Cara Merawat Baterai di Perangkat yang Kita Miliki

Tahukah Anda kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang dan jarang atau tidak pernah dilakukan sebelumnya pada 10 tahun yang lalu? Yup! Mencari colokan listrik untuk mengisi daya baterai pada smartphone dan kebiasaan ini tentu saja kita lakukan minimal satu kali sehari. Tuntutan ‘kemajuan teknologi’ justru sedikit merepotkan kita. “Dasar anak zaman sekarang, sedikit-sedikit cari colokan,” begitu kata para orang tua kepada anak millenial-nya.

Sebenarnya ‘mencari colokan’ itu bukan kemauan anak zaman sekarang. Banyak di antara mereka yang menyebutkan kata kopi, senja, dan puisi di profil sosial media yang mereka miliki, tapi sepertinya jarang yang menyebutkan colokan, stop kontak, apalagi power socket. Ini merupakan tanda bahwa mencari colokan bukanlah hobi melainkan sebuah keterpaksaan.

Penyebab perbudakan manusia oleh colokan ini disebabkan karena perkembangan teknologi baterai sebagai penyimpan energi tidak secepat perkembangan chipset, layar, atau komponen lain yang mengkonsumsi energi. Samsung pernah nekat memasukan kapasitas baterai yang besar pada perangkat andalannya yaitu Galaxy Note 7. Langkah ini berujung pada ditariknya perangkat tersebut dari pasaran karena banyak kasus baterai meledak. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa kapasitas penyimpanan baterai akan menurun seiring dengan masa pakai.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai pengguna? Tentu saja kita hanya bisa merawat agar kapasitas baterai di perangkat kita tidak cepat menurun dan panjang umur.

 

Mitos Seputar Bagaimana Merawat Baterai

Tidak dipungkiri bahwa keinginan kita agar baterai awet melebihi keinginan kita untuk ganti perangkat 6 bulan sekali. Tapi tingginya keinginan ini terkadang tidak dibarengi dengan pengetahuan tentang baterai itu sendiri. Akibatnya, banyak spekulasi tentang cara merawat baterai yang bahkan bisa disebut disebut suatu mitos.

 

Mencharge Baterai di Atas 100% Akan Menambah Kapasitas Baterai

Ini adalah mitos yang paling tidak masuk akal tapi tetap saja ada yang percaya. Entah datang dari mana anjuran charge delapan jam untuk perangkat baru sempat berkeliaran beberapa tahun lalu. Faktanya tetap mencharge baterai kita walau sudah penuh justru akan semakin mengurangi umur baterai kita.

 

Usahakan Menunggu Daya Baterai Benar-Benar Habis Sebelum Men-charge

Mitos ini dapat dimaklumi karena dapat ditelusuri asal-usulnya. Mitos ini berasal dari baterai berbahan metal seperti nickel cadmium atau nickel-metal hydride yang bisa ‘lupa’ dengan berapa kapasitas baterainya jika arus yang ada di dalamnya tidak dimanfaatkan secara maksimal. Sekarang hampir semua perangkat menggunakan baterai lithium ion atau lithium polymer yang justru akan mempercepat penurunan kapasitas jika sering-sering ‘dikuras’.

 

Selalu Gunakan Adaptor Original dari Manufaktur Perangkat Agar Tidak Merusak Baterai

Mitos ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Hanya saja bahasa yang digunakan merupakan bahasa pemasaran yang tentu saja bertujuan mendatangkan keuntungan bagi produsen perangkat. Poin utama yang diperhatikan sebenarnya bukan merk dari charger tersebut melainkan besarnya tegangan dan arus keluarannya. Tidak sedikit merek-merek charger di pasaran yang memiliki kualitas yang bagus dan bahkan mungkin lebih bagus daripada charger bawaan perangkat. Lagipula smartphone sekarang sudah memiliki chipset yang dapat mengatur arus masuk ke baterai.

 

Terdapat Aplikasi yang Dapat Memperpanjang Umur Baterai

Faktanya awet tidaknya baterai tergantung dari pemakaian kita. Yang ada hanya aplikasi untuk memonitor baterai seperti suhu serta arus keluar atau arus masuk. Menutup aplikasi yang ada di ‘recent apps’ juga percuma karena aplikasi tersebut tersimpan di RAM yang tidak seberapa membutuhkan daya. Justru jika kita membuka aplikasi tersebut otomatis prosesor sebagai komponen yang paling haus daya akan bekerja memindahkan ribuan baris kode kembali dari internal storage ke RAM.

