Seminar & Diskusi – Digital Leadership : Menyusun Strategi Menghadapi Era Transformasi Digital

Seminar & Diskusi – Digital Leadership : Menyusun Strategi Menghadapi Era Transformasi Digital

Disrupsi digital adalah sebuah tuntutan bagi sebuah organisasi atau perusahaan agar dapat bertahan di era digital yang sedang berlangsung saat ini. Start up baru berbasis teknologi bermunculan mengancam keberadaan bisnis yang sudah ada. Di bawah seorang pemimpin yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan digital (digital leadership),  bisnis atau organisasi yang dipimpinnya akan susah payah beradaptasi. Perubahan yang dilakukan pun terkesan latah karena sekedar ikut-ikutan membuat apps yang belum tentu terpakai.

Digital leadership adalah bekal bagi seorang pemimpin dan calon pemimpin agar bisa mengarahkan organisasi atau bisnis yang mereka pimpin untuk bertransformasi ke arah digital. Sebuah transformasi yang dapat disebut sebagai inovasi dan bukan sekedar ‘paksaan situasi’. Digital leadership juga dibutuhkan bagi mereka yang ingin mengembangkan bisnis di era revolusi industri 4.0 ini

Jika Anda ingin mengenal lebih dalam lagi tentang digital leadership dan bagaimana menyusun strategi dalam menghadapi digital transformasi, Anda bisa mengikuti seminar dan diskusi “Digital Leadership: Menyusun Strategi Menghadapi Era Transformasi Digital”. Ada 2 topik yang akan dibahas dalam seminar dan diskusi ini, yaitu:

  • Transformasi Digital
  • Business Model Canvas

Ikuti seminar dan diskusi “Digital Leadership: Menyusun Strategi Menghadapi Era Transformasi Digital” dengan mendaftarkan diri Anda terlebih dahulu!

This form does not exist

Biaya

Free (tempat terbatas)

DATE AND TIME

Kamis, 17 Januari 2019
14.00 WIB – Selesai

LOCATION

Eduparx – Inixindo Jogja
Jalan Kenari No 69 Yogyakarta
View Maps

2020 – Ready for Digital Transformation

Are you Ready?

Digital Transformation

Transformasi Digital akan mengubah banyak peran dan pekerjaan di semua aspek kehidupan mulai dari industri hingga pelayanan publik. Pengembangan Sumber Daya yang tanggap teknologi akan dilakukan setiap organisasi untuk beradaptasi.

2020 - Ready for Digital Transformation 1
2020 - Ready for Digital Transformation 2

Information Technology Infrastructure Library (ITIL) 4

ITIL 4 berfokus pada meningkatkan kolaborasi, memfasilitasi komunikasi di seluruh organisasi, dan integrasi Agile dan DevOps ke dalam strategi ITSM. ITIL 4 dirancang agar lebih fleksibel berfokus pada inovasi baru dan berdasarkan best practice.

20 -22 Januari 2020

2020 - Ready for Digital Transformation 3

Pengembangan Peta Proses Bisnis

Peta Proses Bisnis adalah diagram yang menggambarkan hubungan kerja yang efektif dan efisien antar unit organisasi atau rangkaian aktivitas dalam organisasai sehingga menjadikan rangakain proses pekerjaan tergambar dengan jelas. Proses secara sederhana dapat didefinisikan sebagai rangkaian aktivitas yang merubah input menjadi out put yang bernilai tambah bagi organisasi.

20 – 21 Februari 2020

2020 - Ready for Digital Transformation 4

GCIO (Government Chief Information Officer)

Pelajari bagaimana mengelola sebuah lembaga yang memanfaatkan teknologi informasi dengan efektif di masa transformasi digital dan pelayanan publik yang penuh dengan pemanfaatan teknologi.

16 – 18 Maret 2020

2020 - Ready for Digital Transformation 5

Building Web Application with Laravel

Laravel sekarang ini menjadi salah satu framework populer di dunia. Laravel mengubah pengembangan website menjadi lebih elegan, ekspresif dan menyenangkan, sesuai dengan jargonya “The PHP Framework For Web Artisans”

20 – 23 April 2020

2020 - Ready for Digital Transformation 6

Big Data with Hadoop

Big data menjadi kebutuhan pengelolaan data yang semakin hari semakin besar dan susah untuk dimanage. kebutuhan data semakin besar tentu perlu pengelolaan yang baik, hadoop merupakan salah satu solusinya.

