Menuju Digitalisasi Pemerintah melalui SPBE

Untuk mewujudkan digitalisasi pemerintah yang berdasarkan Peraturan Presiden No. 95 tahun 2018 tentang pelaksanaan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Perlu didukung dengan sinergitas antara SPBE, Indeks KAMI (Keamanan Informasi) dan Smart City. SPBE yang dimaksud adalah program pemerintah dalam memberikan layanan kepada masyarakat luas dengan memanfaatkan teknologi informasi. Lalu smart city, pemanfaatan teknologi sebagai enabler untuk mewujudkan kota/daerah yang layak huni, nyaman, aman, sehat dan berkelanjutan berbasis pada inovasi.

“Kondisi saat ini data pemerintah itu tersebar dimana-mana, disimpan dengan teknologi yang berbeda bisa jadi dalam bentuk yang belum bersifat ‘elektronik’. Data tersebut hanya disimpan untuk pengawasan saja namun tidak dipergunakan dengan baik” ujar Andi Yuniantoro, Direktur Inixindo Jogja dalam Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Dinas Kominfo Se-Provinsi Kalimantan Tengah di Kota Palangkaraya (25/7)

Lalu apa yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk menuju digitalisasi yang sesuai dengan Perpres? Pertama, data harus tersambung dan terintegrasi dari seluruh sumber data pemerintahan yang ada (seluruh OPD). Kedua, memanfaatkan data tersebut untuk memecahkan masalah yang ada di pemerintahan menggunakan kecerdasan buatan yakni machine learning. Ketiga, para pimpinan dan Aparatur Sipil Negara (ASN) dapat mengambil tindakan dan kebijakan yang tepat dan cepat, Imbuh pria yang akrab disapa Andi.

 

***

SIAP Transformasi Digital : Katalis Penerapan SPBE dan Smart City di Daerah

SIAP Transformasi Digital : Katalis Penerapan SPBE dan Smart City di Daerah 1

SIAP Transformasi Digital : Katalis Penerapan SPBE dan Smart City di Daerah

 

Arah revolusi industri 4.0 sudah jelas dan tak ada orang yang meragukan, yaitu ke arah transformasi digital. Tapi apakah transformasi digital hanya terjadi di sektor industri dan bisnis saja? Tentu saja tidak. Di saat orang merasakan kemudahan yang didapat dari transformasi digital di sektor industri dan bisnis, tentu mereka berharap kemudahan bisa dinikmati di sektor lain seperti layanan publik. Oleh karena itu, transformasi digital juga perlu dilakukan pada pemerintah terutama pemerintah daerah yang lebih dekat dengan masyarakat.

 

Smart City

Sebuah konsep kota ke arah transformasi digital sebenarnya sudah ada sejak satu dekade terakhir. Terminologi smart city sendiri adalah sebuah kawasan urban yang menggunakan IoT (internet of things) untuk mengumpulkan data kemudian menggunakan data tersebut untuk mengelola aset dan sumber daya yang ada kawasan tersebut secara efisien. Konsep smart city lekat dengan sebuah integrasi ICT (information and communication) yang tentunya sesuai dengan karakter sebuah transformasi digital.

Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PUPR, Bappenas dan Kantor Staf Kepresidenan sebenarnya sudah mencanangkan program “Gerakan 100 Smart City” sejak beberapa tahun yang lalu. Gerakan smart city ini bertujuan untuk membimbing Kabupaten/Kota dalam menyusun masterplan smart city agar bisa memaksimalkan pemanfaatan teknologi, baik dalam meningkatkan pelayanan masyarakat maupun mengakselerasikan potensi yang ada di masing-masing daerah.

Ada 6 sektor yang harus dipenuhi demi terwujudnya sebuah konsep smart city di Indonesia secara menyeluruh yaitu smart governance, smart economy, smart society, smart environment, smart living, dan smart branding. Dalam ekosistem smart city sendiri tujuan utama smart city adalah terciptanya masyarakat yang nyaman, aman, tertib, bahagia, pintar dan sejahtera sehingga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah menjadi tinggi.