 

Faktor-faktor yang Dapat Memperpendek Umur Baterai

Sebelum kita beranjak ke bagian tips memperpanjang umur baterai, mari kita pahami dulu apa faktor yang dapat mengikis kapasitas sel yang ada dalam baterai itu sendiri. Karena sekali lagi, kita tidak dapat membuat baterai dapat dipakai selama-lamanya yang bisa kita lakukan hanya memperpanjang umurnya.

 

Panas

Faktor yang paling berpengaruh sebenarnya adalah panas. Sel lithium merupakan sel baterai yang paling sensitif terhadap panas bila dibandingkan dengan jenis sel baterai yang lain. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Battery University, baterai yang digunakan dengan suhu maksimal antara 25 derajat celcius dapat mempertahankan 80% dari kapasitasnya setelah pemakaian 1 tahun walaupun di-charge dengan siklus penuh (0-100%). Kapasitas ini akan lebih besar lagi jika kita dapat mempertahankan suhu di bawah 25 derajat tapi akan sangat sulit karena kita tinggal di negara tropis.

 

Ion yang Bergerak

Sama seperti komponen mekanik yang aus karena pemakaian, proses charge atau discharge (menggunakan daya yang tersimpan dalam baterai) membutuhkan perpindahan ion yang membuat sel di baterai ‘aus’. Inilah mengapa tadi disebutkan kita tidak bisa mencegah proses penuaan baterai tapi hanya bisa memperlambatnya saja. Kita akan membahas tentang ini di bagian selanjutnya.

 

Cara yang Bisa Kita Lakukan Untuk Memperpanjang Umur Baterai

Partial Charge

Partial charge adalah mencharge baterai sebentar saja dan tidak dalam satu siklus penuh (0-100%). Masih ingat tentang masalah sel yang bisa ‘aus’ di atas? Jika menerapkan partial charge kita hanya memakai sebagian sel dari baterai. Menggunakan penelitian yang sama dari Battery University, semakin sedikit tambahan persentase yang kita naikkan setiap kali charge semakin awet baterai kita. Tapi hal ini tidak mungkin kita lakukan karena jika kita hanya menambah daya 10% saja tak akan terbayang betapa sibuknya kita dengan urusan colok-mencolok ini.

Partial charge akan lebih efektif jika dilakukan di tengah siklus. Misal kita inigin mengisi daya sebesar 20%, mulai mencharge saat daya di baterai 40% dan cabut di 60%. Yang paling ideal untuk pengguna biasa adalah mencharge antara 30-70%. Dalam rentang tersebut kita hanya butuh mencharge sekali setiap hari. Apalagi jika kita menggunakan perangkat yang sudah mendukung Quickcharge di mana pada rentang tersebut kita bisa mencharge baterai kita secara lebih singkat.

 

Melepas Soft/Hard Case saat Mencharge

Seperti yang telah disebutkan di atas, panas merupakan musuh bagi sel lithium. Maka dari itu melepas case atau cover yang kita pasang akan membuat perangkat kita lebih mudah melepaskan panas. Bagi yang memakai kipas angin di rumah mungkin bisa mendekatkan perangkat ke kipas angin tersebut saat di-charge. Memasukkan perangkat ke dalam kulkas mungkin bisa menjadi opsi, tapi tampaknya solusi tersebut terlalu ekstrim untuk dilakukan.

 

Tidak Melakukan Aktivitas Berat Saat Mencharge

Selain dapat menimbulkan panas yang berlebihan pada perangkat, menonton video secara streaming atau bermain game saat melakukan proses charging dapat menimbulkan sesuatu yang disebut parasitic loads. Parasitic loads adalah kondisi di mana arus masuk masuk ke dalam baterai tapi juga terdapat arus keluar yang besar untuk memenuhi kebutuhan perangkat. Hal ini dapat mendistorsi siklus pengisian, sama halnya dengan mencolokkan dan mencabut charger dari stop kontak secara terus menerus dan cepat.

 

Tidak Mencharge Semalaman Penuh

Men-charge semalaman penuh menimbulkan potensi terjadinya overcharge. Kondisi di mana kita mencharge baterai yang sudah terisi penuh. Hal ini dapat menimbulkan tekanan pada sel baterai yang dapat mengurangi umur baterai tersebut. Beberapa perangkat memang sudah bisa mengatur arus masuk, tapi hanya beberapa perangkat flagship yang dapat mengecilkan arus hingga menjadi sekitar 20 mA sedangkan rata-rata perangkat tetap memasukkan arus antara 200 – 500 mA. Solusi agar kita dapat mencharge saat tidur adalah dengan memakai powerbank yang dilengkapi dengan fitur auto-power-cut yang dapat memutus arus saat baterai sudah terisi penuh.