11 – 14 Mei 2020

2020 - Ready for Digital Transformation 7

Data Science

Penggunaan data pada level selanjutnya setelah dikumpulkan adalah diolah menjadi sesuatu yang berguna bagi pertimbangan keputusan organisasi. Pada level ini kita akan fokus pada penggalian atau analisis prediktif suatu data untuk difilter dan ditemukan data yang benar agar menghasilkan suatu data yang akurat sesuai dengan data yang sebenarnya

22 – 25 Juni 2020

HP Tertinggal di Rumah? Jangan Panik, Whatsapp Web Solusinya

HP Tertinggal di Rumah? Jangan Panik, Whatsapp Web Solusinya

Bangun kesiangan, terburu-buru berangkat ke kantor, dan lupa membawa HP? Itu pengalaman saya beberapa hari yang lalu. Jarak rumah dan kantor yang cukup jauh membuat saya tidak bisa untuk pulang ke rumah dan mengambil HP. Beruntunglah kita hidup di zaman dengan...

Workshop : ONE DAY WITH IONIC

Workshop : ONE DAY WITH IONIC

Build Apps with Web Tech Anda bisa membuat website? Artinya Anda juga bisa membuat aplikasi mobile. Dengan IONIC, sebuah aplikasi mobile yang dibuat dengan bahasa HTML, CSS dan Javascript akan dapat diinstall di berbagai platform seperti Android, iOS, Blackberry,...

Cara Install Mikrotik OS di Router Board dengan NetInstall

Cara Install Mikrotik OS di Router Board dengan NetInstall

Pernah mengalami masalah dengan Mikrotik yang tidak bisa booting? Atau ingin melakukan upgrade RouterOS ke versi yang lebih baru? Saatnya butuh instalasi ulang RouterOS di Mikrotik Anda. Berikut adalah tutorial untuk instalasi RouterOS di Mikrotik yang memiliki serial...

Menjadi GCIO yang Efektif dan Kompeten bagi Aparatur Daerah

Permasalahan pada aspek perencanaan dan pengendalian penggunaan TIK untuk lembaga pemerintahan dan berbagai tantangan ke depan di bidang e-Government memerlukan adanya keseragaman pemahaman dan keterampilan Government Chief Information Officer (GCIO) agar seluruh...

Informasi & Registrasi, Hubungi Kami.

Info & Registrasi

Jalan Kenari 69 Yogyakarta.
+62 274 515448 / 0274 515448
sales@inixindojogja.co.id

Bertahan di Era Digital: Digital Leadership

Dalam artikel yang ditulis beberapa hari yang lalu, kita telah membahas tentang apa yang menyebabkan terjadinya transformasi digital (digital transformation) yang bisa juga disebut sebagai revolusi industri 4.0. Dalam artikel tersebut juga disebutkan bagaimana digital skill mutlak dibutuhkan bagi setiap perangkat organisasi/perusahaan jika organisasi/perusahaan tersebut ingin bertahan hidup di era digital ini.

Kali ini kita akan membahas tentang digital leadership sebagai komponen digital skill terpenting sebagai penunjang transformasi digital. Kenapa digital leadership menjadi komponen terpenting? Jawabannya tentu saja karena setiap keputusan dalam sebuah organisasi/perusahaan datang dari pemimpinnya. Bagaimana organisasi/perusahaan mau melakukan transformasi digital jika pemimpinnya saja masih belum melek digital. Jika diibaratkan proses transformasi digital adalah sebuah proses memasak, digital leadership dapat diibaratkan sebagai kompornya.

Meskipun begitu, di era disrupsi digital ini konsep pemimpin sebagai seorang jenderal yang duduk di belakang meja tidak lagi relevan. Perusahaan pioner transformasi digital seperti Google dan Lyft justru mencari pemimpin yang bisa dan mau turun tangan langsung, saling melengkapi dan berfungsi sebagai sebuah tim. Selain kemampuan untuk memimpin sebuah tim, para pemimpin ini dituntut untuk bisa membangun tim dari awal, menjadi perantara antar anggota tim, serta menuntun tim untuk memiliki budaya inovatif, mau belajar, dan terus melakukan peningkatan secara terus menerus. Memang terdengar agak klise dan hampir sama dengan pemimpin ideal di era sebelum transformasi digital terjadi tapi kita akan tahu apa saja perbedaannya di dalam artikel ini.