 

Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE)

Selain “Gerakan 100 Smart City”, arah kebijakan Pemerintah Republik Indonesia melalui Perpres No 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) juga sangat mendukung adanya transformasi digital di semua instansi pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Tujuan dari Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik ini adalah mewujudkan  tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, transparan, dan akuntabel serta pelayanan publik yang berkualitas dan terpercaya. Dalam Peraturan Presiden tersebut, penerapan SPBE ini melibatkan berbagai instansi dari beberapa kementerian dan badan pemerintah seperti Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kementerian Keuangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Menteri PPN/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Keterlibatan beberapa instansi dan lembaga pemerintahan ini tentunya menunjukkan keseriusan Pemerintah Republik Indonesia dalam melaksanakan transformasi digital. Akan tetapi di sisi lain, banyaknya pihak yang terlibat dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru seperti langkah-langkah apa yang harus dilakukan, siapkah sumber daya manusia di instansi pelaksana SPBE, apa saja infrastruktur yang harus disiapkan dalam transformasi digital, bagaimana koordinasi antar lembaga tersebut. Hal-hal tersebutlah yang sering ditanyakan oleh instansi dan dinas pemerintah pelaksana SPBE di daerah. Belum lagi pertanyaan mana yang harus diprioritaskan antara smart city dan SPBE demi terwujudnya sebuah transformasi digital di pemerintahan. 

 

SIAP Transformasi Digital

Pada tanggal 18 Juli 2019 Inixindo Jogja yang didukung Blue Power Technology, Indosat Ooredoo Business, dan Nikola Indonesia Group menyelenggarakan acara yang bertajuk “SIAP (Step-by-step Integrated Action Pemerintah Daerah) Transformasi Digital.” Acara yang bertempat di Yogyakarta Marriot Hotel ini memiliki konsep utama QnA (question and answer) dimana peserta dari Diskominfo, Bappeda, dan Badan Keuangan Daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota masing-masing dapat bertanya lewat aplikasi web yang telah disediakan di acara SIAP Transformasi Digital. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh pembicara yaitu Imam Machdi dari Kemen PAN/RB, Irwan Rawal Husdi dari BPPT, Agung Nugraha dari BSSN, Andi Yuniantoro dari Inixindo Jogja, dan Filindo Iskandar dari Blue Power Technology. 

Selain sesi QnA, dalam acara SIAP Transformasi Digital ini juga terdapat dua workshop yang berjalan secara bersamaan. Sesi workshop ini membagi peserta SIAP Transformasi Digital menjadi dua untuk mengikuti Workshop Smart City & Smart Province serta Workshop SPBE & Keamanan Informasi. Untuk melepas penat sebelum acara workshop dimulai peserta di dua ruang mengikuti games interactive Kahoot secara terpisah dengan hadiah yang cukup menarik bagi pemenang di setiap ruang.

Dalam Workshop Smart City & Smart Province peserta melakukan asesmen online tentang kesiapan smart city di daerah masing-masing. Peserta di workshop ini juga mendapatkan bank layanan smart city. Setelah itu, workshop kemudian diisi oleh Blue Power Technology yang memberikan penjelasan tentang bagaimana cara yang harus ditempuh untuk mengakselerasi program smart city di masing-masing daerah. Blue Power Technology juga memberikan materi tentang “leverage communication with smart citizen” dan monitoring pajak daerah.

Sedangkan dalam Workshop SPBE & Keamanan Informasi, peserta melakukan asesmen online SPBE dan indeks KAMI (Keamanan Informasi). Di workshop ini, peserta mendapatkan penjelasan dari Indosat Ooredoo Business tentang Internet of Things (IoT) dan macam-macam digital services. Selain dari Indosat Ooredoo Business, peserta juga mendapatkan materi dari Honeynet Project yang memberikan demo untuk mendeteksi serangan cyber yang sering terjadi pada website pemerintah daerah.

Di akhir acara, peserta kembali berkumpul untuk dalam satu ruangan untuk mengikuti undian grand prize.

 

Extended Session

Acara SIAP Transformasi Digital pada awalnya dijadwalkan dihadiri oleh Bambang Dwi Anggono selaku Direktur Layanan Aplikasi Informatika Pemerintahan Kementerian Komunikasi dan Informatika tapi karena berhalangan hadir pada tanggal 18 Juli, akhirnya pria yang akrab disapa Pak Ibeng datang ke kantor Inixindo Jogja pada tanggal 19 Juli 2019 pada acara demo command center untuk memberikan paparan kepada peserta SIAP Transformasi Digital tentang smart city dan integrasi aplikasi.