***

Itulah tadi hal yang dapat kita lakukan untuk merawat baterai. Dengan langkanya perangkat yang memudahkan pengguna untuk mengganti sendiri baterainya, tentu saja merawat lebih baik daripada datang ke tempat servis smartphone.

Bertahan di Era Digital: Digital Leadership

Dalam artikel yang ditulis beberapa hari yang lalu, kita telah membahas tentang apa yang menyebabkan terjadinya transformasi digital (digital transformation) yang bisa juga disebut sebagai revolusi industri 4.0. Dalam artikel tersebut juga disebutkan bagaimana digital skill mutlak dibutuhkan bagi setiap perangkat organisasi/perusahaan jika organisasi/perusahaan tersebut ingin bertahan hidup di era digital ini.

Kali ini kita akan membahas tentang digital leadership sebagai komponen digital skill terpenting sebagai penunjang transformasi digital. Kenapa digital leadership menjadi komponen terpenting? Jawabannya tentu saja karena setiap keputusan dalam sebuah organisasi/perusahaan datang dari pemimpinnya. Bagaimana organisasi/perusahaan mau melakukan transformasi digital jika pemimpinnya saja masih belum melek digital. Jika diibaratkan proses transformasi digital adalah sebuah proses memasak, digital leadership dapat diibaratkan sebagai kompornya.

Meskipun begitu, di era disrupsi digital ini konsep pemimpin sebagai seorang jenderal yang duduk di belakang meja tidak lagi relevan. Perusahaan pioner transformasi digital seperti Google dan Lyft justru mencari pemimpin yang bisa dan mau turun tangan langsung, saling melengkapi dan berfungsi sebagai sebuah tim. Selain kemampuan untuk memimpin sebuah tim, para pemimpin ini dituntut untuk bisa membangun tim dari awal, menjadi perantara antar anggota tim, serta menuntun tim untuk memiliki budaya inovatif, mau belajar, dan terus melakukan peningkatan secara terus menerus. Memang terdengar agak klise dan hampir sama dengan pemimpin ideal di era sebelum transformasi digital terjadi tapi kita akan tahu apa saja perbedaannya di dalam artikel ini.

Pemimpin Digital Adalah Pemimpin Yang Memiliki Latar Belakang  IT?

Walaupun para pemimpin perusahaan pioner transformasi digital seperti Mark Zuckerberg, Larry Page, dan Travis Kalanick memiliki latar belakang pendidikan di bidang teknologi informasi ataupun ilmu komputer tak sedikit pula dari para pioner transformasi digital yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan TI ataupun komputer. Salah satu contohnya adalah Jeff Bezos yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang bisnis.

Yang dimaksud dengan digital leader di sini bukanlah seseorang yang ahli dalam pemrograman komputer atau seorang engineer. Digital leader adalah seseorang yang mampu memanfaatkan teknologi informasi untuk mencapai tujuan suatu organisasi atau bisnis. Beberapa tahun yang lalu kita pernah mendengar nama posisi CIO (Chief Information Officer) yang selalu dipasrahi tanggung jawab segala sesuatu yang berhubungan dengan IT. CIO inilah merupakan satu-satunya digital leader saat sebelum transformasi digital terjadi walaupun saat itu CIO lebih sering berurusan dengan hal-hal teknis seperti server, desktop, dan kabel LAN. Bahkan tidak jarang para staff di perusahaan yang menyebut CIO sebagai “box and wire jockey” semacam DJ yang memainkan router dan kabel alih-alih turntable.

Di era transformasi digital ini semua pemimpin dan staff dituntut untuk memiliki kemampuan untuk menjadi seorang digital leader yang mana mereka memiliki satu goal yang sama yaitu membawa organisasi atau bisnis yang dia pimpin untuk melakukan transformasi digital yang tidak hanya merupakan peralihan teknologi saja tapi juga aspek lain seperti transformasi kognitif, perilaku, dan emosi. Untuk itu, digital leader harus bisa berpikir, mengambil tindakan, dan bereaksi secara berbeda