Pemimpin Digital Adalah Pemimpin Yang Memiliki Latar Belakang  IT?

Walaupun para pemimpin perusahaan pioner transformasi digital seperti Mark Zuckerberg, Larry Page, dan Travis Kalanick memiliki latar belakang pendidikan di bidang teknologi informasi ataupun ilmu komputer tak sedikit pula dari para pioner transformasi digital yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan TI ataupun komputer. Salah satu contohnya adalah Jeff Bezos yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang bisnis.

Yang dimaksud dengan digital leader di sini bukanlah seseorang yang ahli dalam pemrograman komputer atau seorang engineer. Digital leader adalah seseorang yang mampu memanfaatkan teknologi informasi untuk mencapai tujuan suatu organisasi atau bisnis. Beberapa tahun yang lalu kita pernah mendengar nama posisi CIO (Chief Information Officer) yang selalu dipasrahi tanggung jawab segala sesuatu yang berhubungan dengan IT. CIO inilah merupakan satu-satunya digital leader saat sebelum transformasi digital terjadi walaupun saat itu CIO lebih sering berurusan dengan hal-hal teknis seperti server, desktop, dan kabel LAN. Bahkan tidak jarang para staff di perusahaan yang menyebut CIO sebagai “box and wire jockey” semacam DJ yang memainkan router dan kabel alih-alih turntable.

Di era transformasi digital ini semua pemimpin dan staff dituntut untuk memiliki kemampuan untuk menjadi seorang digital leader yang mana mereka memiliki satu goal yang sama yaitu membawa organisasi atau bisnis yang dia pimpin untuk melakukan transformasi digital yang tidak hanya merupakan peralihan teknologi saja tapi juga aspek lain seperti transformasi kognitif, perilaku, dan emosi. Untuk itu, digital leader harus bisa berpikir, mengambil tindakan, dan bereaksi secara berbeda

Cognitive
Transformation
(Berpikir secara berbeda)
Behavioral
Transformation
(Bertindak secara berbeda)
Emotional
Transformation
(Bereaksi secara berbeda)
Membuat konsep tentang segala kemungkinan di dunia digital Beradaptasi dengan penguasa dan orang yang berpengaruh yang silih berganti Bertoleransi terhadap lingkungan yang penuh resiko dan ketidakjelasan
Menemukan cara untuk menangani kompleksnya pemikiran yang semakin meningkat Berkolaborasi dengan tim yang berbeda dengan latar belakang yang berbeda pula Tenang dan siap dalam menghadapi perubahan yang selalu terjadi
Mengambil keputusan secara cepat walaupun jika kita tidak mempunyai informasi Memberikan banyak energi untuk sebuah keberhasilan (coba – gagal – coba lagi) Memiliki kepercayaan diri untuk memimpin dan mendorong adanya perubahan

Pemimpin Saja Atau Pemimpin Digital?

Sampai di sini, kita telah banyak membahas tentang apa itu pemimpin digital. Dari pembahasan tersebut mungkin banyak yang bertanya “Loh, itu kan memang kriteria ideal pemimpin pada umumnya? Kenapa harus disebut sebagai pemimpin digital?”

Yang membedakan sebutan antara pemimpin biasa dan pemimpin digital selain masalah visi tentang teknologi adalah ‘aturan main’ dari kepemimpinan itu sendiri. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

‘Just’ Leader Digital Leader
Pemimpin dipilih dan diidentifikasi berdasarkan pengalaman, senioritas, dan performa kerja. Pemimpin dipilih dan diidentifikasi berdasarkan agility, kreativitas, dan kemampuan untuk menjembatani beberapa tim yang ada dalam organisasi.
Pemimpin harus memulai dari bawah dan perlahan-lahan menuju ke atas seperti menaiki tangga. Bisa menjadi pemimpin sejak dini dan mengembangkan jiwa kepemimpinan mereka sambil jalan.
Pemimpin diharapkan tahu apa yang akan dia lakukan dan membawa penilaian serta pengalamannya dalam menghadapi tantangan bisnis. Pemimpin diharapkan berinovasi, kolaborasi, dan menggunakan metode ‘client teams’, crowdsourcing, ataupun hackathon untuk menemukan solusi yang benar-benar baru.
Pemimpin dinilai dan dibentuk dari perilaku dan gaya kepemimpinan. Pemimpin dinilai dan dibentuk oleh pola pikir, dan kemampuan dalam memecahkan masalah.
Pemimpin memimpin organisasi dan fungsi. Pemimpin memimpin sebuah tim, proyek, dan hubungan antar tim