Dalam kesempatan kali ini, Pak Ibenk menyampaikan bahwa smart city bukan sekedar e-gov, branding, atau belanja TIK saja. Komponen yang penting adalah smart society (people) dimana usaha untuk mewujudkan smart city akan sia-sia tanpa didukung oleh manusia yang ‘pintar’. Selain itu, Pak Ibenk juga menyampaikan bahwa SPBE merupakan upaya pemerintah pusat untuk mempercepat terwujudnya smart city di Indonesia.

SIAP Transformasi Digital : Katalis Penerapan SPBE dan Smart City di Daerah 2 SIAP Transformasi Digital : Katalis Penerapan SPBE dan Smart City di Daerah 3

Melalui SPBE yang ditunjang dengan Satu Data Indonesia (SDI), pemerintah dapat melakukan efisiensi anggaran untuk pengadaan aplikasi karena aplikasi akan disediakan oleh pemerintah pusat. Walaupun begitu, hal tersebut tidak menghalangi inovasi-inovasi yang mungkin akan dilakukan oleh pemerintah daerah. Aplikasi yang disediakan oleh pemerintah pusat hanya berupa engine sehingga pemerintah daerah dapat mengembangkan aplikasi sesuai kebutuhan di daerah masing-masing.

Acara ini ditutup dengan demo command center oleh Blue Power Technology. Demo ini menunjukkan bagaimana command center dengan IoT (internet of things) dapat mengetahui situasi suatu kota dan dapat memegang kendali atas fasilitas publik seperti lampu jalan.

 

***

 

#Comday Progressive Web Apps (PWA) – Sebuah Standar Teknologi Web Masa Kini

#Comday Progressive Web Apps (PWA) - Sebuah Standar Teknologi Web Masa Kini 4

#Comday Progressive Web Apps (PWA) – Sebuah Standar Teknologi Web Masa Kini

Beberapa tahun yang lalu kita mengenal istilah responsive website yang dianggap sebagai sebuah pencapaian atau achievement oleh para web developer di kala itu. Waktu berlalu dan istilah responsive website sudah bukan sesuatu yang bersifat ‘nice to have’ lagi tapi sudah menjadi kewajiban bagi suatu website. Website kini telah pelan-pelan bertransformasi menjadi sebuah web app dengan fitur segudang. Di dunia web app sendiri telah dikenal standar baru yang disebut Progressive Web Application (PWA) yang diperkenalkan oleh Google. Progressive Web Application merupakan sebuah web application yang memberikan pengalaman seperti membuka native application kepada para penggunanya di smartphone masing-masing.

PWA menggunakan service worker yang dapat menyimpan cache suatu web app di dalam perangkat sehingga walaupun koneksi internet perangkat tersebut terputus, web application yang telah disimpan dapat dibuka. PWA juga dapat mengakses push notification yang ada di dalam perangkat. Hal ini tentunya dapat dimanfaatkan oleh para developer untuk menyampaikan informasi jika ada update terbaru kepada para penggunanya secara real time. Selain itu, PWA juga memungkinkan sebuah web application untuk mengakses sensor yang ada di dalam perangkat mobile seperti GPS.

Ingin tahu lebih dalam apa yang membedakan progressive web application (PWA) dengan aplikasi web biasa? Penasaran dengan teknologi apa saja yang berada di belakang PWA? Yuk, ikutan Community Day dengan tema Progressive Web Apps (PWA): Sebuah Standar Teknologi Web Masa Kini.

Dalam Comday kali ini, akan ada workshop dan code demo tentang aplikasi web yang membutuhkan akses geolocation dari smartphone. Kami menyarankan agar peserta membawa laptop (Windows, Linux, atau MacOS) sendiri dengan beberapa tools yang sudah terinstal seperti:

  • Node.JS
  • Chrome versi terbaru (versi 60 ke atas)
  • Text editor seperti Sublime, VS Code, Atom, dll.
  • Web Server (http-server dari NodeJS)

Biaya

Free (tempat terbatas)

DATE AND TIME

Kamis, 25 Juli 2019
14.00 WIB – Selesai

LOCATION

Eduparx – Inixindo Jogja
Jalan Kenari No 69 Yogyakarta
View Maps

This form does not exist

Berkenalan Dengan Julia, Bahasa Pemrograman Berperforma Tinggi Tapi Mudah Dipelajari

Bulan Juli telah tiba. Mungkin di bulan ini kita akan sibuk mengucapkan ulang tahun kepada teman yang bernama Yuli, Yulia, Julia, atau Yulianto. Omong-omong tentang Julia, ada bahasa pemrograman dengan nama tersebut dan bisa dibilang masih lucu-lucunya karena belum genap berumur setahun sejak stable release versi 1.0 pada Agustus 2018. Yup! Secara de facto Julia lahir di bulan Agustus. Mungkin seharusnya para kreator Julia mulai memikirkan untuk mengganti nama Julia menjadi Agus.