Cognitive
Transformation
(Berpikir secara berbeda)
Behavioral
Transformation
(Bertindak secara berbeda)
Emotional
Transformation
(Bereaksi secara berbeda)
Membuat konsep tentang segala kemungkinan di dunia digital Beradaptasi dengan penguasa dan orang yang berpengaruh yang silih berganti Bertoleransi terhadap lingkungan yang penuh resiko dan ketidakjelasan
Menemukan cara untuk menangani kompleksnya pemikiran yang semakin meningkat Berkolaborasi dengan tim yang berbeda dengan latar belakang yang berbeda pula Tenang dan siap dalam menghadapi perubahan yang selalu terjadi
Mengambil keputusan secara cepat walaupun jika kita tidak mempunyai informasi Memberikan banyak energi untuk sebuah keberhasilan (coba – gagal – coba lagi) Memiliki kepercayaan diri untuk memimpin dan mendorong adanya perubahan

Pemimpin Saja Atau Pemimpin Digital?

Sampai di sini, kita telah banyak membahas tentang apa itu pemimpin digital. Dari pembahasan tersebut mungkin banyak yang bertanya “Loh, itu kan memang kriteria ideal pemimpin pada umumnya? Kenapa harus disebut sebagai pemimpin digital?”

Yang membedakan sebutan antara pemimpin biasa dan pemimpin digital selain masalah visi tentang teknologi adalah ‘aturan main’ dari kepemimpinan itu sendiri. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

‘Just’ Leader Digital Leader
Pemimpin dipilih dan diidentifikasi berdasarkan pengalaman, senioritas, dan performa kerja. Pemimpin dipilih dan diidentifikasi berdasarkan agility, kreativitas, dan kemampuan untuk menjembatani beberapa tim yang ada dalam organisasi.
Pemimpin harus memulai dari bawah dan perlahan-lahan menuju ke atas seperti menaiki tangga. Bisa menjadi pemimpin sejak dini dan mengembangkan jiwa kepemimpinan mereka sambil jalan.
Pemimpin diharapkan tahu apa yang akan dia lakukan dan membawa penilaian serta pengalamannya dalam menghadapi tantangan bisnis. Pemimpin diharapkan berinovasi, kolaborasi, dan menggunakan metode ‘client teams’, crowdsourcing, ataupun hackathon untuk menemukan solusi yang benar-benar baru.
Pemimpin dinilai dan dibentuk dari perilaku dan gaya kepemimpinan. Pemimpin dinilai dan dibentuk oleh pola pikir, dan kemampuan dalam memecahkan masalah.
Pemimpin memimpin organisasi dan fungsi. Pemimpin memimpin sebuah tim, proyek, dan hubungan antar tim


Kesimpulan yang dapat diambil dari perbedaan antara pemimpin biasa dan pemimpin digital adalah pemimpin digital merupakan pemimpin di masa depan yang diharapkan membawa keberhasilan bagi organisasinya di era yang dipenuhi ambiguitas.

Jika Anda tertarik dengan digital leadership Anda dapat mengambil kelas pelatihan digital leadership . Selain digital leadership Anda dapat mempelajari kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang digital leader

Prinsip Dasar Bagaimana Kabel Fiber Optic Bekerja

Pernahkah kita bertanya-tanya bagaimana manusia bisa berkomunikasi dan mengirimkan data ke penerima yang jaraknya bisa mencapai ribuan kilometer secara langsung? Tentu kita membayangkan bagaimana suara kita diubah menjadi gelombang elektromagnetik dan dihantarkan oleh muatan listrik melalui konduktor. Ok, mungkin bahasa kalian tidak serumit bahasa penulis yang kebingungan menerjemahkan bahasa visual ke bahasa verbal.

Telekomunikasi yang diawali oleh ditemukannya mesin telegraf hampir 200 tahun yang lalu tentunya sudah jauh berkembang bila dibandingkan saat ini. Kita tidak akan membahas bagaimana evolusi teknologi telekomunikasi dari awal hingga akhir tapi membahas peralihan teknologi dari coaxial cable ke fiber optics. Jika kita telah berlangganan internet rumahan dari  ISP (Internet Service Provider) plat merah sejak dari dulu pasti kita merasakan perbedaan kecepatan bandwidth. Hal ini disebabkan karena teknologi kabel yang digunakan beralih dari tembaga ke fiber optics.

Tidak hanya jenis bahan kabelnya saja yang berbeda tapi juga prinsip kerja juga berbeda antara kabel tembaga dan fiber optics. Setelah ini kita akan kembali mengulang pelajaran fisika saat di bangku sekolah dulu untuk membahas perbedaan prinsip kerja antara fiber optics dan kambel tembaga.