Kesimpulan yang dapat diambil dari perbedaan antara pemimpin biasa dan pemimpin digital adalah pemimpin digital merupakan pemimpin di masa depan yang diharapkan membawa keberhasilan bagi organisasinya di era yang dipenuhi ambiguitas.

Jika Anda tertarik dengan digital leadership Anda dapat mengambil kelas pelatihan digital leadership . Selain digital leadership Anda dapat mempelajari kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang digital leader

Prinsip Dasar Bagaimana Kabel Fiber Optic Bekerja

Pernahkah kita bertanya-tanya bagaimana manusia bisa berkomunikasi dan mengirimkan data ke penerima yang jaraknya bisa mencapai ribuan kilometer secara langsung? Tentu kita membayangkan bagaimana suara kita diubah menjadi gelombang elektromagnetik dan dihantarkan oleh muatan listrik melalui konduktor. Ok, mungkin bahasa kalian tidak serumit bahasa penulis yang kebingungan menerjemahkan bahasa visual ke bahasa verbal.

Telekomunikasi yang diawali oleh ditemukannya mesin telegraf hampir 200 tahun yang lalu tentunya sudah jauh berkembang bila dibandingkan saat ini. Kita tidak akan membahas bagaimana evolusi teknologi telekomunikasi dari awal hingga akhir tapi membahas peralihan teknologi dari coaxial cable ke fiber optics. Jika kita telah berlangganan internet rumahan dari  ISP (Internet Service Provider) plat merah sejak dari dulu pasti kita merasakan perbedaan kecepatan bandwidth. Hal ini disebabkan karena teknologi kabel yang digunakan beralih dari tembaga ke fiber optics.

Tidak hanya jenis bahan kabelnya saja yang berbeda tapi juga prinsip kerja juga berbeda antara kabel tembaga dan fiber optics. Setelah ini kita akan kembali mengulang pelajaran fisika saat di bangku sekolah dulu untuk membahas perbedaan prinsip kerja antara fiber optics dan kambel tembaga.

 

Prinsip Kerja Sinyal Melalui Kabel

Pada awal penggunaannya, internet sebenarnya menumpang teknologi telepon sebagai media untuk koneksinya. Data sebenarnya merupakan sinyal digital yang terdiri 0 atau 1, ada atau tak ada arus. Sinyal digital ini mirip dengan sinyal mesin telegraf yang menggunakan sandi morse. Bedanya kode morse yang dipakai mesin telegraf hanya menerjemahkan sinyal 1 (ada arus listrik) yang agak lama dan sinyal 1 yang agak pendek serta mengabaikan sinyal 0 (tidak ada arus listrik). Sementara itu, telepon merupakan alat yang dapat mengubah gelombang suara (longitudinal) menjadi gelombang elektromagnetik (transversal). Nah, gelombang elektromagnetik ini kemudian diboncengi muatan listrik sehingga dapat dihantarkan melalui konduktor dalam hal ini kabel tembaga.

Kita dapat mengirimkan data melalui koneksi telepon dengan mengubah sinyal digital menjadi sinyal analog. Proses ini dilakukan oleh alat yang disebut modem (modulator/demodulator). Bilangan biner 1 diubah menjadi tone tertentu seperti nada saat kita menekan tombol pada telepon.  Bagi yang pernah merasakan era internet dial-up tentu tahu suara apa yang akan kita dengar jika kita mengangkat telepon saat internet sedang digunakan. Lalu pada perkembangannya kita tetap dapat menggunakan telepon dan internet secara bersamaan karena frekuensi sinyalnya sudah dipisah.