Julia merupakan bahasa pemrograman umum (general purpose) level atas (high level) yang dikembangkan oleh tim dari MIT (Massachusetts Institutes of Technology). Walaupun belum genap setahun, komunitas Julia berkembang secara eksponensial. Pada Januari 2019 saja, Julia telah mencapai 3,2 juta unduhan dan lebih dari 1 juta Docker image dari Julia tersebar di seantero dunia.

 

Latar Belakang Diciptakannya Julia

Julia lahir dari tangan Jeff Bezanson, Stefan Karpinski, Viral B. Shah, dan Alan Edelman. Mereka adalah para ilmuwan komputer di MIT yang memiliki cita-cita menciptakan bahasa pemrograman high-level tapi dengan performa yang cepat untuk siapa saja. Pada tahun 2012, mereka merilis website untuk memberi kabar kepada dunia tentang misi mereka kepada dunia. Julia sendiri sudah rilis di tahun yang sama semenjak para kreator merilis website-nya tapi versi yang dirilis pada saat itu masih merupakan versi alfa dan beta. Sintaks pada versi sebelum versi 1.0 masih sering berubah-ubah sehingga jauh dari kata stabil.

Jika ditanya kenapa memilih nama ‘Julia’, para kreator tersebut hanya memberikan jawaban diplomatis, “Tak ada alasan khusus dalam memberi nama. Kami hanya menerima usulan dari teman kami dan menurut kami itu nama yang cantik.” 

Julia lahir karena para kreator ingin memecahkan masalah klasik yang dialami oleh para programmer. Saat memilih bahasa pemrograman, para programmer selalu dihadapkan pada situasi di mana mereka harus memilih salah satu saja antara performa yang dimiliki oleh bahasa pemrograman low-level atau kemudahan yang ditawarkan oleh bahasa pemrograman high-level.

Edelmen melakukan pengamatan yang dilakukan di organisasi besar bahwa seringkali pengembangan software dilakukan dengan menggunakan bahasa pemrograman high-level di tahap awal kemudian organisasi tersebut kemudian merekrut tim lain untuk menulis ulang kode software-nya dengan bahasa pemrograman low level. Menurutnya, metode ini sangat tidak efektif karena harus memulai siklus baru. Itulah sebabnya dia dan teman-temannya menciptakan Julia.

 

Apa yang Membuat Julia Berbeda

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Julia adalah bahasa pemrograman high-level dengan performa yang dapat menyaingi bahasa pemrograman low level. Julia disebut-sebut sebagai bahasa pemrograman yang memiliki kecepatan seperti C dengan kemudahan seperti Python, dinamis seperti Ruby, kemampuan matematika yang hebat seperti MatLab, dan keahlian statistik seperti R. Memang janji ini terkesan sedikit utopis, akan tetapi dengan angka popularitas Julia yang naik dengan cepat agaknya sebagian besar janji ini berhasil ditepati. 

Julia memang bahasa pemrograman yang dapat digunakan untuk keperluan apapun, akan tetapi para kreator dari Julia mengatakan bahwa Julia lebih menyasar ilmuwan. Dengan performanya yang tinggi, Julia diharapkan dapat membantu para ilmuwan untuk melakukan analitik big data, melakukan penelitian yang memiliki komputasi tinggi untuk penelitian ilmiah, serta simulasi desain rekayasa.

Sama seperti Python dan JavaScript yang populer belakangan ini, Julia merupakan bahasa pemrograman multi-paradigma yang berarti bisa digunakan untuk pemrograman object-oriented maupun pemrograman fungsional. Selain itu, bahasa pemrograman ini juga mendukung penggunaan multi-thread dan multi-core pada CPU secara built-in baik itu dalam sebuah chip ataupun dalam sebuah sistem yang memiliki banyak chip. Ke depannya para kreator dari Julia akan meningkatkan kemampuan Julia dalam menggunakan berbagai macam jenis core seperti Graphic Processing Unit (GPU) dan Tensor Processing Unit (TPU) milik Google. Tentu hal ini akan membantu performa Julia dalam pengembangan AI maupun visualisasi big data.