 

Prinsip Kerja Sinyal Melalui Kabel

Pada awal penggunaannya, internet sebenarnya menumpang teknologi telepon sebagai media untuk koneksinya. Data sebenarnya merupakan sinyal digital yang terdiri 0 atau 1, ada atau tak ada arus. Sinyal digital ini mirip dengan sinyal mesin telegraf yang menggunakan sandi morse. Bedanya kode morse yang dipakai mesin telegraf hanya menerjemahkan sinyal 1 (ada arus listrik) yang agak lama dan sinyal 1 yang agak pendek serta mengabaikan sinyal 0 (tidak ada arus listrik). Sementara itu, telepon merupakan alat yang dapat mengubah gelombang suara (longitudinal) menjadi gelombang elektromagnetik (transversal). Nah, gelombang elektromagnetik ini kemudian diboncengi muatan listrik sehingga dapat dihantarkan melalui konduktor dalam hal ini kabel tembaga.

Kita dapat mengirimkan data melalui koneksi telepon dengan mengubah sinyal digital menjadi sinyal analog. Proses ini dilakukan oleh alat yang disebut modem (modulator/demodulator). Bilangan biner 1 diubah menjadi tone tertentu seperti nada saat kita menekan tombol pada telepon.  Bagi yang pernah merasakan era internet dial-up tentu tahu suara apa yang akan kita dengar jika kita mengangkat telepon saat internet sedang digunakan. Lalu pada perkembangannya kita tetap dapat menggunakan telepon dan internet secara bersamaan karena frekuensi sinyalnya sudah dipisah.

Walau secara teori elektron dapat memiliki kecepatan yang hampir menyamai kecepatan cahaya, jika melewati medium seperti tembaga kekuatan gelombang elektromagnetik sering menjadi lemah apalagi jika ada gangguan dari radiasi gelombang elektromagnetik yang lain. Maka dari itu, setiap jarak beberapa kilometer tergantung ukuran kabel. Proses inilah yang membuat bandwidth kabel tembaga terbatas dan relatif memiliki latency yang tinggi.

 

Proses Kerja Fiber Optic

Einstein mengeluarkan teori bahwa tidak ada partikel yang memiliki massa di semesta ini yang dapat melebihi kecepatan cahaya. Inilah yang menjadi landasan dibuatnya fiber optic: mengganti elektron dengan photon (partikel cahaya) sebagai alat untuk mengirimkan data. Alasannya, karena photon lebih cepat daripada elektron . Photon juga tidak terganggu dengan radiasi elektromagnetik di sekitar media penghantarnya.

Sistem kerjanya hampir mirip jika kita terdampar di pulau antah berantah lalu mengirimkan pesan S.O.S kepada kapal yang lewat dengan senter yang kita miliki. Cuma bedanya fiber optic menggunakan inti (core) serat gelas/plastik dan dibungkus dengan lapisan pemantul cahaya (cladding). Melalui serat inilah sinar laser lalu ditembakkan. Kita pasti mengira bahwa cahaya laser tersebut pasti memiliki kecepatan cahaya tapi kenyataanya kecepatan cahaya yang melewati kabel fiber optic lebih rendah karena mediumnya berupa zat padat.

 

Prinsip Dasar Bagaimana Kabel Fiber Optic Bekerja 12

Bagian-bagian penyusun kabel fiber optic

 

Meskipun begitu lebar bandwidth dan latency fiber optic memiliki nilai yang lebih tinggi bila dibandingkan kabel tembaga. Hal ini juga disebabkan karena sinar laser di dalam fiber optic dapat menempuh 80-100 Km tanpa menggunakan amplifier. Bandingkan dengan kabel tembaga yang membutuhkan amplifier setiap jarak 30-300 meter.

Kekurangan fiber optic adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk infrastrukturnya. Kabel fiber optic juga memiliki sudut terbatas untuk dapat dibelokkan. Itulah mengapa untuk di dalam ruangan kabel ethernet Cat 5e lebih relevan untuk digunakan. Fiber optic akan relevan untuk digunakan sebagai infrastruktur LAN jika ruangan tersebut memiliki radiasi elektromagnetik yang tinggi seperti di pembangkit listrik.

 

*****

 

Itulah tadi prinsip dasar kerja kabel fiber optic yang sekarang ini menjadi tulang punggung infrastruktur koneksi internet yang digunakan oleh manusia. Jika profesi Anda menuntut untuk lebih mendalami pengetahuan tentang fiber optic secara menyeluruh, Anda dapat mengikuti pelatihan Fiber Optic For Beginner di Inixindo Jogja (silabus dapat dilihat di sini).