Walau secara teori elektron dapat memiliki kecepatan yang hampir menyamai kecepatan cahaya, jika melewati medium seperti tembaga kekuatan gelombang elektromagnetik sering menjadi lemah apalagi jika ada gangguan dari radiasi gelombang elektromagnetik yang lain. Maka dari itu, setiap jarak beberapa kilometer tergantung ukuran kabel. Proses inilah yang membuat bandwidth kabel tembaga terbatas dan relatif memiliki latency yang tinggi.

 

Proses Kerja Fiber Optic

Einstein mengeluarkan teori bahwa tidak ada partikel yang memiliki massa di semesta ini yang dapat melebihi kecepatan cahaya. Inilah yang menjadi landasan dibuatnya fiber optic: mengganti elektron dengan photon (partikel cahaya) sebagai alat untuk mengirimkan data. Alasannya, karena photon lebih cepat daripada elektron . Photon juga tidak terganggu dengan radiasi elektromagnetik di sekitar media penghantarnya.

Sistem kerjanya hampir mirip jika kita terdampar di pulau antah berantah lalu mengirimkan pesan S.O.S kepada kapal yang lewat dengan senter yang kita miliki. Cuma bedanya fiber optic menggunakan inti (core) serat gelas/plastik dan dibungkus dengan lapisan pemantul cahaya (cladding). Melalui serat inilah sinar laser lalu ditembakkan. Kita pasti mengira bahwa cahaya laser tersebut pasti memiliki kecepatan cahaya tapi kenyataanya kecepatan cahaya yang melewati kabel fiber optic lebih rendah karena mediumnya berupa zat padat.

 

Prinsip Dasar Bagaimana Kabel Fiber Optic Bekerja 8

Bagian-bagian penyusun kabel fiber optic

 

Meskipun begitu lebar bandwidth dan latency fiber optic memiliki nilai yang lebih tinggi bila dibandingkan kabel tembaga. Hal ini juga disebabkan karena sinar laser di dalam fiber optic dapat menempuh 80-100 Km tanpa menggunakan amplifier. Bandingkan dengan kabel tembaga yang membutuhkan amplifier setiap jarak 30-300 meter.

Kekurangan fiber optic adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk infrastrukturnya. Kabel fiber optic juga memiliki sudut terbatas untuk dapat dibelokkan. Itulah mengapa untuk di dalam ruangan kabel ethernet Cat 5e lebih relevan untuk digunakan. Fiber optic akan relevan untuk digunakan sebagai infrastruktur LAN jika ruangan tersebut memiliki radiasi elektromagnetik yang tinggi seperti di pembangkit listrik.

 

*****

 

Itulah tadi prinsip dasar kerja kabel fiber optic yang sekarang ini menjadi tulang punggung infrastruktur koneksi internet yang digunakan oleh manusia. Jika profesi Anda menuntut untuk lebih mendalami pengetahuan tentang fiber optic secara menyeluruh, Anda dapat mengikuti pelatihan Fiber Optic For Beginner di Inixindo Jogja (silabus dapat dilihat di sini).

App Development Dengan Menggunakan Docker

App Development Dengan Menggunakan Docker

Container merupakan sebuah unit software yang telah distandarisasi, sedangkan Docker merupakan sebuah layanan pengelolaan container. Prinsip dari Docker adalah “develop, ship and run anywhere.” Ide dari docker adalah supaya developer dapat dengan mudah membangun aplikasi, meletakkan di dalam container, dan men-deploy-nya dimanapun.

Peluncuran docker di tahun 2013 menyebabkan revolusi dalam bidang pengembangan aplikasi – dengan membentuk demokratisasi software container, Docker membangun teknologi container Linux – yang portable, fleksibel, dan mudah untuk dikembangkan.

Pada Comday minggu ini, akan diperkenalkan apa itu container, komponen dari docker, dan bagaimana membangun website berbasis wordpress dengan menggunakan server apache dan mysql container image dengan mudah.Acara ini gratis dan terbuka bagi siapa saja yang berkecimpung atau tertarik dalam pengembangan aplikasi.

 

This form does not exist

Biaya

Free (tempat terbatas)

DATE AND TIME

Kamis, 13 Desember 2018
14.00 WIB – Selesai

LOCATION

Eduparx – Inixindo Jogja
Jalan Kenari No 69 Yogyakarta
View Maps