Core yang ada dalam Julia sendiri menggunakan bahasa C dan C++ dalam LLVM-nya. Yup! Feel dari Julia seperti scripting language yang menggunakan JIT compiler. Akan tetapi, Julia dapat juga di-compile ke berbagai kode natif bahasa pemrograman low-level.

 

Syntax Julia Mirip Dengan Python

Karakter syntax yang digunakan dalam Julia sangat sederhana dan memang dirancang untuk keperluan matematis. Hal ini tentu saja mengingatkan kita dengan bahasa pemrograman Python. Berikut beberapa contoh syntax yang digunakan dalam Julia:

 

1 + 1      # => 2
8 1      # => 7
10 * 2     # => 20
35 / 5     # => 7.0
10 / 2     # => 5.0  
div(5, 2# => 2    
5 \ 35     # => 7.0
2^2        # => 4
12 % 10    # => 2


# Contoh variabel
someVar = 5
if someVar > 10
    println(“someVar is totally bigger than 10.”)
elseif someVar < 10    # Klausa ini opsional
    println(“someVar is smaller than 10.”)
else                    # Klausa ini juga optional.
    println(“someVar is indeed 10.”)
end
# => Mengeluarkan “some var is smaller than 10”


# Membuat fungsi
function add(x, y)
    println(“x is $x and y is $y”)
    x + y
end
add(5, 6)
# => x is 5 and y is 6
# => 11

Untuk dokumentasi lebih lengkapnya,bisa dilihat di situs Julia Programming

 

***

Itulah tadi sekilas tentang bahasa pemrograman baru Julia. Kepopuleran Julia yang langsung meningkat drastis mungkin saja disebabkan oleh semakin umumnya pemakaian machine learning hampir di semua industri. Dengan fitur-fitur yang dimiliki dan yang sedang dikembangkan oleh Julia, bukan tidak mungkin jika Julia juga bisa digunakan untuk game development sehingga game dapat memanfaatkan pemrograman multi-threded secara efisien.

Comday Recap : Pengenalan Pemrograman R dalam Machine Learning

Sebagian besar orang awam menganggap bahwa mempelajari machine learning itu susah dan bikin pusing. Pandangan ini sepenuhnya benar tapi juga tidak sepenuhnya salah karena memang machine learning itu tidak sebatas membuat tapi juga menggunakan. Hal inilah yang coba disampaikan Umar Affandi dalam acara Community Day yang bertajuk “Pengenalan Pemrograman R dalam Machine Learning” pada Kamis, 4 Juli 2019.

Dalam acara ini, pria yang akrab disapa Mas Umar ini menjelaskan tentang proses-proses yang ada dalam data  science terutama pada machine learning. Mas umar juga menerangkan secara detil perbedaan antara algoritma machine learning dan aplikasi pada umumnya. Dalam aplikasi biasa, developer membuat algoritma yang berfungsi untuk menghasilkan output dari input yang user berikan. Sementara dalam machine learning, algoritma digunakan untuk menentukan fungsi dari data input dan output yang telah kita miliki. Dengan kata lain kita hanya memberikan fakta-fakta dan tugas machine learning adalah mencari korelasinya. Itulah kenapa machine learning selalu dihubungkan dengan big data agar tingkat akurasi machine learning semakin tinggi.

Selain penjelasan fundamental tentang data science, machine learning, dan big data, Mas Umar juga memberikan demo membangun machine learning dengan bahasa pemrograman R. Dalam demo ini Mas Umar menggunakan platform Azure. Bahasa pemrograman R digunakan dalam membuat model machine learning dalam Azure sehingga mematahkan mitos bahwa mengembangkan machine learning hanya bisa dilakukan oleh programmer yang sudah ahli.

Comday Recap : Pengenalan Pemrograman R dalam Machine Learning 5
Comday Recap : Pengenalan Pemrograman R dalam Machine Learning 6
Comday Recap : Pengenalan Pemrograman R dalam Machine Learning 7